inhale every moment

everything has it's inspiring story

Cerita pendek tentang cinta 7 “Pertanda”

 

Ben. Itu namaku. Aku suka olahraga basket lebih dari apapun dan menjadi anggota klub basket di kampusku. Aku sangat menyukai saat-saat ketika energi dalam diriku bisa tersalur dengan bebasnya melalui otot-ototku ketika berlari dan melompat. Aku termasuk handal dalam menangkap bola-bola rebound yang meleset. Nomor punggungku 13. Angka sial kutahu tapi aku suka dua nomor itu berurutan karena membentuk huruf B. B untuk Ben, namaku. Aku adalah orang yang benar-benar tak peduli apa kata orang. Aku takkan melakukan sesuatu karena semua orang disekitarku melakukannya. Aku punya pendapat dan pemikiranku sendiri. Aku sangat independen. Akulah yang memutuskan setiap langkah yang kuambil. Namun, satu langkah agak meleset yaitu masuk jurusan arsitektur.

Aku memilih Arsitektur karena rasa benci dan bukan rasa suka. Aku punya kakak laki-laki dengan kedua kaki yang lumpuh sejak lahir sehingga harus memakai kursi roda untuk melakukan hampir semua aktivitasnya. Akulah yang selalu disuruh mengantarnya ketika berjalan-jalan keluar rumah. Kau bisa bayangkan bagaimana sulitnya berjalan-jalan dengan kursi roda di Indonesia? Ya. Tak semua jalan pun ramah pejalan kaki apalagi untuk kaum difable seperti kakakku. Begitu pula dengan bangunan-bangunannya. Saya dan keluarga harus terlebih dahulu melihat tempat yang akan kakak kunjungi, termasuk sekolah yang akan menjadi tempatnya belajar, apakah memiliki fasilitas untuk kaum difable atau tidak. Fasilitas yang kami anggap paling penting adalah adanya ramp (bidang miring) yang bisa dilalui ke tempat-tempat yang penting, lift jika bangunannya bertingkat dan juga toilet khusus yang berukuran lebih besar dari toilet biasa yang dilengkapi dengan closet duduk. Mencari tempat seperti ini sangat sulit hingga aku mulai mencari seseorang untuk disalahkan. Siapa yang salah? Arsitek. Aku benci arsitek yang tidak memfasilitasi kaum difable! Dan aku akan tunjukkan bahwa aku akan menjadi arsitek yang peduli akan kaum difable.

Ternyata, Arsitektur tidak begitu menarik hatiku seperti yang kubayangkan. Rasa benciku tak berhasil memberiku hasrat untuk mengerjakan tugas-tugas kuliahku. Aku tak tahan duduk begitu lama di depan gambar, baik itu di kertas atau komputer. Aku bahkan baru tahu bahwa mahasiswa Arsitektur adalah mahasiswa yang sering begadang karena tugasnya yang merepotkan. Aku meluapkan semua kekesalanku lewat basket. Alhasil, nilai-nilaiku pas-pasan dan aku mengulang beberapa mata kuliah. Tapi aku tak menyesal. Aku memang tak suka. Mengapa harus dipaksakan? Sebaliknya, prestasiku dalam olahraga basket terbilang bagus. Akulah kapten timku. Teman-temanku mendeskripsikan diriku sebagai pemain basket yang benar-benar all out. Aku mengeluarkan semuanya pada setiap gerakan dalam pertandingan. Mereka bisa merasakan rasa cinta dan semangatku yang membara terhadap basket saat aku bermain. Seakan bola basket itu adalah bagian dari diriku dan aku bisa membawanya dengan penuh kendali.

Aku tak pernah merasa benar-benar jatuh cinta. Kurasa aku belum menemukan seseorang yang aku kagumi. Perempuan cantik memang banyak, tapi kurasa kecantikan itu untung-untungan. Kecantikan fisik itu terserah bagaimana yang Tuhan ingin berikan pada hambaNya. Dan rasanya, itu tak adil jika memilih berdasarkan sesuatu yang tidak diusahakan oleh orang tersebut. Seperti ketika kau hanya punya satu kado tapi ingin memberi pada sekelompok anak. Kau akan memberikannya pada orang yang usahanya paling besar.

Suatu hari kuliah aku terperanjat oleh seorang teman perempuan yang meminta perhatian di depan kelas. Dia meminta bantuan teman satu kelas untuk membantu seorang ibu tua yang suka mengumpulkan sampah di depan gedung kuliah kami. Dia sedikit bercerita, “Saya tak sudi memberi peminta-minta di jalan, baik itu anak kecil ataupun orang dewasa. Saya sangat tak suka fakta bahwa mereka meremehkan diri mereka sendiri dengan merasa bahwa mereka tidak Tuhan berikan apa-apa sehingga mereka hanya bisa meminta belas kasih orang lain. Sekarang, ada seseorang diluar sana, sudah tua renta, wanita, tak layak lagi bekerja, berjuang keras, mengais rezeki dari sampah kita sehari-hari. Dari sampah kita, nenek itu mengumpulkan botol dan kaleng plastik kita dan juga sampah kertas kita. Saya disini merasa tergugah oleh beliau. Cara beliau menghormati diri sendiri untuk tetap berjuang dengan usahanya sendiri. Saya merasa malu jika saya tak melakukan apapun. Saya disini meminta teman-teman yang memiliki pandangan yang sama seperti saya, untuk melakukan sesuatu. Bagaimana bentuknya saya tidak membatasi siapapun. Namun saya memberikan sebuah sarana melalui hal kecil yang konsisten yaitu dengan teman-teman memisahkan sampah botol kaleng dan kertas dalam tempat sampah yang terpisah. Bentuk pemberian seperti ini masih harus beliau olah terlebih dahulu sebelum mendatangkan uang. Dan saya rasa beliau yang saya rasa memiliki harga diri yang tinggi seperti itu akan lebih merasa mudah menerimanya daripada uang secara langsung. Tapi uang tak masalah juga. Ada yang bersedia membantuku lebih jauh?”

Teman perempuanku ini, Rena,  berhasil menarik perhatian satu kelas. Aku bisa merasakan kesungguhannya. Aku bisa merasakan bahwa ia sama sekali tidak berakting atau menarik perhatian orang lain. Ia hanya menjadi dirinya sendiri. Ia punya pemikirannya sendiri dan tak ada satu perkataannya pun yang tidak aku setujui.

Aku mengajukan diri untuk membantu Rena dalam hal membantu nenek pengumpul sampah ini.  Kami sering bersama dan berbincang-bincang. Tak hanya dalam pandangan mengenai membantu nenek pengumpul sampah kami satu suara, namun juga dalam berbagai hal lainnya. Kami sering berbincang amat seru mengenai suatu isu, seperti masalah perilaku manusia Indonesia yang belum ramah lingkungan, dahsyatnya kearifan lokal, kayanya warisan budaya Indonesia, dan lain sebagainya.

Saat itu pula aku merasa dipertemukan Tuhan dengan perempuan yang membuatku kagum. Dia cantik. Dia pintar. Dia baik. Dia hebat. Dia idealis. Dia begitu apa adanya. Dia sholehah. Namun, semua kelebihannya itu hanya membuatku minder. Memang wanita seperti ini yang kucari, tapi aku merasa tak pantas untukknya. Aku tak begitu dekat dengan Tuhan dan terbilang bodoh dalam hal perkuliahan. Bersamanya hanyalah mimpi bagiku.

Ternyata impian Rena membantu nenek tak semudah itu tercapai. Mencari tempat pengumpulan botol kaleng dan kertas harus melalui prosedur  yang rumit. Mencari metode yang tepat untuk mengelola tempat pengumpulan barang-barang tersebut pun sulit.  Belum lagi karyawan dalam gedung yang juga tertarik untuk menjual barang-barang ini untuk penghasilan tambahan. Rena pun mulai terbebani dan mencari bantuan lebih banyak lagi. Seringkali dia meminta bantuanku, tapi aku tak selalu bisa membantunya. Aku terbelenggu oleh posisiku sebagai kapten dan juga dengan kuliah-kuliahku. Aku merasa tak cukup banyak membantunya dan seringkali meninggalkannya.

Aku semakin jarang bertemu dan akhirnya Rena lulus lebih dahulu. Rena pun berhasil membuat tempat pengumpulan botol kaleng dan kertas entah bagaimana caranya. Setelah lulus langsung mendapatkan beasiswa S2 di luar negeri. Yah… dia terlalu ‘tinggi’ untukku.

Aku sudah memiliki pekerjaan. Meski gajinya tak banyak, aku menyukai pekerjaanku. Aku menemukan kesenanganku dengan arsitektur. Aku menemukan kebahagiaan ketika rancanganku menjadi nyata. Aku merancang kawasan taman kota yang ramah pejalan kaki dan juga kaum difable di Solo. Rancanganku terwujud dengan mudahnya karena walikota kota ini sangat peduli dengan perbaikan infrastruktur kotanya. Aku pun mengajak kakakku ke taman kota ini. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku merasa bersyukur mengenal arsitektur.

Dua tahun berselang. Aku melihat status Rena lewat facebook bahwa dia sudah kembali ke Indonesia. Hanya lewat facebook aku bisa tahu kabarnya tanpa menyapanya langsung. Aku segan menyapanya. Aku pun sudah tak asing lagi dengan pemberitaan bahwa ada seorang laki-laki yang berusaha melamarnya. Kira-kira sudah tiga orang. Rena menolak semuanya, padahal menurutku mereka semua pantas mendapatkan Rena, apalagi jika dibandingkan dengan diriku, mereka jauh lebih baik dari segi keimanan dalam pandanganku. Aku ingat suatu hadist, “Bila telah datang (untuk melamar) kepada kalian seorang lelaki yang kalian ridhai agama dan perangainya (akhlaqnya), maka nikahkanlah dia, bila kalian tidak melakukannya, niscaya akan terjadi fitnah di bumi dan kerusakan yang merajalela.” (Riwayat At Tirmizy, Sa’id bin Mansur, At Thabrany, Al Baihaqy dan dihasankan oleh Al Albany). Ada pula hadist lain, “Nikahkanlah ia dengan pria yang beriman karena bila ia mencintainya maka ia akan memuliakannya. Dan bila ia tidak mencintainnya maka dia tidak akan mendzaliminya“. Hadist lain juga menuliskan bahwa “Ada tiga perkara yang harus disegerakan, yaitu: (1) shalat apabila waktunya telah tiba, (2) menguburkan jenazah apabila sudah datang, (3) seorang perempuan apabila sudah didapat (jodohnya) yang cocok).” (HR Tarmizi). Padahal dahulu aku ingat Rena pernah mengatakan bahwa ia ingin menikah sebelum berumur 25 tahun. Bahkan teman-teman dekatnya pun sudah menikah semua.

Aku harus ke kampus untuk memberi sedikit pengarahan pada adik-adik di klub basket kampus. Tak disangka aku melihat Rena. Aku melihatnya dari kejauhan. Aku mengamatinya dengan perasaan senang. Aku belum siap menemuinya dan berlindung di balik dedaunan agar tak terlihat olehnya. Kulihat Rena sedang makan es durian di depan kampus. Es durian? Tanyaku dalam hati. Rena tidak suka es durian! Es durian itu kesukaanku. Aku pernah membelikan satu untuknya dulu tapi dia hanya makan dua suap karena tak menyukainya dan aku yang habiskan. Durian itu amat menyengat baunya dan bisa menghancurkan semua bumbu atau rasa apapun yang ada di dekatnya. Begitulah pendapat Rena.

Aku pun melihat dari jauh dia memakai jaket dengan angka 13 kecil pada bagian dada sebelah kanan. 13 adalah nomor punggungku! Ada yang berkata bahwa ketika kita mencintai orang lain, kita mulai bersedia melakukan hal-hal yang tidak kita sukai. Apakah es durian itu pertanda ia mengharapkanku? Apakah angka 13 itu juga pertanda yang sama?

Aku ingin melamarnya, namun ragu. Aku memang mencari seseorang meski sebenarnya hatiku masih mengharapkan bisa mendapatkan Rena. Aku, seperti caraku bermain basket, tak ingin kehilangan peluang. Aku langsung membuka internet di handphoneku dan membuka ‘dinding’ facebooknya untuk mengetahui apakah ia sedang dilamar seseorang atau tidak. Aku tak mendapatkan jawabannya. Aku pun membuka foto-fotonya. Tak kutemukan petunjuk, tapi menemukan hal lain. Dia sering memakai baju warna biru. Itu warna kesukaanku! Ketika kuliah bersamaku dia hanya suka memakai baju merah dan hitam warna favoritnya. Aku makin girang.

Aku lalu menelepon teman dekatnya, Ani, untuk mengetahui apakah Rena sedang dalam proses lamaran atau tidak, karena aku tak boleh melamar orang yang sedang dilamar orang lain. Ani pun tidak tahu namun bersedia menanyakan Rena dengan meneleponnya sekarang juga. Tak lama kemudian kulihat Rena sedang mengangkat telepon. Ia terlihat tersenyum sesekali ketika berbincang dengan lawan bicaranya di telepon. Dugaanku itu dari Ani dan mereka mengobrol sekitar 8 menit –kira-kira-. Lalu, Ani meneleponku. “Dia sedang tidak dilamar siapa-siapa,” kata Ani.

Aku melompat kegirangan dan tak berhenti tersenyum. Masalah selanjutnya adalah mulai ngobrol dengan Rena. Aku memutar otakku untuk beberapa saat dan memutuskan untuk tidak berpikir tapi langsung berbuat. Aku akan langsung melamarnya. Entah bagaimana caranya, tapi aku sangat yakin dengan tiga pertanda, es durian, angka 13 dan baju warna biru, bahwa akulah orang yang ia tunggu. Aku tak tahu akan mengatakan apa dan bagaimana yang jelas maknanya adalah bahwa aku berniat melamarnya. Aku pun mendekatinya, “Assalamualaikum Rena.”

“Walaikumsalam,” jawabnya dengan wajah gembira seperti biasa yang sering ia tampakkan padaku. “Apa kabarmu Ben? Sekarang sibuk apa?”

“Alhamdullillah baik, saya sekarang sudah bekerja di Solo.”

“Sebagai apa?”

“Saya di bagian prasarana di Bappeda Kota Solo.”

“Wow! Pasti bahagia sekali disana bersama Pak Djoko Widodo. Pasti seperti melakukan hal-hal ideal yang serasa utopis dilakukan di Indonesia!”

“Yap. Betul sekali! Bukannya kamu ga suka duren yah?”

“Hm…” Rena mulai tersipu, “Ga tau nih aneh, ada rasa bahagia aja makan es duren.”

“Gimana, sudah punya calon suami? Atau malah sudah punya anak? Saya sedang mencari seseorang, calon istri yang kira-kira akan bahagia juga jika mau ikut saya ke Solo dan mendukung saya dalam pekerjaan saya sekarang dan mungkin suatu saat nanti membangun kota ideal di daerah terpencil. Adakah perempuan yang bersedia menemani saya yah?”

“Mmm… kurasa ada,” Rena berkata.

“Maukah Rena jadi perempuan itu?”

“Hah? Apa ini sebuah lamaran?” Rena terhentak.

“Ya.”

“Mmm…”

“Bagaimana?”

“Mmm…”

I’ll take that as a ‘Yes’!” aku memaksa. I’ll take that as a ‘Yes’ berarti Saya anggap itu jawaban ‘Ya’.

“Ih seenaknya!”

“Terima kasih ya Ren.”

“Aku kan belum bilang ‘ya’!”

“Tuh udah bilang ‘ya’”

“Hmmmmm….. Oke.Oke. Aku mau ketemu dong dengan Pak Djoko Wi.”

Dan begitulah dialog ‘melamar’ yang kurang jelas tapi berhasil. Hehehe…

Alhamdulillah. Ini adalah rahmat Allah. Aku mulai berdoa dan percaya doaku terkabul sejak aku bersedekah setiap hari. Aku merasa sedekahku inilah yang membuat doaku terkabul karena aku merasa bahwa inilah hal kecil namun konsisten yang bisa aku lakukan untuk membuatku dicintai olehNya dan aku takkan berhenti! Selain itu, aku benar-benar meyakini doaku akan terkabul. Yeay!

——————————————————————————————————————————————Keterangan:

Rebound adalah suatu istilah dalam permainan bola basket dimana seorang pemain menangkap atau mendapatkan bola pantul yang tidak berhasil masuk yang ditembakkan oleh pemain lain.

difable: akronim dari istilah different ability atau kemampuan berbeda, di Indonesia lebih sering disebut cacat fisik

Bappeda adalah Badan Perencanaan Pembangunan Daerah

Djoko Widodo adalah walikota Solo yang dikenal sebagai walikota yang benar-benar membangun daerahnya dengan cerdas.

http://id.wikipedia.org/wiki/Joko_Widodo

😛

MALUUU!!

One comment on “Cerita pendek tentang cinta 7 “Pertanda”

  1. Ardian bagas fisaba
    January 11, 2013

    Keren!🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on June 24, 2011 by in Uncategorized.
%d bloggers like this: