inhale every moment

everything has it's inspiring story

Ramadhan di Melbourne

Mencoba mengingat2 kembali peristiwa yang sudah lama berlalu:

Melbourne adalah “the most livable city” sebut suatu survey. Teratur dan nyaman, memang. Kota itu juga disebut sebagai city for pedestrian atau kota untuk pejalan kaki. Saya berkesempatan untuk tinggal di kota itu selama 2 tahun dan merasakan dua kali Ramadhan disana. Trotoar yang lebar untuk pejalan kaki, taman-taman kota yang banyak dan luas, dan kota yang bersih dan teratur menjadikannya tempat yang baik untuk ngabuburit.

Ramadhan ketika itu summer, maka waktu terpapar sinar matahari lebih panjang. Waktu shubuh dan sahur relative sama dengan di Indonesia, namun waktu untuk berbuka adalah sekitar jam 20.30-21.00 malam. Sholat isya jam 23.00. Tak ada sirene sahur, tak ada pula adzan. Semua atas kendali diri orang-orang Muslim di sana yang harus tahu jadwal sholat. Waktu puasa yang panjang bukan? Semoga saja pahalanya juga lebih banyak.

Ramadhan di Negara yang mayoritas penduduknya bukan Muslim tentu tidak tersuasanakan seperti di Indonesia. Tak ada program sahur, sinetron Ramadhan (saya tak suka nonton juga sih), atau apapun yang mengingatkan kehadiran bulan berkah ini lewat media televisi. Lingkungan tempat tinggal, pertokoan, sekolah, dan tempat umum lainnya juga tak membuat dekorasi special untuk menyabut Ramadhan. Suasana yang kurang mendukung bukan? Semoga saja pahalanya juga lebih banyak.

Umur saya ketika itu masih kanak-kanak, 9,dan mudah sekali terpengaruh budaya barat disana. Meski sebelumnya saya ikut pengajian untuk anak-anak beberapa tahun di Indonesia, kebiasaan baik untuk taat beragama luntur juga. Saya yang sebelumnya rajin sholat 5 waktu jadi tak hanya sholat kalau mau, atau diingatkan orang tua. Saya juga membatalkan puasa dengan sengaja suatu hari karena suatu acara perpisahan di sekolah yang menghidangkan banyak makanan (dasar anak-anak!).

Daerah saya tinggal dulu di Melbourne, adalah di Brunswick. Kalau naik tram itu turun di stop nomor 27 di Sydney Road. Daerah yang strategis untuk muslim yang ingin mencari makanan halal. Toko bertulis Halal Butcher (Penjual daging sapi dan kambing) dan Halal Poultry (Penjual daging unggas) terletak dekat sekali dari situ. Selain itu, ada juga beberapa restoran halal disana meski itu adalah masakan dari daerah Arab atau Turki. Situasi ini sangat menguntungkan untuk saya dan keluarga. Ayah dan kakak saya juga mendapatkan tempat untuk sholat Jumat walaupun itu hanya dalam ruang pertokoan di Sydney Road. Bahasa pengantar untuk khutbahnya tentu bukan bahasa Indonesia, tapi bahasa Arab (itu bagaimana hukum sholat Jumatnya yah kalau ngga ngerti bahasanya?).

Komunitas orang Indonesia tentu ada. Komunitas ini sesekali mempertemukan anggotanya dan mengadakan pengajian. Bagiku ini tidak begitu signifikan dalam mengajarkan saya lebih jauh tentang Islam. Saat itu, orang Indonesia yang paham agama Islam dengan baik hanya sedikit, jadi saya tak merasakan keuntungan belajar agama selain bersilaturahmi.

Pada saat Idul Fitri, muslim Asia mengikuti sholah Id berjamaah di sebuah lapangan basket di sebuah universitas di Melbourne. Tak ada takbir. Tak ada orang-orang berjalan kaki, berpakaian putih-putih di jalan. Sama seperti hari-hari disana pada umumnya, tak ada yang special. Saya sekeluarga pun menggunakan tram seperti hari-hari biasa. Namun, yang terasa sama adalah ketika duduk dan sholat bersama dengan jamaah muslim lain di Melbourne dari kawasan Asia Tenggara.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on August 15, 2012 by in Uncategorized and tagged .
%d bloggers like this: