inhale every moment

everything has it's inspiring story

Tugas Akhir: Pusat Kebudayaan Cirebon

 

Tahap ini sulit bagiku. Seperti salah satu ujian berat dalam hidupku karena memakan banyak sekali menguras keringat dan air mata bagiku. Pada tahap ini aku mulai berpikir ulang tentang apakah benar-benar arsitektur yang kuinginkan. Aku pun merasa tidak bahagia menjalaninya. Aku tak ingin hidup seperti ini kataku. Aku tak ingin memenuhi aktifitas dalam hidupku dengan melakukan hal yang tidak kusukai untuk mendapatkan uang. Aku tak mau hidup untuk uang. Padahal diluar sana orang lain, orang miskin, hanya memikirkan bagaimana mereka bisa makan hari ini. Aku tahu aku memiliki keberuntungan yang berbeda. Aku bisa memilih melakukan apa dan bagaimana sekehendak hatiku. Tapi aku tak mau melakukannya untuk sekedar hidup. Uang untuk makan. Makan untuk hidup. Aku tahu aku bisa melakukan hal yang lebih jauh dari itu. Dan aku mulai kesulitan bersyukur. Aku iri pada orang miskin itu yang berjuang keras untuk sesuap nasi. Untuk dirinya, tapi lebih banyak lagi untuk anak dan istrinya. Dan ketika mendapatkan rezeki mereka amat-amat bersyukur. Mereka bisa merasa cukup. Mereka bisa merasa bahagia hanya dengan perut yang agak kenyang dengan makanan yang seadanya namun bersama keluarga. Aku iri dengan rasa keberterimaan mereka akan nikmat yang Tuhan berikan. Tuhan memberi mereka sedikit, namun mereka sangat mensyukurinya. Mereka berbahagia dengan keadaan mereka. Aku diberi banyak, namun tak berhasil berbahagia. Aku tidak mensyukuri apa yang ada. Aku sungguh iri.

Aku belajar hal lain. Aku tidak menyukai semua hal berkaitan tugas akhir ini. Aku sangat terbantu oleh keluargaku, namun tetap saja aku harus berjuang keras. Aku semakin kesal dan ingin menyelesaikannya cepat-cepat. Aku memasang target mingguan, namun selalu meleset. Aku meleset, tapi tetap saja target yang meleset itu adalah suatu kemajuan. Kupikirkan sekarang, kurasa target mingguan itu yang terlalu mengawang-awang dan ketika tak berhasil menggapainya, ia tetap merupakan capaian yang cukup baik. Kali ini aku mencatat semua yang dosen pembimbingku minta. Aku hanya akan memminta bimbingan jika capaianku sudah melebihi hal-hal yang ia minta dan aku harus melakukannya seminggu sekali. Aku pernah dibimbing olehnya dahulu dan amat kecewa dengan caraku menangani tugas studioku. Aku mendapat BC darinya, dan itu karena aku benar-benar salah strategi. Di pertengahan tugas akhirku aku berhasil membuatnya berkata, “Kamu bagus. Konsepmu baik. Kamu membuat dua alternatif. Kamu sudah maju sampai denah secepat ini. Apa yang terjadi waktu itu, studio sebelumnya?”

Aku sangat ingat waktu studio sebelumnya aku memberikan kesan yang amat buruk saat preview dengan desain yang amat minimalis dan ia mencoret potongan prinsipku habis-habisan. Aku yakin aku tidak mengada-ada dengan potongan prinsip itu dan mendapatkannya dari literatur. Bodohnya, aku membiarkannya.

Aku tak ingin ini terulang di tugas akhir. Aku membuat targetku sendiri. Selalu ada yang salah dengan denahku namun aku tak ingin memiliki kemajuan dalam hal denah saja. Dan kadang, pembimbingku akan tetap menanyakan hal yang sama berkaitan dengan denah itu jadi aku langsung saja membuat tampak bangunannya tanpa menunggu ia menyetujui denahku. Tampak bangunan ia setujui karena aku memang memikirkannya masak-masak dengan konsep yang amat jelas. Konsep sangat-sangat membantu untuk menjelaskan mengapa dari ribuan desain di dunia aku memilih satu.

Kali ini, aku harus menanyakan potongan prinsip. Aku tak ingin gambarku ia corat-coret lagi seperti studio sebelumnya. Aku membuat ulang storyboard yang ia minta diperbaiki. Ini adalah asistensi gila yang kuminta 3 hari sebelum pengumpulan gambar. Aku mengusulkan satu gambar konsep untuk membantuku menjelaskan utilitas aliran air bersih. Pembimbingku menyetujuinya dan memintaku menambahkan dua gambar lagi! Gambar utilitas aliran air kotor dan gambar pencegahan dan evakuasi kebakaran. Yah. Matilah saya pikirku.

Aku mengerjakannya dalam dua malam. Aku pergi ke percetakan untuk mencetak gambarku alias ngeplot. Aku mencetaknya sehari sebelum pengumpulan gambar. Itu sudah menjadi kewajiban bagiku. Aku tak mau mencetak gambar di hari pengumpulan. Selesai ataupun tidak aku tak peduli. Salah satu gambarku tercetak gelap, dan aku masih punya satu hari untuk memperbaikinya.

Aku mengumpulkan gambarku 09.45 ketika deadlinenya adalah jam 12.00. Aku tak mau berdesakan dengan orang lain dan aku adalah orang yang sangat antisipatif entah kenapa.

Hari sidang tiba. Aku tidak mempersiapkan diri dengan latihan presentasi. Gambarku pada sidang terakhir ini bisa berbicara jauh lebih banyak daripada apa yang bisa aku jelaskan lewat kata-kata. Ya. Komunikasikan semuanya lewat gambar yang lengkap. Kata-katamu tak bisa diandalkan. Dosen pertama hanya menanyakan mengenai tema perancanganku dan sekuens dari pemandangan yang kuhasilkan dari rancanganku. Dosen kedua, sang ketua sidang menanyakan keefektifan desainku. Mengapa panggungku kecil, dimana meletakan gamelan, dan bagaimana jika sang penari ingin ke toilet. Pertanyaan lainnya adalah, mengapa menggunakan atap datar? Kujawab aku tak ingin atap menjadi satu hal yang dominan dan ajaibnya dosen ini tak bertanya lebih jauh padahal dosen ini setahuku takkan pernah puas dengan jawaban apapun. Dosen pembimbingku yang terakhir bertanya. Dan aku tak bisa menjawab pertanyaannya! Aku tak bisa menjawab pertanyaan yang diajukan oleh dosen pembimbingku sendiri! Beliau bertanya, “Apakah yang bisa memberitahukan orang bahwa bangunan ini ada di Cirebon? Karena cara merancang Anda adalah dengan mentransformasikan semua unsur budaya fisik yang gunakan.”

Aku tak bisa menjawab. Lalu dosen pembimbing lainnya, sang ketua sidang menjawabkannya untukku, “Apa kamu tidak sadar dengan material yang kamu pakai? Kamu menggunakan bata merah dalam tampak bangunan. Itu kan khas Cirebon!”

Saat paling melegakan adalah ketika mereka satu persatu mengucapkan terima kasih atas kerja kerasku. Hari itu akulah yang mendapatkan ucapan terima kasih atas kerja kerasku. Hari-hari sidang sebelumnya, aku gagal karena salah strategi. “Yah saya rasa hasil ini berbanding lurus dengan kehadiran anda di studio, 89% dan Anda memasukkan gambar pagi-pagi,” tutur ketua sidang. Saya berkata dalam hati bahwa bukan kehadiran saya di studio yang membuat saya menghasilkan sesuatu yang lebih baik, tapi kehadiran saya dalam perhatian saya terhadap tugas akhir saya, bukan hanya di studio, tapi juga dirumah.

Saya sudah tak mempedulikan nilai dari tugas akhir saya ataupun pengumuman kelulusan sore ini. Saya sudah puas dengan diri saya sendiri. Puas dengan kerja keras yang saya berikan. Saya tak mencintainya, tapi saya berkorban untuk untuk tugas ini. Dan yah yang penting adalah perasaan yang lega karena tahu bahwa diri ini sudah bekerja keras. Apapun penilaian orang lain, saya sendirilah yang benar-benar tahu nilai apa yang pantas untuk diberikan untuk perjuanganku selama ini.

Saya sadar pula bahwa semua ini bukanlah kerja keras saya semata. Saya rasa Tuhanlah yang kasihan melihat saya yang selalu meratap dan melawan rasa bosan, sedih, kesal, dan air mata. Salah satu keajaibannya adalah bahwa sebenarnya gambar saya terlalu besar untuk diplot. 25 MB. Saya ingat waktu itu mengahasilkan gambar 10 MB dan ditolak oleh operator percetakknya. Sehari sebelum pengumpulan gambar itu saya merasa beruntung karena semua gambar saya berformat .pdf yang besar-besar itu bisa tercetak meski membutuhkan waktu pooling (loading data ke plotter) selama 15 menit pergambar.

Allah. Thanks for the A.

Thanks for your company Meita Anissanti dan Bayu Mahendra Sadewo. One day when you google your name, you’ll end up here.

2 comments on “Tugas Akhir: Pusat Kebudayaan Cirebon

  1. Romi Bramantyo Margono
    July 25, 2011

    Woow, saya salut dengan perjuangannya, semoga saya bisa lebih banyak bersyukur, belajar dan puas akan semua usaha yang telah diberikan, semangaat Teh Susaaan!

  2. krisanti
    July 26, 2011

    Terima kasih Romi. Ada saatnya kau yang berjuang dan menjadi pejuang!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on June 24, 2011 by in Uncategorized.
%d bloggers like this: