inhale every moment

everything has it's inspiring story

Di Atap Pasar Ciroyom

Hari Sabtu, saya malu-malu menuju tempat baru. Karena tak tahu, saya berjelajah terlebih dahulu. Daerah itu kumuh. Sedih. Kasihan. Parah.

Saya berencana mengunjungi Rumah Belajar Sahaja. Sahaja, sahabat anak jalanan. Tempatnya di atap pasar Ciroyom. Untuk mencapainya, saya harus menaiki ramp melingkar yang cukup heboh. Setelah saya berhasil naik, saya cukup terkesima. Pemandangan di tempat ini indah sekali. Semua gunung yang melingkari Bandung terlihat. Di malam harinya saya ternyata berkesempatan untuk menyaksikan kembang api pemeriah malam minggu dengan sangat jelas. Ketinggian menjadikan suatu tempat bernilai mahal pada masa sekarang, dan pada masa tak banyak bangunan tinggi lainnya.

Saya punya banyak waktu luang, tapi tidak juga. Saya sangat bebas, namun tetap lupa menonton televisi, lupa untuk makan, lupa untuk terlarut dalam surfing internet. Saya single, free and always available, tapi tetap saja, semua itu untukku sendiri. Untuk kepuasan diri sendiri. Jangan salah juga tentang kepuasan diri sendiri versiku ini. Jangan menilai dan berandai-andai, karena kau belum tahu saya.

Saya rasa, saya larut dalam dunia pikiran sendiri. Itu sangat melelahkan.

Saya tiba disana. Fajar mengumumkan kedatangan saya sebagai pendatang baru. Beberapa tangan tersodor yang memaksa saya meraih dan sedikit menggoyangkannya. Saya susan. Ada keengganan untuk melakukan hal ini, karena penilaian saya pada fisik mereka. Beberapa dari mereka terlihat kotor juga berbau sama dengan ibu-ibu kucing di parkir SR. Seenggan apapun, saya berusaha ‘sopan’ dan tetap bereaksi seakan saya tak terganggu dengan apapun.

Saya datang karena tak tahu apa-apa dan ingin tahu. Pada tamu, saya, tak banyak yang menjelaskan tentang apa dan bagaimana kondisi yang saya hadapi ini. Dalam komunitas baru manapun juga demikian. Perintahnya hanyalah, silahkan berbaur. Bertanyalah bila ingin tahu. Kalau diam, jawabannya selalu ‘tidak’.

Hari itu, saya tak ingin macam-macam. Tak banyak bertanya, hanya mengamati.

Lem. Saya terekspos oleh kebiasaan, budaya, baru. Mengangkat baju daerah sekitar leher, menutup hidup dalam kaos dan menghirup. Ngelem. Hampir semua anak-anak itu melakukannya. Mereka tak begitu sadar. Namun tetap bisa diajak bicara. Mereka takkan menatap mata ketika berbicara. Mereka hanya separuh. Separuh di dunianya yang kata orang melayang. Namun, mereka tak membahayakan. Tak membahayakan saya maksud saya.

Untuk apa ngelem? Saya belum tanya.

Kakak-kakak yang ada di sana, memiliki perlakuan masing-masing.

“Aku punya jeruk. Mau? Tapi tukar dengan lem ya!”

“Jangan deket-deket aku kalo ngerokok!”

“Ya, sekarang lemnya disimpen dulu.”

Saya tak punya kemampuan interpersonal yang baik. Tak mudah bagi saya berbicara dengan orang batu. Orang baru maksud saya. Saya bisa memulai pembicaraan, namun itu berupa pertanyaan dan pada dasarnya basa-basi. Pada orang yang sudah lama kenal pun, saya cenderung diam. Tak begitu mengerti mengapa, tapi begitulah saya. Namun, I’m working on it.

Saya suka main gitar. Saya ingin sekali ngamen. Entah di dunia ini belum menemukan orang yang bersedia ngamen dengan saya. Saya memang aneh. Saya juga sudah berdamai dengan keanehan ini. Haha.. no single leaf God created is the same from one to another, why bother being a different person? Only humans are fake enough to make things artificial just to be on certain stupid standard that kills their own uniqueness.

Saya suka main gitar. Saya mendatangi seseorang yang ganteng yang membawa gitar, lalu memberikannya pada seorang anak. Don’t get me wrong, ganteng is used to define a male human being. Yang membuat saya tertarik adalah gitarnya. Gitar itu kini berada di tangan ari. Kakak-kakak itu pergi dan yang kuhampiri adalah Ari. Ari (12) sedang berusaha keras menyetel (menyetem) gitar tersebut, namun tetap saja lebih mahir dari saya. Anak itu lebih bersih dari anak lainnya dan tidak ngelem ataupun merokok. Anak itu banyak bercerita pada saya dengan diawali sebuah pertanyaan, tapi tentunya diawali dengan saya berusaha berkenalan dan membuka diri padanya.

“Ari pernah ngamen, tapi itu hanya untuk mencari pengalaman.”

“Ari hebat sekali bisa main gitar! Aku nyetem aja ga bisa,”

“Kalau latihan, kakak juga pasti bisa.”

“Kakak, suka baca buku? Pernah tahu HOS Tjokroaminoto? Tan Malaka?”

“Kakak suka main lagu apa? Tahu lagu ini?”

Dan jawaban saya rata-rata, “Maaf saya tidak tahu.”

“Oh ga tahu, gapapa ko, kak.”

“Ari suka lagu Fall for You, Secondhand Serenade.”

Saya cukup lama berbincang dengan Ari, bahkan ketika berganti posisi ke tempat pembagian makanan, kami tetap berbicara. Sampai, ternyata kakak yang tadi mengambilkan gitar untuk Ari mengamati kami. “Ah, bohong, Ari ngegombal tuh, jangan percaya!”

Saya cukup lama, menyadari bahwa memang Ari banyak sekali berbicara tentang dirinya. Ia berbicara tentang bagaimana ia menolong orang yang mau tenggelam dan bagaimana ia mendaki gunung burangrang yang terjal.

Saya tak keberatan, karena tak banyak di dunia ini orang yang ingin berbicara banyak dengan saya. Di’gombalin’ oleh anak umur 12, saya tak merasa itu masalah besar. I like him. I probably will wait for him to grow up. No. No I won’t.

I feel happy, everybody was happy too. Free J Co donuts for everyone. Saya bilang ke teman baru di sebelah saya, Aldo untuk makan pelan-pelan agar makanan enak itu dinikmatinya dengan sebaik-baiknya.

Saya merasa bahwa anak-anak di sini bahagia. Mereka merasa cukup dengan apa yang ada. Tempat ini bagus. Angin sepoi menyelimuti, biru langit yang menghampar sangat luas di atas kepala dan pemandangan Bandung hingga titik terjauhnya memperkaya tempat ini. Banyak pula yang bermain layang-layang di sini.  Suasana yang sudah lama terlupakan oleh saya.

Saya merasa kalah. Saya merasa salah.

Kebahagiaan ada dimana-mana. Kebahagiaan milik siapa saja.

Saya tak lebih kaya dari mereka. Mereka juga tak lebih miskin dari saya.

Saya lebih miskin karena saya sering merasa kekurangan dan sulit bersyukur. Tidak banyak berkahnya. Mereka lebih kaya karena mereka tak meminta banyak. Mereka merasa cukup dan berbahagia dengannya.

Jelaslah sudah. Materi tak begitu penting. Yang terpenting itu bahagia. Hidup penuh dan seluruh tanpa tergantung pada keberadaan materi.

Mereka mengajarkan sesuatu yang berharga, meski mereka bukan guru, dosen, professor atau ustad. Sama seperti kebahagiaan, ilmu ada dimana-mana. Ilmu milik siapa saja.

Anak-anak itu manusia juga. Mereka terlahir dengan kondisi yang sangat jauh berbeda dengan saya. Sangat-sangat jauh. Namun, saya mengerti bahwa saya tidak boleh menilai dengan sepihak. Terlalu banyak yang tidak saya tahu untuk menilai apapun tentang mereka.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on March 20, 2012 by in Uncategorized and tagged , , .
%d bloggers like this: