inhale every moment

everything has it's inspiring story

Buku-buku Paulo Coelho

 

Ada saatnya ketika seseorang datang dalam hidupku dan mewarnainya menjadi indah tanpa harus bertemu secara fisik. Itulah yang dilakukan oleh orang yang berkarya. Tulisan adalah salah satunya. Tak terbatas oleh jarak dan waktu, tulisan seseorang menjadi abadi.

Hidupku diwarnai oleh tulisan-tulisan Paulo Coelho. Entah. Cuma itu yang kurasa.

Seperti sungai yang mengalir. Aku menimbang lama sekali ketika hendak membelinya. 50.000. Kali pertama menemukan buku itu, aku membatalkan membelinya. Lalu aku merasa sedih. Kali kedua menemukan buku itu, aku berpikir puluhan kali dan akhirnya kubeli. Terus terang, aku dan keluarga tidak begitu sering membeli buku, jadi cukup sulit untuk memutuskan membeli suatu buku.

Mmm.. Ternyata untuk segala hal aku akan menimbang masak-masak ketika hendak membeli sesuatu. Pada akhirnya kebiasaan selalu berpikir ini membuatku malas sekali berbelanja. Ya, kau bisa lihat kan dari caraku berpakaian?

Kubuka buku yang didepannya bertuliskan buah pikiran dan renungan itu. Kubuka dan aku kecewa. Kecewa dengan isinya yang merupakan cerita-cerita super pendek. Sungguh kecewa.

Kubaca tetap. Tetap kubaca. Lalu kusadari justru yang seperti ini yang kucari. Tulisan singkat ringkas namun pesannya dalam. Kuputuskan, ini buku terbaik yang pernah kupunya. Tentu ini personal sekali.

Aku ingin mengingat semua pelajaran dari buku itu. Seharusnya lebih dari mengingat, tapi juga mengamalkan. Kumulai dengan mengetik ulang ataupun menceritakan ulang. At the moment, aku sendiri, maka temanku bercerita adalah ini, blogku.

Salah satu cerita yang ada di dalam seperti sungai yang mengalir ini adalah tentang seorang pianis. Seorang pianis memainkan piano dengan indah dalam suatu mall. Sang penulis cerita mendengar suara piano itu lewat loudspeaker dalam mall itu. Si penulis bisa merasakan betapa menjiwainya alunan lagu yang dimainkan sang pianis itu. Ia pun menghampiri piano dan pianis itu. Ternyata, tak ada seorang pun yang menghiraukan atau mendengarkan dengan baik lantunan nada piano itu. Si penulis terdiam disana dan ingin mendengarkan dengan seksama. Setelah beberapa saat barulah sang pianis menyadari ada yang mendengarkan ia bermain. Ia tersenyum pada si penulis.

Si penulis menegaskan bahwa yang penting bukanlah ada yang mendengarkannya atau tidak. Baginya bermain dengan sepenuh jiwa itu cukup. Cukup, dan rasanya Tuhan pun merasakannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on January 18, 2013 by in Uncategorized and tagged .
%d bloggers like this: