inhale every moment

everything has it's inspiring story

Muslimah Di Luar Negeri

-in pointers-

Maksud saya, ini pengalaman pribadi saya hidup di Australia, Melbourne. Saya muslimah. Saya berjilbab.

Hal-hal berbeda yang saya temui:

  1. Di daerah suburb, bukan pusat kota, bila bertemu sesama yang berjilbab, akan dengan mudah ukthi tersebut akan tersenyum dan menyapa, “Assalamualaikum.” Sedangkan, di pusat kota, hanya beberapa yang akan menyapa.
  2. Ketika salam cupaka-cupiki, pipi bertemu pipi, akan berjumlah 3 kali, jika berjumpa dengan muslimah dari Malaysia
  3. Siapa yang pakai mukena di sini? Hanya orang Indonesia dan Malaysia. Nama lain mukena adalah telekung. Suatu hari teman saya ikut terawih di masjid lokal. Katanya solatnya cepat dan hanya dia yang mengenakan mukena. Ada pula yang hanya memakai atasan mukena dan memakai celana tanpa alas kaki/kaos kaki.

See here, Islam is broad.

  1. Senang. Alhamdulillah, saya memiliki satu teman baik di kelas. Dia bukan muslim. Dia cantik, orang Tiongkok, tak yakin beragama apa. Ia sangat baik padaku tak seakrab siapapun lainnya di kelas. Ia mau menemaniku makan ditempat pilihanku yang ada makanan vegetarian atau halal.

Akan tiba saatnya seseorang menanyakan tentang islam, dan itu adalah teman baikku ini. “Apakah itu halal? Mengapa harus halal? Halal itu disembelih? Harusnya dikejut listrik agar matinya lebih tenang.”

Saya berhijab. Saya lebih suka memakai celana dan baju terusan (dress) hingga lutut. Temanku ini bertanya, “Do you need to cover your knees?”

  1. Manusia-manusia disini terbuka bajunya. Ada suatu saat dimana sekumpulan orang “hippie” merayakan sesuatu dengan bersepeda tanpa busana. Ada suatu saat dimana akan menemukan orang tanpa busana sambil berjemur, atau berpelukan berciuman di jalan, escalator, beda atau sama jenis. Nonton di atas jam 9 malam, perlu waspada, karena mudah sekali menemukan pornografi.
  2. Demo. Protes anti islam tentu ada. Ada pula demo kebalikannya. Say no to islamophobia.
  3. Memberi ceramah disini secara terang-terangan. Akan ada tempat promosi, semacam stand kecil yang membagikan leaflet, bible, dan penjelasan panjang lebar. Ada yang buat saya bingung, tulisannya, “Sharing Jesus with Muslims” apakah promosi agama kristen? Atau islam?
  4. Kadang dengan teman satu apartemen saya sering ditawari makan. Namun karena mereka dari negara yang cukup banyak muslimnya, saya cukup nyaman untuk bertanya, apa ada alcoholnya?
  5. Temanku yang orang Malaysia, buddhist, hanya bisa bahasa melayu dalam lagu Rasa Sayange. Orang Malaysia tahunya lagu itu milik mereka.
  6. Sholat, saya suka sholat sembarangan. Kadang di gudang, tangga darurat, di taman. Aplikasi digital pengingat sholat dan arah kiblat menjadi sangat diperlukan.
  7. Jadi, benar! Masjid, adzan itu adalah kemewahan. Tukang nasi goreng yang buka malam2, atau yang lewat apalagi, adalah luxury! Kadang magrib itu jam 9:30, sehingga malam terkadang menipu.
  8. “I am a muslim, but I don’t practice,” kata seorang teman bule dari Turki. Well, di Indonesia juga begitu bukan? Islam hanya di KTP. Pelaksanaan islamnya mungkin saat-saat tertentu. Tak salah juga jika kolom agama di KTP boleh dikosongkan. Mengapa memaksakan seseorang harus berstatus Islam, ketika ia tak merasa atau melakukan Islam.

Kadang, jadi pertanyaan, apa agama diperlukan? Negara ini, Australia, maju tanpa perlu agama.

*rasanya ini dulu*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: