inhale every moment

everything has it's inspiring story

Dalang Topeng

14 Juli 2013

Kumpulan Sejarah-Sejarah Tari Topeng

Suatu saat saya iseng ingin belajar tari topeng merah Cirebon. Saya kemudian ke sebuah sanggar di keraton. Saya pun disuguhi cerita menarik mengenai dalang topeng. Yang paling tak kusangka adalah bahwa pengajaran dalang topeng adalah semacam suatu kurikulum pendidikan.

Dalang topeng yang kuketahui ketika belajar di Keraton Kacirebonan adalah seseorang yang maestro dalam tari topeng Cirebon. Ia tak hanya pintar menari tentunya, ia jauh lebih bermoral dari itu. Seorang dalang topeng ketika mendapatkan uang hasil pentasnya, ia akan membagi hasilnya kepada semua warga desa terlebih dahulu hingga ia dan keluarganya mendapatkan sisa-sisa hasil pembagiannya. Dalang topeng juga mengajar, ia mengajar pada muridnya dengan intensif, privat, mengajar tentang hidup, agama, moral yang terwakili oleh gerakan-gerakan pada tarian, serta atribut-atributnya. Seorang dalang topeng itu seperti ulama, namun pemirsanya hanya satu atau beberapa murid yang bisa dimonitor apakah ilmunya tersampaikan dengan baik atau tidak.

Tari topeng Cirebon itu yang terkenal ada 5, ada panji, samba/pamindo, tumenggung, rumyang, dan kelana. Masing-masing topeng mewakili sifat-sifat tertentu dari manusia. Misalnya, topeng Kelana yang berwarna merah berkumis tebal yang saya pelajari, mewakili sifat angkara murka. Maksudnya adalah ketika seseorang sedang marah, pendendam, haus kekuasaan dan angkuh, maka ia sedang memakai topeng Kelana tersebut. Tak hanya topengnya yang menunjukkan sifat-sifat itu, gerakan-gerakannya juga demikian, tegas, gagah, angkuh, keras, cepat dan sombong. Arti kelana itu memang berkelana, yang berarti harus mengembara dalam hidup (berikhtiar). Begitulah beberapa sifat yang kuresapi ketika menampilkan tarian ini.

Berguru dengan seorang dalang topeng, tutur guru tariku, membutuhkan minimal 5 tahun. Setiap topeng satu tahun. Mengapa selama itu? Karena ketika belajar tarian, ia akan diajarkan maksud setiap gerakan, membuat dan melukis topengnya sendiri dan menjahit pakaian tarinya sendiri serta ornament-ornamennya. Salah satu bagian yang sulit dari pakaian topeng adalah sobra, penutup kepala yang terbuat dari helaian rambut sang penari sendiri.

Aku memilih ingin belajar tari topeng Klana satu minggu itu. Alasanku, karena gerakannya yang dinamis mudah dinikmati pemirsa. Ternyata, tarian itu tak mudah, gagah dan maskulin, sedangkan yang sebelumnya kupelajari, tari merak itu sangat feminine. Tapi aku beruntung pernah mengenal tarian Jepang Soran Bushi yang sangat energik. Mungkin maskulin juga gerakannya namun baik temanku orang Jepang laki-laki atau perempuan, tetap menarikannya dengan baik karena menarikannya dengan tenaga penuh.

Menggunakan topeng saat menari juga tak mudah. Kemarin di kapal TNI dan di Kementrian Keuangan adalah topeng yang ditalikan ke belakang, padahal seharusnya topeng itu digigit! Kadang juga kekurangan nafas dan kehilangan keseimbangan ketika memakai topeng sebenarnya.

Yang sangat berkesan bagiku adalah bahwa tari di Cirebon ini sendiri dahulunya adalah sebuah sistem pendidikan. Yang keren adalah bahwa yang ditekankan disini adalah seni. Tak hanya seni gerak, namun rupa (pada pembuatan topeng) serta keterampilan menjahit (saat membuat kostum tari). Yang jauh lebih keren lagi adalah muatan-muatan moral yang seakan tersisip dalam setiap tugas. Misal dalam gerakan tari topeng kelana yang meski mencerminkan keangkuhan, angkara dan murka, gerakan memutar dan membanting tangan itu mengandung arti memberi kepada orang lain. Contoh lainnya tentang kesabaran dalam belajar untuk menghasilkan suatu karya seni yang baik.

Sayangnya, saya hanya berada di tempat ini hanya sejenak, sendirian, dan beberapa agenda lain. Namun tetap penasaran dengan sebuah output, atau hasil didikan dari sebuah ‘sanggar’ seperti ini. Kurasa akan baik hasilnya, namun layaknya potensi kekayaan Indonesia lainnya, ia tak terdengar, yang bila tak kita sempatkan untuk dengar akan berhenti berbisik.

Indonesia, semangat ya!!

One comment on “Dalang Topeng

  1. Pingback: Menari Tari Topeng Kelana Cirebon di Melbourne | inhale every moment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on July 14, 2013 by in Uncategorized and tagged , , , .
%d bloggers like this: