inhale every moment

everything has it's inspiring story

Perubahan

 

Perubahan itu selalu terjadi, dan apa yang tetap adalah perubahan itu sendiri.

Refleksi perubahan psikologis dalam 4,5 bulan ini, dalam kaitan dengan kebutuhan akan kehadiran orang lain dan sikap belajar.

*apa coba?*

Bagi saya, tinggal tanpa orang tua di negeri asing adalah hal baru. Dua tahun terakhir, saya banyak belajar bagaimana mengandalkan diri sendiri dan bagaimana menghargai orang lain. Awalnya, ketika kuliah S1, saya selalu pulang setelah aktivitas di kampus selesai. Aktivitas kampus berarti perkuliahan, dan organisasi kemahasiswaan, dan bukan bermain bersama teman. Saya tidak pernah menginap di rumah teman sekedar untuk bermain, bila ya, berarti itu tuntutan tugas atau aktivitas kemahasiswaan. Jujur, pertemanan saat itu hanya sekedarnya, agar kegiatan kemahasiswaan yang bagi saya mempesona itu tetap berjalan. Tak mudah bagi saya membuka diri dan juga karena terbatas pada jam pulang ke rumah yang cukup ketat. Teman saya menganggap saya cukup mandiri. Pergi dan bertindak tak begitu butuh pengaruh orang lain.

Pertukaran Pemuda, adalah episode yang berbeda. Saya sangat sering bertemu teman-teman, bahkan tinggal bersama mereka dan menuntaskan beragam tugas bersama. Saya sama sekali tak pernah sendiri. Untuk saya yang introvert dan tak begitu menyukai keramaian, ini cukup sulit untuk dilalui. Terkadang, waktu untuk menyendiri hanyalah di toilet, itu juga jikalau tak ada yang menyuruh saya cepat-cepat keluar. Namun, di sini, banyak sekali kegiatan dan tugas yang datang bertubi-tubi, sehingga fokus saya berubah, tak melulu memikirkan apa yang terjadi pada saya, namun apa yang terjadi pada kami. Suatu saat pernah saya meluap. Luapan tangisan, kurasa saya merasa tertekan oleh ekspektasi saya yang besar. Perjuangan saya, menurut saya, cukup besar untuk kesuksesan tim, namun tak membuahkan kesuksesan yang saya bayangkan. Saya belajar, bahwa saat itu dan sadar bahwa selama ini, hal yang saya lakukan cukup berhasil ketika itu untuk diri saya sendiri, namun, ketika itu berupa kerja kelompok yang kompleks, meskipun saya sudah bekerja keras, bisa tetap saja gagal. Saya belajar untuk merelakan hal yang saya tak bisa ubah, dan belajar juga, bahwa bila sesuatu tak sesuai bayangan, itu tidak akan apa-apa.

Di sini. Saya benar-benar sendirian. Saya dahulu merasa selalu bisa berdamai dengan kesendirian dan menganggapnya sebagai “solitude” dan bukan “lonely”. Saya tak pernah merasa sangat membutuhkan kehadiran orang lain, lebih besar dari sekarang. Salah satunya mungkin karena saya kurang memiliki aktivitas yang beragam, terus menerus mengerjakan tugas. Saya pun cukup ambisius mengerjakannya seharian hingga malam sambil mengeluh mengapa belum juga selesai. Akhirnya, selalu, selesai cukup jauh sebelum deadline dengan ‘cukup’ baik, bukan yang terbaik tapi. Lalu, setelah selesai, saya bisa menangis. Tangisan sebagai bentuk luapan rasa kekesalan yang tak saya keluarkan, yang seharusnya terlampiaskan ketika mengerjakan tugas. Ketika mengerjakan tugas, saya bisa sambil ditemani seseorang di dunia maya sebagai selingan sewaktu-waktu, karena ke’sendiri’an luar biasa yang saya rasakan.

Sekarang, setelah melalui itu semua, ketika berkesempatan melihat jejak-jejak perubahan saya sendiri, saya lebih mengerti apa yang terjadi. Saya berubah. Yang seharusnya paling saya sadari untuk saya lakukan adalah menerimanya. Apapun yang terjadi, semua sementara, akan ada akhirnya dan berubah ke kondisi lain yang akan sangat berbeda. Saya belajar untuk meluapkan, berbicara, apa yang saya rasakan.

Oh ya, mengenai kuliah dan kehidupan di sini, itu tidak sesuai dengan yang kubayangkan. Kukira akan indah lancar jaya, ternyata menantang. Aku tak punya banyak teman di sini. Hanya punya satu. Kurasa memang kuliahnya yang membuatnya demikian –lagi tak ingin begitu spesifik tentang ini-.

Materi kuliah di sini, RMIT (Royal Melbourne Institute of Technology) sangat berbeda dari ITB (Institut Teknologi Bandung). Pendekatannya berbeda. Apa yang dianggap penting berbeda. Bisa jadi merasa telah kerja keras, namun itu bukanlah apa yang diharapkan oleh dosen. RMIT meminta saya untuk terus menghasilkan beragam, puluhan, alternatif desain, sedangkan ITB, meminta saya menyempurnakan satu alternatif desain. RMIT, memaksa saya belajar dari hal yang tak berkaitan. Belajar persamaan asimetri. Apa yang bisa kau desain bila konsep desainmu berasal dari mitos? Atau apa yang bisa kau pelajari tentang fashion design, ruang dan arsitektur lansekap ketika disatukan?

Kalau Anda tak berubah, berarti Anda tidak belajar.

Belajar itu berubah. To learn is to change.

Saya merasa kurang begitu berhasil dalam mata kuliah saya, namun dosen saya merasa bahwa saya telah mendengarkan sarannya dengan baik. Ya, jujur, saya memang berusaha mengikuti apa yang dosen saya arahkan, tak lain karena saya pun penasaran, apa sih yang sebenarnya ia inginkan untuk saya pelajari.

Belajar itu mendengarkan.

Belajar itu menyadari bahwa ilmu yang dimiliki masih kurang.

Belajar itu membuka diri, membuka pikiran.

Belajar itu bersedia mencoba hal baru.

Belajar itu seharusnya ikhlas, Susan!

 

Melbourne, 03 Juli 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: