inhale every moment

everything has it's inspiring story

Bahagia Karena Berjuang

Tol Cipularang, menuju Training SII untuk SSEAYP #39

Tol cipularang. Lurus menuju tujuan. Jalan lurus pernah dibahas oleh seorang dosen di sekolah arsitektur. Jalan lurus itu monoton, membosankan, tidak ada pergantian vista. Bisa jadi kebosanan itu yang menyebabkan para pengemudi mengantuk.

Manusia. Terkadang mereka lupa. Lupa melihat kanan dan kiri. Maka perlulah diingatkan sekali-sekali untuk sejenak melihat sekitar mereka. Para pengemudi itu melaju dengan cepat di atas tol karena ingin cepat sampai. Ingin cepat sampai tujuan. Mereka lupa, kebahagiaan itu bukan sebuah tujuan, tapi sebuah perjalanan.

Sore itu matahari rendah. Tak banyak yang menghargainya. Mereka menutup wajah dengan cepatnya menganggapnya pengganggu. Padahal dia indah. Padahal dia mengeluarkan usaha maksimal setiap saat untuk tetap menjadi matahari.

Pohon meranggas, rumput kuning, jalan kecil dan sepi. Banyak pemandangan seperti itu di pinggir tol yang ganas itu. Banyak yang melupakannya. Padahal ia bisa menjadi latar syuting atau latar foto pra wedding yang eksotis, seperti kebanyakan yang ada dalam film-film barat. Mari lupakan kebarat-baratan sejenak.

Sawah, hijau padi padi yang mengayun teratur oleh angin, dalam barisan jarak 10 cm antar sesamanya sejak dahulu itu sebenarnya jarang sekali dilihat oleh orang2 kota yang melalui jalur cepat 40.500 rupiah ini.

Kawanan sapi coklat yang berlarian dengan latar rerumputan mengering yang sama coklatnya juga sama indah, sama jarang dan ekslusifnya bagi para orang kota. Namun mereka tak sering dilirik.

Padahal,setiap pohon menjadi berwarna kuning berjuang. Mereka berjuang keras mengeluarkan warna kuning sebisa mereka dan mengorbankan helai-helai daun.

Setiap tanaman padi berjuang keras, berjuang menghasilkan bulir-bulir. Mereka berusaha untuk hidup dan menghasilkan padi dengan sebaik-baik yang mereka bisa.

Apa manusia menghargai?

Manusia tak bisa tumbuh besar hanya dengan ditancapkan ditanah seperti pohon dan tanaman padi. Apalagi terus menerus memberi. Memberi dengan ikhlas tanpa memberi, 80% kerja keras tanaman adalah untuk makhluk lainnya. Oksigen misalnya.

Memberi dengan ikhlas tanpa harap kembali. Sang surya, terus menerangi tanpa pamrih. Mencintai tanpa harus mendekat, apalagi memiliki.

Apakah manusia menghargai?

Dan kurasa pohon kuning kering, tanaman padi, sapi-sapi coklat dan matahari, tidak membutuhkan penghargaan manusia untuk bisa bahagia.

Kebahagiaan mereka terletak pada kesempatan yang mereka gunakan untuk berjuang sebaik-baiknya dalam memberi. Kebahagiaan mereka disitu, memainkan peran yang Tuhan gariskan sebaik yang mereka bisa, bukan yang lain.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on January 18, 2013 by in Uncategorized and tagged .
%d bloggers like this: