inhale every moment

everything has it's inspiring story

Pelajaran dari yang ‘kecil’

Pelajaran dari yang ‘kecil’

Aku sedang tertidur lelap di rumah milik paman dan bibiku di Pelesiran. Tidur untuk mengobati lelahku berjalan-jalan sendirian. Aku terbangun karena diganggu anak laki-laki kecil ini. Sebenarnya, kasur ini miliknya, dan dia lebih berhak atas kasurnya itu. Aku lelah kala itu dan aku jarang sekali diganggu jika tidur. Aku bangun dengan kesal, tapi seperti biasa aku berusaha tenang. Aku ingin pulang, tapi Bibiku menyuruhku makan sebelum pulang. Aku pun tak jadi pulang dan makan terlebih dahulu.

Aku segan karena diminta makan juga, padahal aku sudah beristirahat pula disini, di rumah kecil ini. Sialnya, aku pun lapar setelah mengunjungi empat tempat hari ini. Aku mulai mengambil nasi. Aku mengambil potongan daging ayam terkecil dari panci berisi opor itu. Aku pun mengambil sedikit dari tumpukan sambal goreng ati dan kentang. Kumulai menyantapnya dan subhanallah! Enaknya! Nasinya empuk dan aku suka sekali sambal goreng ati tak pedas namun penuh bumbu itu. Mmm…. Aku suka sekali. Aku pun menambah makanan dipiringku.

Heran. Aku betah sekali berada di rumah ini. Rumah ini kecil jika dibandingkan dengan rumahku. Hanya ada 5 ruangan totalnya. Satu ruang besar untuk warung, dua kamar tidur, satu ruang transisi dan hanya satu kamar mandi. Aku merasa senang disini dan bodohnya aku merasa rumah ini seperti rumahku sendiri.😛

Pasti karena keramahan orang-orang didalamnya. Bibiku amat ramah dan beliau berhasi menularkannya pada anak-anaknya. She’s the homemaker I guess. Yes it’s true that the wife really makes the atmosphere in the house. Poor architects. They make houses, not homes.

Setelah makan, suara adzan ashar perlahan-lahan meriuh. Aku yang berencana segera pulang mengurungkan niatku. Aku bergegas ke kamar mandi dan berwudhu. Aku kembali ke kamar anak kecil ini dan merebahkan sejadah merah besar. Aku masih agak ngantuk. Anak kecil ini pun bertanya, “Teh Usan, kenapa ga semangat?”

Pertanyaan yang aneh, pikirku, “Tadi diganggu Aji sih pas tidur.”

“Teh mau sholat? Ikut!”

Aku mengenakan mukenaku dan menunggunya sebentar saja karena sudah dia sudah datang secepat kilat.

“Udah!” katanya sambil berdiri disampingku dan berada dalam posisi hendak solat.

“Mana sarungnya?” tanyaku.

“O iya,” sambil mencari-cari sesuatu di dalam lemari. Ia pun mengeluarkan sesuatu. Sehelai kain yaitu baju dalam atau singlet. Diapun memaksakan menggunakannya sebagai sarung.

“Itu mah singlet!”

“Biarin udah jelek.”

Tiba-tiba anak itu berguling di kasur dan terdiam. Lalu ia bermain sendirian dengan mainannya.

“Jadi ga ikut sholatnya?”

“O iya.”

Kali ini dia benar-benar mencari sarungnya di pinggir kasur dan ketemu. Kukira hanya sampai situ tingkahnya, ternyata dia tak tahu cara memakai sarungnya. Kutawarkan diri untuk membantu tapi tak disetujui, “Sama Aji aja.”

Bibiku pun datang dan melihat adegan itu. Ia pun memberikan beberapa instruksi dan akhirnya terpasang juga sarung itu.

“Aji jadi imam yah!” pintaku dan dia pun menyetujuinya.

Aku baru saja meminta anak laki-laki berumur 6 tahun untuk menjadi imamku sholat. Anak TK! Tapi kuyakin bahwa ini tak apa-apa. Ini adalah pelajaran.

“Allahu akbar,” sambil mengangkat tangannya. Anak ini membacakan doa iftitah dengan dikeraskan. Lalu Al Fatihah pun demikian. Ternyata semua bacaan dikeraskan. Ruku, sujud, tahiyat, semuanya. Kurasa begitu latihan sholat di sekolahnya. Namun kadang-kadang ia melihatku apakah aku mengikuti gerakannya atau tidak. Kadang aku pun harus memberi isyarat gerakan selanjutnya. Hebatnya adalah sholat Ashar 4 rakaat ini kurasa cukup panjang untuk seorang anak yang membaca keras semua bacaan. Menurutku dia melaluinya dengan baik, tetap dalam rangkaian sholat bahkan hingga membaca rangkaian doa setelah sholat. Akhirnya ia pun berkata, “Aduh cape yah!”

Hebat. Aku menilainya dalam hati.

Kau tahu. Dia anak kecil berumur 6 tahun. Laki-laki. Kurasa bagaimana pun. Laki-laki tetap laki-laki. Tetap pemimpin bagi wanita. Pemimpin semua wanita. Wanita yang lebih muda maupun yang lebih tua. Maka, seberapa mudanya laki-laki itu, ia tetap memimpin semua wanita. Uh. Beratnya. Namun, kuyakin Allah tak memberinya tanggung jawab tanpa memberinya kekuatan. Jadi sebenarnya dia –laki-laki- punya cukup kekuatan untuk memimpin. Mungkin, dia hanya tak tahu kalau dia kuat. Mungkin dia bahkan tak percaya kalau dia kuat.

Aku. Wanita. Tak berarti tak punya tanggung jawab. Wanita dituntut untuk menghasilkan laki-laki yang hebat, tapi tetap saja, suaminya tetap bertanggung jawab atas pertanggung jawaban istrinya. Maksudnya, kalau istri salah, suaminya tetap bertanggung jawab atas kesalahan istrinya.

Aku. Wanita. Manusia. Tetap memiliki tanggung jawab atas diriku sendiri. Setiap manusia adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggung jawabannya. Manusia. Bertanggung jawab untuk menjadi pemimpin di dunia. Sadarkah? Jika sadar apa yang sudah diperbuat? Ingatkah kesombongan ketika dulu kau menyanggupi saat Tuhan bertanya padamu, “Apakah kau siap menjadi manusia, memimpin dunia, dan tetap taat pada Tuhanmu?”

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on June 22, 2011 by in Uncategorized.
%d bloggers like this: