inhale every moment

everything has it's inspiring story

Untuk Anakku dan Cucuku

Untuk anakku dan cucuku,

Apa kabarmu? Aku ibumu, atau nenekmu yang sedang hidup di tahun 2014.

Aku pernah membuat ini saat kelas 5 SD. Umurku kurang lebih 10 tahun, pada tahun 1999. Sebuah tugas sekolah yang mereka sebut “project” yang waktu membuatnya cukup panjang, yaitu dalam satu term.

Ini penjelasan mengenai tugasnya.

Proyek Lingkungan

Proyek Lingkungan untuk SD kelas 5

Projek Lingkungan untuk SD kelas 5

Projek Lingkungan untuk SD kelas 5

Ini covernya, dibuat memakai bantuan komputer dengan clip-artnya. Ayahku menerangkan padaku cara membuat ini kala itu.

Jika ingin melihat halaman secara penuh, klik di gambarnya.

Cover depan

Cover depan

Halaman Daftar Isi

Halaman Daftar Isi

Halaman 1

Halaman 1

Aku terpaksa beradaptasi dengan bahasa di tempat itu, dan inilah karya terbaikku dalam dua tahun masa kecilku itu.

Halaman 2

Halaman 2

Halaman 3

Halaman 3

Halaman 4

Halaman 4

Halaman 5

Halaman 5

Halaman 6

Halaman 6

Aku membaca beragam buku di perpustakaan daerah setempat yang gratis itu, meski aku bukan warga negara tersebut. Beberapa halaman buku, aku fotokopi berwarna di perpustakaan yang memakai sistem barcode dan pencarian nama buku lewat komputer. Itu tahun 1998-1999 sayangku. Dan bila, ada di Indonesia baru memakai sistem ini, berarti tertinggal berapa tahun??

8

Halaman 7

Halaman 7

Bahkan, guruku menyedikan lembar evaluasi untuk kuisi sendiri mengenai apa yang telah kulakuan. Apakah sudah maksimal atau belum.

Lembar Evaluasi

Lembar Evaluasi

Lembar Evaluasi

Lembar Evaluasi

Selain presentasi tugas dengan cara tertulis seperti ini, guruku meminta teknik presentasi lainnya, yaitu presentasi oral atau lisan. Saat itu, aku membuat ‘diorama’ sebuah model penjelasan tugasku yang kubuat dari kardus yang dibagi dua yang dipisah oleh satu karton melintang. Kedua sisi aku lubangi seperti jendela. Lalu dari jendela itu orang bisa melihat di dalamnya, ada binatang dari kertas yang kutempel dengan berlainan jarak dan dipotong sesuai bentuknya, sehingga terlihat ketigadimensiannya –itupun jika ada kata semacam ketigadimensiannya-. Terbayangkah?

Aku tak pandai presentasi lisan. Kau pasti tahu, aku pendiam. Namun, diorama itu, kurasa itu adalah karya terbaik yang kubisa saat ini. Guruku, Mrs. Charuckyj, awalnya ingin memberiku 9 dari 10, namun kemudian meralat menjadi 10 dari 10. Kau tahu, mereka suka menyebut skor dengan ‘nine out of ten’ atau ‘seven out of ten’ dan sebagainya.

Pada akhirnya, kau bisa lihat di cover tugas ini, aku mendapatkan 100 dari 100. Ya, meski kau bisa lihat sepertinya guruku ragu memberiku nilai itu. Haha. Alhamdulillah, hanya aku yang mendapat nilai itu. Yang tertinggi selanjutnya, sepertinya 98. Kau tahu, aku yang sekarang merasa bangga dengan diriku yang berumur 10 tahun itu.

Namun, kau tahu. Pada pembagian rapor, aku mendapat nilai B untuk keaktifanku berbicara. Sebuah peningkatan dari 3 semester berturut-turut sebelumnya mendapat nilai E untuk keaktifan berbicara. Yah, aku berada di negara yang penuh peluang bagi mereka yang suka berbicara dan ekstrovert. Tak apa apa jika kau suka berbicara dan ekstrovert, itu sifatmu dari Tuhan mungkin, hanya jangan lupa memikirkan perkataanmu sebelum bicara ya.😀

Itu aku yang terekspos isu lingkungan, pemanasan global, climate change, penyelamatan satwa dan kawan-kawannya, yaitu umur 10 tahun di Melbourne. Aku tak tahu ceritamu. Kau pasti bertanya, apa yang kulakukan setelahnya? Apakah hanya sekedar bahan tugas sekolahku?

Maaf, tapi kurang lebih iya, sekedar tulisan. Hingga kucoba membuat beberapa hal ketika SMA namun gagal dan kuliah namun gagal. Aku menyediakan tempat sampah terpilah dari plastik dan dari kardus. Aku juga sudah pernah mengumumkannya pada teman-temanku. Aku membuat grup bersama teman mengenai pemilahan sampah, menyediakan screening film tentang masalah lingkungan, ikut (sekedar ikut) dalam komunitas yang bergerak dengan tujuan yang sama, membuat karya desain. Sisa-sisa darinya bisa kau lihat di facebookku ini: https://www.facebook.com/susankrisanti/media_set?set=a.2107840376783.2130055.1268774639&type=3

Tunggu, apa kau pengguna facebook juga? Jangan lupa menjadi teman facebookku ya!

Gagal dalam arti, tak membawa banyak perubahan.

Oh, ya, paling penting ini. Bagaimana kondisi lingkungan pada zamanmu? Apakah masih ada es di kutub selatan dan utara? Apa  masih banyak banjir di Jakarta atau Bandung Selatan? Apa cuaca sering ekstrim? Atau saking sering ekstrim jadi tidak ekstrim lagi? Apa kau pernah melihat Orang Utan? Apa orang Indonesia masih suka mengeluh banjir tapi tetap membuang sampah sembarangan? Apa orang Indonesia suka megeluh macet tapi tetap bawa mobil berkapasitas banyak tapi ia gunakan sendirian? Apa kau sering batuk dan menggukan masker? Apa kau jarang melihat pohon?

Aku minta maaf, sepertinya beberapa hal itu, atau malah semuanya adalah karena manusia pada zamanku. Kami belum mau berubah drastic. Aku pun tak tahu hingga kapan kami akan mengerti. Saat ini, bila kau tahu, banjir di Jakarta sudah sering terjadi. Tapi kami jarang belajar. Jarang mau berubah untuk kebaikan kami sendiri. Kami bahkan lupa, bahwa sebenarnya itu untuk kebaikanmu, kelayakan kau hidup. Entah mengapa, kami tak percaya bila belum di depan mata, melihat semua keburukan itu. Bahkan bila didepan matapun, kami kadang enggan mengakui itu karena salah kami. Terdengar bodoh kan? Memang bodoh. Mungkin kau pernah dengar film The Age of Stupid? Itu film yang kutonton 4 tahun lalu, di YPBB, Yayasan Pengembangan Biosains dan Bioteknologi, dalam kegiatan bertema Mari Kita Nonton atau Markinon. Beberapa kali aku sekedar menjadi relawan penerjemah di YPBB.

Jum’at kemarin, aku menonton film lainnya, judulnya Trashed, di Markinon YPBB juga, tentang bagaimana sampah manusia telah menjadi masalah yang parah. Banyak binatang mati karena menelan sampah: plastik dengan beragam bentuk yang tak mudah terurai oleh alam. Bahkan, permukaan laut di samudera manapun, penuh oleh serpihan sampah plastik, hingga menyulitkan para plankton untuk hidup. Namun, yang paling menyebalkan dari film itu, adalah film itu MEMALUKAN Indonesia. Malu karena keburukan orang Indonesia saat ini, 2013, yang membuang sampah di sungai, sampah rumah tangga yang sangat beragam dengan plastik, Styrofoam dan sisa-sisa metabolisme manusia, a.k.a feces. Sungai sangat penuh sampah dan tetap saja orang memanfaatkannya untuk mandi dan mencuci. Sungguh terlihat paling bodoh di film itu. Aku malu. Aku berdoa, hal ini hanya sejarah pada masamu nanti.

Aku tahu, mungkin kau ingin sekali membentakku dan bertanya mengapa membiarkan semua ini terjadi.

Maafkan aku. Dan kurasa, tugas sekolahku yang bernilai 100 dari 100 itu, memang sampah juga, karena secara realita, aku yang sekarang 2013. Belum berhasil mengubah banyak.

Susan, yang perlu kauingatkan untuk berbuat sesuatu.

One comment on “Untuk Anakku dan Cucuku

  1. prizanimate
    April 6, 2014

    …those are fully your hand-writing, susan? 5th grade? seriously??
    wow…

    spirit utk projek-projek pribadi mgkn sdikit banyak ada dari sini ya🙂

    berbagi informasi dari karya (walau masih tulisan) cukup menginspirasi, karena lihat yg kaya gini jadi inget buku ensiklopedi masa kecil yg dibeliin ortu. alhamdulillahnya kebawa jadi suka baca dan seneng nata2 teks dan gambar (nge-layout halaman buku)…sampai sekarang.
    ini contoh minimal dari manfaat sharing karya (walau belum dengan banyak tindakan).

    Go. Susan🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: