inhale every moment

everything has it's inspiring story

Mimpiku

Mimpiku.

Artikel ini panjang. Yakin kamu mau baca???

Aku merasa bukan orang yang seperti orang kebanyakan. Sedikit aneh. Biarlah. Yang penting itu diriku. Aku yang jujur pada diriku. Aku yang tidak tertipu oleh apa yang orang lain anggap penting. Aku punya pemikiran sendiri tentang apa-apa yang kuanggap penting. Tidakkah kau juga begitu?

Ada banyak hal yang ingin kulakukan. Tapi tak yakin akan terlaksana atau tidak. Yang penting bermimpi terlebih dahulu karena bermimpi itu gratis. Kutulis disini sepertinya tak ada yang mau baca juga tulisan sampah seperti ini… tapi mungkin juga ada yang memiliki mimpi sama denganku.

Aku ingin ke Australia. Tepatnya Melbourne. Aku ingin mengulang keberadaanku disana karena merasa kemarin tak benar-benar belajar. Aku ingin duduk di salah satu ruang publiknya sambil memegang laptop untuk mengerjakan tugas kuliahku. Aku bisa saja berada di Bourke Street atau di pinggir Yarra atau di Botanical Garden. Aku tak tahu bahwa Melbourne adalah kota yang dirancang. Dirancang untuk pedestrian. Aku baru mengetahuinya sekarang! Aku ingin membeli sepeda atau jika beruntung mengambil sepeda yang sudah tidak terpakai yang disimpain di pinggir tempat sampah oleh mantan pemiliknya. Setelah itu aku akan menggunakannya sebagai alat transportasiku sehari-hari karena jalur sepeda yang memadai disana. Aku ingin masuk perpustakaan public yang gratis itu dan bersenang-senang seharian disana dan mencari buku Lutung Kasarung dalam bahasa Inggris. Aku ingin menaiki tram gratis yang berputar dalam kota yang destinasinya tak terduga. Aku ingin kembali ke Sydney Road yang penuh dengan bahan makanan halal dari berbagai etnis di dunia. Aku ingin makan lamachun dan kebab buatan keturunan orang Turki serta roti arab lingkaran yang agak keras ditaburi wijen buatan keturunan Arab. Aku ingin bersantai di pinggir danau dan memberi makan angsa ataupun burung liar disana. Aku ingin berguling di hamparan rumput hijau yang tumbuh dengan subur.

Aku ingin bernyanyi dan bermain gitar. Lebih ke arah ‘ngamen’. Mungkin bisa menjadi salah satu street artist di Bourke Street! –hehe-. Aku bahkan belum membeli strap (tali) gitar untuk mengalungkan gitarku di pundakku. Dan bahkan sekarang aku sudah tidak punya gitar! Sedih.. Pakai sajalah punya kakakku. Aku juga ingin belajar menyanyikan lagu Sunda dengan gitar! Gara-gara nonton Chealsee, cewe bule yang nyanyi ‘Indung’ di OVJ.

Aku masih belum tahu aku ingin pekerjaan seperti apa. Aku ingin bekerja atas dasar kesukaan. Seperti mencari jodoh saja! Iya benar! Seperti jodoh. Sesuatu yang kau cinta hingga yang kau kejar bukanlah uang, tapi seabrek aktivitas yang menyenangkan itu. -And now I’m reading a book by Rene …something, I forgot sorry called Your Job is Not Your Career. It’s expensive. And stupidly I bought it- Apakah itu? Yayaya.. aku sudah masuk jurusan Arsitektur… somehow I always feel this anger when I do it. Does it mean I don’t like it? Or am I just bored? Or is it not the kind of architecture I want? Well it’s my strength now. But the book says, “Passion is not what you’re good at, it’s what you enjoy most.” So what will I take for my postgraduate degree?? Majors to consider: Writing, business/management, architecture, landscape architecture, urban design, branding?

When it comes to picking a major, the real question is actually “What is the future dream that I want to come true?”

I still remember what Solo’s mayor had said in Emerging Architecture, “Pesan saya, banyak daerah yang akan dan terus berkembang, tugas kalianlah membuat rencana yang baik sebelum daerah itu berkembang dengan sendirinya tanpa aturan.” So, what I’d like to do is make a model of a good sustainable region, a homey place where people can live together with nature. I want to tell people how comfortable it is living close to nature in terms that we are a part of it by playing an essential role in the circle of life. Well the truth is, I still don’t know how to make it true when the real enemy is people’s mindset on what things they deem important in life.

Conclusion: making a sustainable & famous town!

Why am I using English???? Ya sudahlah. It’s just words.

Well the thing is. This dream is way too hard and probably impossible if I’m standing in my own feet. So, if I find people with the same dreams now, I can cooperate and make job division from now on and decide from now too on who should be expert on what to accomplish this huge dream. Well this is tough. Very tough.

The real honest truth from the bottom of my heart –lebay-, I’m lonely in my steps. My steps in the past. My steps in the future. I haven’t found them or they haven’t found me. Or I haven’t shown myself that I’m here and this is what my dream is.

Aku tak ingin sendiri. Tak ingin sendirian mewujudkan mimpi-mimpi ini. Maybe a girl. Maybe a boy. But to catch all dreams with a ‘him’, It’ll rather be as my husband. Kurasa yang penting adalah dia menemaniku. dan aku menemaninya. Semoga orangnya cukup ‘gila’ untuk melakukan hal-hal di luar kebiasaan. Kalau dia punya mimpi yang lebih baik, aku akan ikut. Jika kami berbeda, mari tumbuh bersama. Itu cukup. Tak harus melimpah harta. Aku juga ingin memanfaatkan ilmu yang entah bagaimana seharusnya kumiliki karena telah melalui tugas akhir, untuk sesuatu, untuk membantu manusia ini, teman sampai tua ini. Tapi kurasa, ia akan berkata, “Ini tugasku. Tugasku bertanggung jawab atasmu.” Dan aku akan diam dan menghargai keputusannya itu. Tapi kuakan berkata, “Lakukanlah apa yang hatimu ingin lakukan, tapi aku tetap ingin menggunakan ilmuku, walau sedikit bolehkan? Aku lebih suka melakukannya berdua. Kau juga bersamaku mengurus rumah tangga. Memasak bersama. Mencuci bersama. Aku tak perlu banyak harta, karena tak yakin kebahagiaan datang darinya.” – sumpah gue nulis apaan inih?? keliatannya ini dialog tanpa kehadiran ‘anak’. Ga tau pengen ‘berdua’ dulu. Wakakakaka what the heaven am I writing???

Speaking of this, which do you prefer? Anak dalam keadaan keuangan berkecukupan bahkan lebih? Atau agak melarat? Kau kenal Suichiro Honda? Beliau menafkahkan seluruh penghasilannya untuk negaranya. Anaknya? Anaknya dibiarkan hidup dalam keadaan pas-pasan seperti ketika dia kecil. Seingatku begitu kisah hidupnya.

Kau tahu? Aku pun dengan keadaanku sekarang, merasa kesulitan bersyukur. Aku sulit berterima kasih atas keadaanku sekarang. Semua serasa hampa. Terasa ada yang hilang. Apakah yang hilang itu? Rasa qonaah itu. Rasa berterima kasih kepada Tuhan. Kau tahu? Aku nyaris ingin melakukan seperti yang di tivi-tivi. Jika Aku Menjadi. Kurasa tanpa serial tivi itu ada pun, aku ingin melakukannya. Aku tak belajar banyak mengenai ‘bersyukur’ dari kampusku. Bukan salah kampusku, tapi aku yang tak berhasil memetiknya. Aku pun merencakan ingin menghabiskan hariku dengan mbok jamu yang suka datang tiap pagi. Sialnya, pagi ini, mbok itu tidak muncul. Aku berandai-andai mengenai apakah hal-hal yang bisa kuamati , kulakukan dan kupelajari darinya. Aku berimajinasi. Bahkan dari sekedar berimajinasi, aku sudah merasa mendapatkan pelajaran.

Aku mengaku bahwa aku bodoh dalam hal menghadapi hidup dan dalam hal bersyukur. Aku bersedia belajar dari orang lain. Siapapun itu.

Aku ingin mendesainkan atau memberi sentuhan ‘touch up’ dari hal-hal yang hanya ada di Indonesia. Aku ingin memberi wajah baru pada pedagang asongan yang dengan kreatifnya memanfaatkan situasi dikala macet melanda lalu lintas. Menurutku mereka mengurangi kewajiban pemerintah dalam menyediakan lapangan pekerjaan, karena mereka membuatnya sendiri. Namun, mereka pun seharusnya diberikan pendidikan tentag bagaimana mengelola sampah, keuangan, kehidupan, keamanan di lalu lintas kejujuran dalam menyediakan makanan&minuman yang memang layak dikonsumsi dan segudang peer lainnya. Kurasa dengan penampilan yang seragam atau baki ‘etalase’ yang lebih cantik akan membuat mereka senang bekerja –jalan pintas kontribusi desainer, secara estetika- . Tak hanya pedagang asongan. Hal-hal unik yang hanya ada di Indonesia, sebaiknya dimunculkan ke permukaan, jika ia kurang baik, perbaiki. Pedagang kaki lima hanya ada di Indonesia dan mereka adalah sebuah keunikan. Pengamen yang turun dan naik angkot pun keunikan. Pasar tradisional pun keunikan. Topeng monyet pun keunikan (sejujurnya saya sangat kasihan dengan monyet2 itu. Perbaikan dalam segi perlakuan terhadap hewan SANGAT perlu diperbaiki. Seperti yang saya katakan sebelumnya, mereka hanya perlu diarahkan.

Dengan pedagang kaki lima, aku ingin membuatkan papan kain nama yang seragam formatnya. Mendesainkan kursi meja yang terlihat lebih menarik. Memakaikan seragam pada karyawan. Mengajarkan cara hidup bersih sehat. Cara mengolah makanan yang baik dan bersih. Cara menyajikan makanan yang menarik. Daftar menu yang rapi. Sistem akuntabilitas aliran modal dan laba kaki lima. Cara menghemat energi dari lampu dengan sel surya. Cara melayani pelanggan. Table manner ala Indonesia. Hmmm… setelah kupikir-pikir, semua jurusan bisa berkontribusikan sesuatu… -kalau teknik kelautan?? nah itu bingung.- Oh yah, yang paling mudah dan jitu untuk dilakukan adalah merelokasi tempat mereka berdagang yang sama strategisnya dengan tempat semula –ini doang pun ribet-.

Dengan pengamen, aku ingin mengusulkan kepada mereka untuk menguasai lebih banyak jenis lagu. terutama lagu daerah. Pakai pakaian daerah juga boleh. Atau dilengkapi dengan mic? Kau tahu? Kadang memang ada hal-hal yang memang sudah menjadi dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Maksudku adalah aku hanyalah orang luar yang berandai-andai bisa membuat sesuatu menjadi lebih baik, padahal belum tentu begitu dan kurasa orang yang bergelut dengan hal ini cukup lama pasti lebih tahu –absolutely just an excuse, because I have totally no idea how me in my perspective can make any better changes-.

Dengan pasar tradisional aku tahu harus melakukan apa karena aku sering kesana. Mereka harus memiliki titik-titik berjualan dan batas-batas barang dagangan. Jarak antar mereka, sesama pedagang dan juga pembeli harus tetap dalam skala personal. Kurasa inilah inti dari sebuah pasar tradisional Indonesia, interaksi yang hampir intim antara pengunjung, pedagang, sesama pengunjung, dan sesama pedagang. This is something already good. Probably pasar ini seperti tempat bertemunya orang untuk barter pada zaman dahulu atau kini tapi di pelosok Indonesia.

Indonesia amat kaya. Namun semuanya hanya belum ‘terkemas’ dengan baik sehingga belum banyak yang percaya. Jadi ingin belajar ‘branding’. Hal kecil yang kulakukan adalah membuat tulisan di internet tentang Kebun Binatang Bandung. Aku ingin menambahkan sedikit info kepada wisatawan yang menggoogle. Bila Kebun Binatang Bandung ini memiliki souvenir shopdan website resmi, itu sudah satu kemajuan. Aneh lah disini mah yang miliki pemda pada sedih2. Yang milik swasta kan heboh2. TVRI tuh sedih. Sumpah ga nyambung.

Aku juga ingin dengan konstan berinteraksi dengan mereka yang kurang beruntung. Misalnya sesekali ke panti asuhan atau mengajar anak-anak yang kurang mampu. Yang perlu disedekahkan bukan hanya senyuman, bukan hanya uang, tapi juga ilmu. Dan tujuanku bukan untuk membantu mereka. Aku tak mengajar, tapi aku belajar untuk membuat orang mengerti maksudku. Aku tak memberi karena kelebihan harta, tapi karena aku kekurangan rasa berterima kasih.

Aku ingin membuat sebuah bisnis yang ramah lingkungan. Mengedukasi pembeli. Memberikan produk terbaik pada pembeli. Menginspirasi bahwa yang dicari bukanlah barang murah atau barang mewah atau barang indah, tapi barang yang baik.

Aku ingin menulis. Menuliskan apa yang kurasa, yang kupelajari, yang kuinginkan. Aku ingin memberitahukan diriku apa yang kuinginkan. Memberitahu mereka yang ingin kuberitahu. Mungkin cucuku di masa depan ingin tahu apa yang ada dipikiran neneknya saat berumur 22 tahun.

Aku ingin bercerita. Membuat cerita yang kaya akan makna. Cerita yang memiliki banyak pelajaran namun tak bermaksud menggurui. Cerita hanya berguna bagi ia yang ingin mengambil pelajaran darinya. Namun, kurasa cerita sangatlah efektif dalam memberikan pelajaran. Cerita dapat tersaji dengan kata-kata berbaris, lirik-lirik berirama, gambar-gambar  bersusun hingga penyatuan ketiganya dalam film. –Akibat nonton wayang golek di perayaan Suara Merdeka kemarin dan Avatar yang membuat sakit kepala saat memikirkannya dalam-dalam (I should be living with the forest!)-

Mimpi yang indah. Mimpi itu gratis. Memimpikan sesuatu yang indah sudahlah satu anugrah untukku. Jika terwujud, pasti serasa surga dunia. Allah aku berdoa padaMu, jodoh pekerjaan dan suami yang kubutuhkan, kusayangi, kucinta. I guarantee You Lord, what makes me happy the most is when I –or we when I’m married- is being beneficial human beings.

And this is the dream I can possibly imagine with my current education. What will happen in the next ten years will show how respectful I am to my own dreams. Well I’d like to find out.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on June 24, 2011 by in Uncategorized.
%d bloggers like this: