inhale every moment

everything has it's inspiring story

Apa cara kita diajarkan tentang agama sudah benar?

Curhat colongan lagi.

Teman- teman saya, baik seorang wiraswasta inovatif, ataupun seorang mahasiswa filosofi, setuju, bila ingin membuat gaduh, ramai, sensasi di Indonesia, kaitkan saja dengan agama, pasti laku keras. Laku dengan pro kontra dari orang yang sangat merasa terganggu karena tidak “sesuai” dengan agama, walau kadang super duper kentara bahwa bahkan sang pembawa berita tidak netral/objektif. Contoh mudah, Post tentang Cafe Jamban di facebook,  Cafe Jamban, yang fotonya menampilkan ibu-ibu berjilbab makan dari “kuali” kloset jongkok, silahkan simak kolom-kolom komentarnya, berapa banyak yang membahas dari sisi aturan agama?

Sensitif sekali ya kita dengan “agama”? Fungsinya agama apakah? Bagaimanakah peran agama dalam membuat hidup Anda lebih baik? Apa Anda benar-benar dengan matang sudah memilih agama Anda?

Agama Islam di Jawa. Menurut seorang teman, kandidat PhD, dahulu kala, pengakuan seseorang warga Indonesia itu beragama islam, adalah untuk memisahkan diri dari yang lain-lain, seperti keberpihakan pada penjajah misalnya, sebagai pengakuan bahwa ia ingin tetap Indonesia. Menurut teman lainnya, Islam di Indonesia itu disebarkan oleh para pedagang, sehingga yang diajarkan berkisar pada “hitungan” pahala dosa, surga neraka, sehingga yang dicari hanyalah kuantitas ataupun reward / hadiah.

Agama Islam juga seharusnya tidak identik dengan Arab menurut saya. Tak bisa selalu berlindung dengan “Islam adalah dari Arab/ Arab Saudi / Mekkah” sehingga selalu menjadi acuan hingga ke seni budayanya –do you wanna include shisha?-. Personally, Saya lebih suka cara orang Australia mengantri ketimbang saat para jamaah di Mekkah berebut makanan saat pembagian makanan gratis. Yang perlu disadari adalah menghindari menghakimi terlalu cepat, ini baik itu buruk. Di Royal Family, keluarga kerajaan Saudi Arabia sekarang, Sang Puteri tak “menutup aurat” ataupun menggunakan abaya pada saat keluar dari negerinya. Katanya ia ingin mengubah pandangan masyarakat dunia tentang wanita di Saudi. https://www.quora.com/Why-is-Saudi-Arabian-Princess-Ameera-allowed-to-show-skin-but-other-Saudi-Arabian-women-arent –apakah juga berlaku juga bagi rakyatnya?-. Beruntung, di dunia internasional, wajah Islam tak melulu hanya merujuk kepada Arab / Timur Tengah tetapi juga kepada Indonesia –dengan jumlah penganut terbesar-, sehingga bisa dilihat lebih mudah sisi praktek beragama Islam yang berdasarkan pilihan pribadi masing-masing orang dan bukan peraturan pemerintah.

Saya jadi setuju kata Ustads Zakir Naik, bila ingin belajar agama, belajarlah dari kitab sucinya, bukan penganut agamanya.

Seorang teman saya sering mengeluhkan tentang efektifitas agama bagi kemajuan Indonesia. Apakah yang salah? Bila kita percaya bahwa agama Islam adalah yang terbaik, mengapa masyarakat kita bukanlah masyarakat terbaik? Saya menimpalinya dengan sotoy nya, mungkin karena pelajaran agama dan semua ceramah yang beredar berfokus pada perihal hubungan manusia dengan Tuhan, dan tak banyak tentang hubungan manusia dengan manusia.Atau simply karena agama hanya sebatas teori.

Coba deh hidup di negara maju, pasti, niscaya sebel banget sama kelakuan kebanyakan orang di Indonesia. Hal paling menjengkelkan nomor satu bagi saya adalah: BUANG SAMPAH SEMBARANGAN. Nomor dua: tertib ngantri (berlaku adil ndak korup) masih sulit. Yang jadi pertanyaan saya, mengapa tak bisa dihubungkan bahwa buang sampah sembarangan itu dosa? Atau dosa besar? Atau diberi label fatwa haram? Pernahkah dengar ceramah tentang jangan buang sampah sembarangan? Atau antrilah dengan baik? Bagaimana sih sebenarnya cara yang tepat “mengajari” orang Indonesia? Banjir sudah sering kan. Maksud saya, sampai kapan, kita merasa bahwa pengembangan karakter interpersonal itu kurang penting? Atau pada sesama makhluk bumi lainnya?

Misalnya, cara Ibu Elly Risman mengungkapkan tentang hubungan antar manusia, orang tua ke anak lalu menegaskannya dengan perintah-perintah agama. https://www.youtube.com/watch?v=z1Zturue5NA

*video di atas penting di simak bagi yang berminat punya anak*

Maksud saya sebenarnya adalah what if kita tidak menyempitkan makna berpraktek agama. Saya baru baca tentang bagaimana seseorang non muslim bisa tertarik masuk islam melalui perilaku seorang muslim –diluar ‘hidayah’- yang berdasarkan kebaikan hati yang tak lumrah, impossibly kind hearted, kemurahan hati yang luar biasa. Jadi Islam terpromosikan melalui praktek habluminannasnya. http://www.fimadani.com/kisah-keislaman-adik-ipar-pm-inggris/

Maksud saya, menghakimi itu seharusnya adalah hal yang sangat sulit. *tidak nyambung* Tak bisa kita bilang seseorang itu salah sedikit lalu dengan mudah kita simpulkan orang itu jahat. Tak bisa pula kita bilang seseorang itu benar, lalu dengan sekuat tenaga selalu kita bela. Berfatwa, menyimpulkan halal haram juga tidak bisa mudah.

Boleh banget tidak setuju dengan saya. Saya pun masih sangat penuh kekurangan.

Cimahi, sudah malam.

2 comments on “Apa cara kita diajarkan tentang agama sudah benar?

  1. Adhyatmika
    July 13, 2016

    Suka dengan cara pandangnya, Susan. Makasih tulisannya..🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on July 13, 2016 by in Uncategorized.
%d bloggers like this: