inhale every moment

everything has it's inspiring story

Mengapa Berjilbab?

Disini, saya ingin berbagi sedikit mengenai pengalaman saya mengenakan jilbab walau sebenarnya saya masih belajar bagaimana melakukannya dengan lebih baik.

Ketika saya SMP, saya diwajibkan memakai kerudung setiap hari Juma’t. Saya pun menaati perintah itu dan berusaha tetap mengenakannya sepanjang hari. Entah mengapa, saya teringat akan kematian di suatu hari Jumat. Karena tahu kematian bisa mengintai setiap saat, saya berdoa dan berharap Allah mengambil nyawa saya di hari Jumat, ketika saya mengenakan pakaian terbaik saya, pakaian takwa, pakaian yang menutup aurat dengan baik. Namun, ternyata hal ini belum sepenuhnya membuat saya ingin berjilbab setiap hari.

 

Saya bukan wanita yang modist, yang suka mengenakan pakaian yang up to date dan berusaha keras untuk tampil secantik mungkin ketika saya belum berjilbab. Namun, saya termasuk yang dengan mudahnya menarik perhatian lawan jenis lewat bentuk tubuh saya. Saya mengalami pelecehan seksual. Ibu saya sering bilang saya menurunkan, maaf, bokong yang besar, dari nenek saya. Itulah bagian yang beberapa kali menarik perhatian para laki-laki yang tak bisa menjaga tangan mereka. Ya, Mereka mencolek dengan entengnya -sejujurnya saya sangat tidak suka menceritakan hal ini, tapi saya ingin mengatakan bahwa meski tak punya niat terlihat cantik, menarik atau seksi, pikiran orang belum tentu seperti itu­-. Ya, saya berhasil membuat mereka terangsang dan tergerak untuk melecehkan saya. Namun, sekali lagi, saya masih belum mulai memutuskan untuk berjilbab, saya hanya sedikit mengganti cara saya berpakaian.

Saya adalah orang yang analitis, memikirkan sesuatu sedalam-dalam yang saya bisa. Saya berkesempatan belajar di luar negeri yang membentuk pola pikir saya yang lebih bebas. Saya menghargai pemikiran saya sendiri terhadap segala sesuatu dan tidak serta merta mengikuti arus ataupun berusaha menyamarkan diri agar bisa sama dengan kebiasaan orang lain pada umumnya. Dengan latar belakang cara berpikir seperti itu, saya juga memiliki pemikiran sendiri mengenai jilbab ini.

Saya merasa bahwa dengan melihat kenyataan di Indonesia, banyak muslimah tak berkerudung, maka saya menyimpulkan bahwa mengenakan kerudung adalah sebuah pilihan dan bukan kewajiban. Saya pun kemudian ingin membuktikan bahwa apa yang saya pikir -mengenai berkerudung adalah suatu pilihan dan bukannya kewajiban- adalah kebenaran. Saya membaca banyak buku tentang jilbab dan semuanya sama, mengatakan bahwa berkerudung/berjilbab adalah sebuah kewajiban. Namun, hal ini belum membuat saya segera berkerudung. Saya rasa kecendrungan saya untuk berubah seketika belum muncul dan kemampuan saya untuk menunda sangatlah besar.

Suatu hari ketika saya baru masuk SMA, setiap murid dipanggil untuk diukur tubuhnya untuk dibuatkan seragam baru. Saya dipanggil dan diukur. Si pengukur bertanya, apakah saya mau memakai seragam yang panjang atau tidak. Saya berkata menginginkan yang pendek. Saya merasa tertegun sejenak. Seharusnya sudah saatnya saya mengatakan, ‘Ya, saya harus berjilbab’. Namun, saya tidak meralat perkataan saya untuk memesan baju panjang.

Beberapa minggu berselang. Baju seragam itu pun tiba, dan seragam saya berlengan pendek. Saat itu saya teringat kembali untuk berjilbab. Saya menuju koperasi dan menanyakan adakah baju seragam panjang yang bisa saya beli. Ternyata tidak ada. Seminggu kemudian saya kembali ke koperasi, dan tersedialah baju seragam panjang itu. Sayangnya hanya ada yang berukuran L yang terlalu besar. Saya tetap membelinya. Saya memberikannya pada ibu saya dan meminta tolong ibu untuk mengecilkannya ke tukang jahit. Seminggu berselang, pakaian batik itu siap digunakan. Saya bilang pada diri saya sendiri, harusnya dicuci terlebih dahulu. Yah, begitu banyak prosedur untuk menyiapkan saya mengenakan pakaian berjilbab. Semua rentetan peristiwa itu berhasil menunda saya, karena mereka adalah alasan saya belum berjilbab karena pada waktu semua kejadian itu berselang, saya tidak menyiapkan apapun untuk pakaian yang akan saya kenakan kelak ketika berjilbab.

Pakaian seragam panjang yang sudah dicuci dan siap pakai telah digantung di kamar saya hari itu sekitar tahun 2005. Pagi itu saya sedang bercermin sambil mengenakan pakaian seragam bersiap-siap ke sekolah. Saya menoleh sekilas ke arah seragam panjang yang tergantung itu. Saya berkata dalam hati, sampai kapan saya akan menunda? Selama ini saya terus menunda hingga pakaian panjang siap pakai ini tergantung di sebelah saya. Saat itu saya memutuskan untuk memakai seragam panjang itu. Tanpa persiapan membeli beberapa pakaian panjang ataupun kerudung, pagi itu memutuskan untuk berganti penampilan.

Kesan pertama ketika saya berkerudung adalah bahwa berkerudung sama sekali tak sepanas atau segerah yang saya pikirkan. Justru dingin-dingin saja. Pada awalnya cara saya memakai kerudung tentu tidak rapi. Baju-baju yang saya kenakan adalah baju yang sebelumnya sudah saya miliki hingga terkadang yang digunakan adalah yang itu-itu lagi. Hal ini tidak saya anggap sebagai masalah. Malah yang sedikit menyulitkan dan tak terkira adalah tanggapan dari orang lain.

Teman-teman saya di ekstra kurikuler softball berkata, “Susan, kamu insyaf?!” Yah kata-kata yang sungguh mengganggu, tapi ya sudahlah, sudah saya lupakan. Namun seharusnya saya menanggapinya dengan, “Kapan kalian insyaf juga?”

Berbeda dengan teman saya di ekstrakulikuler softball, teman sekelas saya, hanya merasa sedikit terkejut dengan perubahan yang saya lakukan. Mereka hanya menanyakan apakah saya benar-benar berganti penampilan untuk seterusnya atau tidak. Lalu, pada sebuah mata pelajaran agama, guru agama kami membuka topik tentang berjilbab dan meminta kami, satu kelas, untuk saling menanyakan antara ikhwan (laki-laki muslim) dan akhwat (perempuan muslim). Saya pun ditanya oleh teman-teman laki-laki saya tentang mengapa saya berjilbab. Jawaban saya adalah semua yang telah saya sebutkan dalam alinea-alinea di atas. Pertanyaan mereka tak hanya itu, tapi juga mengapa anda memilih untuk tidak berjilbab kepada teman-teman perempuan saya yang belum berjilbab. Selain itu mereka menanyakan kepada guru yang saat itu mengajar apakah dosa melihat aurat-aurat perempuan yang terbuka ini? sang guru menjawab, “Ya”

Kalau iya, tidak kasihan kah para perempuan ini membuat kami berdosa setiap saat?

Setelah saya berjilbab, keuntungan yang saya rasakan adalah kulit saya lebih terawat karena selalu tertutup ketika berada di luar. Secara psikologis merasa lebih tenang dan bebas dalam bergerak karena tak perlu khawatir ada bagian yang tidak sengaja terbuka. Kemudian bagi saya perubahan yang paling terasa adalah bagaimana orang lain memandang saya. Saya merasa lebih disegani. Saya juga merasa orang-orang melihat saya sebagai orang yang shaleh dan seringkali berpikiran positif yang kemudian tidak akan mengajak saya untuk melakukan hal yang menurut mereka takkan dilakukan oleh seseorang yang sholeh seperti bergosip.

Dengan laki-laki, saya mengalami banyak perubahan. Lelaki yang tertarik perhatiannya oleh saya, seringkali di pasar, hanya memandangi saja, atau hanya mengucapkan assalamualaikum saja untuk menggoda. Ketika ada seorang laki-laki yang menanyakan tentang saya mengenai apakah saya sudah punya pacar atau belum, maka teman saya yang lain akan dengan sendirinya mengatakan bahwa Susan tidak untuk dipacari, tapi untuk dinikahi. Jilbab dan dengan cara saya membawa diri saya dengan sendirinya menyaring jenis-jenis lelaki yang mendekati saya.Walaupun ada yang mendekati, laki-laki yang mendekati adalah laki-laki tertentu yang saya lihat memiliki akhlak yang baik.

Dengan semua peristiwa yang terjadi, saya bisa menyimpulkan bahwa sayalah yang memberi ‘merek’ pada diri saya sendiri. Sayalah yang menentukan seberapa tingginya harga diri saya.

Pesan saya, hargailah diri Anda dengan harga yang pantas. Orang akan menghargai anda seperti anda menghargai diri anda sendiri.

2 comments on “Mengapa Berjilbab?

  1. mytinatar
    August 15, 2013

    Barakallah susan, keep istiqomah🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on August 15, 2012 by in Uncategorized and tagged , , .
%d bloggers like this: