inhale every moment

everything has it's inspiring story

I Were Him

Andai Aku Adalah Dia

191011

 

Tulisan berikut adalah untuk diriku sendiri -sudah lama rasanya aku tidak melakukan sesuatu untuk diriku sendiri-.

Susan. Dia ketika SMA sangat kuat secara mental. Dia bahkan merasa tdk memerlukan seorang laki-laki utk mendampinginya. Dia terlalu independen, larut dalam diri sendiri dan cenderung tak membutuhkan orang lain. Buruk sebenarnya, tapi kuat. Tak galau, tak labil, sangat kuat memegang apa yang ia yakini. Baik tapi terasa sombong krn menganggap tak butuh seseorang untuk memimpinnya. Dia kuat. Tapi sudah tak ada lagi dia.

Lelaki. Andai aku seorang lelaki. Lelaki itu kuat. Menurutku laki-laki itu diciptakan utk lebih kuat. Mungkin juga tidak. Seorang perempuan dapat hidup lama tanpa pria, tapi seorang pria tdk bisa tanpa perempuan. Begitu katanya. Tapi Tuhan, menjadikan laki-laki lebih kuat.

Tulisan ini kubuat, untuk membuatku menjadi kuat. Andai saat ini aku seorang laki-laki. Aku akan menjadi laki-laki seperti apa? Aku rasa hal yang membuatku kuat adalah karena aku memiliki tanggung jawab yang besar. Tanggung jawab yang kucintai. Menjadi kuat karena keinginanku yang besar.

Pada usiaku ini, 22 tahun, aku sedang bingung2nya menentukan arah, karena realitas sama sekali berbeda dengan yang namanya idealitas. Tapi aku ingin hidupku berarti. Life is either a daring adventure or nothing, kata Hellen Keller. Aku ingin mengenal dunia dari berbagai sisi dan melakukan hal2 yang kuanggap benar. Aku ingin memulai sebuah bisnis atau melamar pada pekerjaan impianku atau s2 dulu ya? Apapun itu, itu adalah berdasarkan keinginanku. Kuambil dengan semua konsekuensi yang ditimbulkannya. Yang jelas, aku tak ingin hidup untuk diriku sendiri. Aku ingin -dan sering berdoa- untuk menjadi orang yang bermanfaat.

Bisnis yang kumulai bertujuan untuk membantu sesama. Memasarkan produk lokal sambil mengedukasi masyarakat akan pentingnya berdiri di atas kaki sendiri.

Bekerja. Bisa menjadi opsi. Tapi aku akan sangat selektif. Aku mau yang sesuai dengan diriku. Nasionalis. Kreatif. Basis lokal.

S2 diluar. Akan kucari sampai kudapat. Bila tak dapat beasiswa penuh, mungkin setengah pun tak apa. Kerja paruh waktu tampak menantang dan aku tak pernah melakukan itu.

Lelaki akan menjadi kuat ketika memiliki tanggung jawab lebih besar. Mencari seseorang untuk menemaniku, istri, kurasa takkan masalah. Aku ingin pacaran dulu, berdua dulu. Setelah menikah tentunya. Finansial? Kurasa itu bisa dinegosiasi. Yang jelas, perempuan itu bukan sembarang perempuan. Dia satu visi denganku, memiliki prinsip2 yang sama, dan mau kupimpin. Dia adalah perempuan yang tertawa pada leluconku. Dia percaya padaku saat memang aku menunjukkan hal-hal baik. Dan yang penting, saat aku membuatnya jengkel, dia tetap ada disana, tidak pergi. Yah. Simpel. Yang menjaga anak2ku, hartaku dan dirinya saat aku tak di rumah.. (kewajiban istri versi Al Quran). Aku tak ingin istriku termasuk penghuni neraka kelak, yang suka berkata, ‘kamu tidak pernah berbuat sedikit pun kebaikan padaku,’ saat ia marah. Aku butuh yang bisa dengan mudah kubahagiakan. Saat kutemukan perempuan itu, akan kukejar sampai dapat. Tapi, aku takkan berubah menjadi apa yang ia sukai, menjadi orang lain yang bukan diriku. Aku tak mau berpura-pura. Aku akan berubah bila itu memang untuk kebaikan. Aku akan membuatnya terpesona dengan pencapaianku sebagai manusia. Dan dengan berani menyatakan diriku yang ingin bertanggung jawab atasnya. Sebelum itu, aku akan pdkt dulu, pada Tuhan.

Finansial? Kalau aku baru mulai berbisnis, dan belum berpendapatan tetap, aku akan tetap mengajukan diri. Aku percaya aku akan dikuatkan olehNya. Dikuatkan secara materi dan psikologis. Begitu juga bila S2, Tuhan akan menguatkan kami. Semoga dia yg dpt beasiswa atau kalau tidak, kami berdua bekerja paruh waktu. Tapi nanti akan kubayar padanya apa yang seharusnya menjadi tanggung jawabku (ngutang).

Hehe.. Ternyata kalau aku jadi laki-laki, agak semberono.. Tapi menurutku mengenal dunia yang berbeda itu perlu, makanya dia kuajak. Asik. Traveling the world. Know new insights. Stand in our own feet. Breathe. Tapi, ayah mana yang rela anak perempuannya aku ajak dalam hidupku yang malang? Ayahnya Susan mah santai asal anak ITB (ni gara2 ayahnya alumni jg ini mah), dan bener2 cinta -memilihnya sbg wanita pilihan pertama sejak dulu, prioritasnya, tak ganti2 pacar, secara akademis baik2 saja-. Kalau ayah perempuan yang lain? Semoga saja aku beruntung.

Ternyata aku seperti itu kalau jd laki-laki.. Kurasa tiap manusia memiliki pandangan tersendiri. Aku terlahir menjadi perempuan. Aku menerimanya. Aku sementara ini akan menguatkan diriku. Sekuat bila aku seorang lelaki hingga saat seorang datang. Datang dengan pemikiran dan prinsip hidupnya sendiri. Datang atas kehendak Allah dan Allah pilihkan untukku. Saat itu aku akan menjadi pengikut setianya dan menerima kepemimpinannya atasku.

Aku yang sedang menguatkan diriku. Melakukan sesuatu untuk diriku. Tak peduli apa yang mereka katakan, jika itu tak bermanfaat sedikitpun untukku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on October 19, 2011 by in Uncategorized.
%d bloggers like this: