inhale every moment

everything has it's inspiring story

Belajar mengajar

Saya seorang mahasiswa ITB. So what? Saya orang yang serius dan yang ada dipikirannya lebih banyak tentang tanggung jawabnya. Ya, terkadang memikirkan apapun sampai pusing sendiri. Saya rasa saya pintar dalam membuat hal sederhana menjadi rumit.

Dasar saya so idealis, saya pengen punya amal yang nantinya bisa terus mengalir bahkan setelah saya mati. Saya belum punya banyak uang, jadi saya putuskan berbagi ilmu saja. Tapi sasaran yang saya pilih karena kebetulan ada pensuasanaanya –ada yang mengelola dan saya tinggal datang-, adalah mengajar anak-anak SD di kebon bibit.

Saya terus berpikir, sebenarnya ga harus se’pintar’ -secara akademis- anak ITB yang mengajar anak SD. Namun, saya juga tidak punya ilmu yang cukup untuk mengajar anak-anak yang lebih tinggi jenjangnya. Lalu saya berkesimpulan, mungkin dengan menjadi seorang anak ITB yang berada dekat dengan anak-anak (yang bisa dibilang, dalam golongan ekonomi menengah ke bawah), bisa berarti seorang panutan atau ‘role model’ bagi mereka. Harapan saya dan teman2 lain -kurasa- adalah agar mereka memiliki cita-cita yang tinggi dan berusaha keras menggapainya. Sepertinya demikian.

Setelah mengajar, saya sadar bahwa saya salah besar. Ini bukan tentang saya mengugurkan kewajiban saya sebagai orang yang beruntung yang harus berbagi ilmu, tapi ini tentang saya yang harus banyak belajar. Ini tentang saya yang masih kurang ilmu. Akan saya tunjukkan.

Saya terlambat datang ketika kegiatan belajar mengajar sudah dimulai -perilaku yang seharusnya tidak ditiru, saya pun baru sadar efek dari perbuatan itu sekarang-. Saya melihat-lihat kelompok2 belajar yang ada. Saya memilih kelompok yang terdiri atas jumlah anak yang banyak dibandingkan dengan pengajarnya. Saya mulai duduk dan mengamati. Saya belum berkenalan dengan pengajarnya -pengurus baru- dan kami hanya tersenyum saat bertatap mata. Kuucap dalam hati, orang ini judes sekali, senyumnya irit sekali, dan langsung saya melemparkan pikiran itu ke diri saya sendiri dan sadar bahwa saya pun seperti dia, ‘judes’. Ya, saya belajar bahwa tidak enak diperlakukan orang dengan judes. Ya, akan kuingat. Kurasa karena pengajar tersebut mengira aku adalah mahasiswa angkatan 2011 yang terlambat. Tuh kan, telat tuh salah.

Lalu, saya mendekati dan memutuskan membantu anak yang sedang menyontek. Anak itu -kelas 1- paling lambat menerima pelajaran, namun lihai menengok hasil pekerjaan temannya. Aku harus mensimulasikan setiap bilangan yang menjadi soal -pelajaran saat itu matematika- ke dalam jumlah jari. Saya membantunya berhitung pada setiap soal dan kemudian dengan cepat ia menuliskannya. Namun, saya rasa dia tetap tidak memahaminya. Tidak tidak dapat mensimulasikannya sendiri. Teman-temannya sudah selesai dari tadi dan sudah seharusnya diberi soal tambahan daripada diam saja menganggu anak yang lain. Aku bisa merasakan ia bersemangat, tapi ia belum bisa berpikir untuk dirinya sendiri. Begitupun ketika belajar bahasa Indonesia, ia tertinggal. Di situ saya sadar pintar bukan berarti pintar membuat orang menjadi pintar. Kesabaranlah yang membuat orang lain menjadi pintar. Mengapa guru itu hebat, karena mereka punya kesabaran yang luar biasa untuk membuat muridnya menjadi pintar. Saya mengerti mengapa terkadang saya diberikan tugas lain yang berbeda dari teman yang lain. Itu karena aku cepat mengerjakan apa yang guruku minta.

Saya merasa sulit tersenyum atau bahagia. Saya merasa bosan dengan hidup saya dan kesulitan menghilangkan perasaan itu. Anak-anak disini berbeda dari apa yang kulakukan. Mereka dapat tersenyum dengan mudah. Mereka bermain ketika mereka ingin. Apa yang mereka lakukan lebih berdasarkan keinginan Mereka tidak mensyaratkan hal yang besar yang sulit dicapai untuk berbahagia. Hal-hal yang sederhanalah yang membuat seseorang berbahagia.

Saya merasa bahwa sayalah yang memberi sesuatu untuk anak-anak ini, tapi pada kenyataannya, merekalah yang memberikan banyak hal baru yang tak pernah saya duga sebelumnya.

Jadi memberi adalah mendapatkan.

Risa, Adel, dan Saya

Tertarik ikut mengajar? Yu. Di mesjid kebon bibit, tamansari. Setiap senin dan kamis 16.00-18.30.

untuk Delfiana Aura

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on October 2, 2011 by in Uncategorized.
%d bloggers like this: