inhale every moment

everything has it's inspiring story

Apresiasi – 140811

 

Sebelum manusia ‘diturunkan’ ke bumi, manusia membuat perjanjian dengan Tuhan. Perjanjian untuk tetap mengimaninya, menjalankan perintahNya, menjadi pemimpin di dunia. Aku suka terlarut dalam kenyataan ini bahwa, tak kukira aku bisa sesombong itu menyanggupi perjanjian dengan Tuhan tersebut. Mengapa aku tidak menolak, dan mengapa aku tak menjadi makhluk lain saja di bumi? SULIT luar biasa perjanjian yang ku’iya’kan tersebut.

Aku berjalan-jalan ke supermarket dan pasar. Aku menemukan beberapa hewan yang dikonsumsi manusia dalam keadaan hidup tapi tak nyaman. Kau tahu, aku merasa sedih kalau aku menjadi hewan itu dan merasa bahwa manusia itu kurang ajar betul. “Mereka akan memakanku, tapi sebelum aku mati, aku disiksa pula. Tuhan, aku protes padaMu!” kurasa aku akan berpikir demikian.

Poor crab

“Hallo. Saya kepiting. Saya sedang makan ketika manusia mengikat saya, memasukkan saya dalam drum berisi es dan kepiting-kepiting lain. Saya berada di tumpukkan paling bawah, gelap dan sesak. Di sana saya tersiksa berjam-jam. Terkadang saya badan saya terbalik, terkadang saya miring. Saya kelaparan dan keram di seluruh tubuh saya. Saya kemudian dipajang terikat sampai saya mati dietalase, atau dipindahkan ke dalam plastik menyesekkan lalu tiba2 masuk ke dalam minyak panas. Saya tak boleh ‘mati’ sebelum berada di tangan pembeli. Tak hanya itu, terkadang semua pengorbanan saya tak dihargai. Saya disisakan di piring atau seorang manusia memakan satu hingga lima teman saya sekaligus. Sungguh manusia bedebah!!!”

poor hen

“Hallo saya ayam. Saya terperangkap dalam kandang sempit dan bau ini. Saya bisa melihat teman-teman saya disembelih. Saya pun bisa melihat teman-teman saya, jasad mereka maksud saya, terkuliti, terpotong-potong, tergantung, terbelah, hingga tidak terdefinisi lagi. Saya tahu, saya Cuma ayam dan memang tugas saya di dunia ini sebagaiman perjanjian saya dengan Tuhan saya, saya harus melayani manusia. Tapi apakah harus sampai seperti ini? Hei kau muslim! Yang telah diberi petunjuk! Tuhanmu mengisyaratkan untuk menajamkan pisaumu dan tidak menampakkan penyembelihan di depan hewan yang masih hidup! Tapi Alhamdulillah aku masih berada di peternak lokal dan di pasar tradisional, ayam broiler tersiksa lebih dahsyat lagi. Mereka diperlakukan seperti barang, mereka ditempatkan dalam besi-besi, naik ke atas conveyor belt dan disuntik dan dan lain lain lainnya yang aku tak bisa bayangkan. Apa kau manusia? Pesanku, ketika kuterhidang dalam piringmu, bersyukurlah pada Tuhanmu dan makan aku hingga habis. Hargailah perjuangku. Jangan kau memakan terlalu banyak teman-temanku yang lain. Cukuplah beberapa ayam saja yang kau mati untukmu.”

Aku menyerah. Tuhan aku tak bisa memimpin dunia ini. Aku bahkan tak bisa berkata apapun untuk mengubah keadaan ini. Aku tak bisa mengatur masyarakatku. Aku hanya bisa tidak setuju dalam hati, yaitu bukti imanku yang selemah-lemahnya. Hanya kasih sayangMu yang bisa menyelamatkanku.

Adh-Dhuha:3-5  Tuhanmu tiada meninggalkanmu dan tiada pula benci kepadamu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on August 17, 2011 by in Uncategorized.
%d bloggers like this: