inhale every moment

everything has it's inspiring story

Kalah Telak

7 January 2011

Saya merasa sangat beruntung dengan semua yang sudah saya miliki baik itu di masa lalu ataupun sekarang. saya memiliki keluarga jauh yang sangat baik dan rela berkorban banyak untuk saya padahal saya tak merasa pernah melakukan kebaikan yang berarti untuk mereka. Saya diizinkan menginap dengan fasilitas yang didahulukan ketimbang diri mereka sendiri, akan mengantar kemanapun saya mau, membuatkan makanan favorit saya, bahkan menyiapkan banyak sekali oleh-oleh untuk dibawa pulang, menawarkan banyak sekali hal yang boleh saya minta. Keluarga terdekat saya pun demikian. Ketika saya belajar mobil dalam adegan mundur di kegelapan, saya berhasil memasukkan ban belakang ke dalam selokan dan merusak bagian belakang mobil. Perkataan yang saya dapat bukanlah ungkapan kekecewaan dan kemarahan karena saya tidak berhati-hati, melainkan, “Jangan patah semangat ya belajar nyetirnya!” dan beruntung saya dibantu sangat banyak oleh para penghuni rumah sekitar lokasi kejadian. Tapi, kesimpulan yang saya dapat adalah bahwa saya adalah orang yang diizinkan oleh Tuhan untuk menikmati semua ini. Terkadang menikmati tanpa sadar bahwa itu adalah sebuah nikmat yang luar biasa.

Saya suka menonton televisi yang penuh dengan manusia yang rupawan dan juga iklan-iklan yang menyatakan betapa buruknya penonton dan bisa diperbaiki dengan membeli produk mereka. Jujur saya sering merasa minder dengan apa yang saya miliki. Saya merasa tidak cantik. Saya kurang ini dan itu. Intinya saya tidak puas, tidak bahagaia, tidak menikmati, tidak suka dengan keadaan saya sekarang.

Bu Eni, tokoh dalam sebuah acara televisi berjudul Orang Pinggiran adalah tokoh yang hidupnya membuat mata saya terbuka. Beliau adalah seorang pemakan nasi aking. Nasi basi. Beliau telah tinggalkan suaminya tanpa kabar, dan anak-anaknya yang juga tak bisa menjaminnya kehidupan mereka sendiri. Beliau tinggal di kolong jembatan, tanpa pekerjaan, mengurus cucunya, mengurus kucing. Saya tak bisa menuliskannya sesuai dengan visualisasi yang saya dapat mengenai beliau di televisi. Beliau dahulu bekerja sebagai pembantu rumah tangga di komplek sekitar tempat tinggalnya di kolong jembatan, namun berhenti karena sudah lemah oleh usia. Beliau melihat warga komplek tersebut –komplek padat penduduk yang juga tergolong miskin- terkadang suka membuang nasi basi jika kebetulan memiliki nasi sisa. Beliau meminta warga untuk memasukkannya kedalam kantung plastic dan menggantungkannya di pagar rumah untuk beliau ambil setiap paginya. Beliau mengumpulkannya namun tak setiap pagi beliau mendapatkannya karena tak selalu pula para warga komplek mempunyai nasi sisa. Nasi sisa itu kemudian beliau keringkan hingga berwarna kekuningan. Sebagian beliau jual untuk pakan ternak, sebagian beliau makan sendiri dengan merebusnya. Merebus dengan panic dengan api dari kayu bakar. Bila ada sedikit uang, beliau membeli tempe untuk menemani nasi akingnya.

Namun, beliau mengutamakan dua hal lain di atas dirinya. Pertama adalah cucunya yang ibunya menjadi TKW dan bapaknya yang tak sering datang. Beliau juga memberikan nasi aking yang masih cukup bagus dan merebusnya untuk cucunya ini. Dalam gambar, saya melihat seorang bayi laki-laki yang lucu dan mudah sekali tersenyum. Terkadang, bu eni ini tak makan agar cucunya bisa mendapatkan yang layak. Kedua, adalah kucing-kucing sekitar rumahnya –saya tidak bisa menyebutnya rumah karena atapnya adalah jembatan yang tingginya sekitar 10meter dan dindingnya hanyalah susunan-susunan perabot-. Kucing-kucing ini juga mendapatkan nasi aking dan jika beruntung disertai potongan ikan. Jika bu Eni mendapatkan ikan, ia akan mengutamakan kucing-kucing ini.

Saya merasa kalah. Kalah telak oleh Bu Eni ini. Bahagia dan tetap berbagi dalam seburuk-buruknya kondisi. Yang menjadi penting bagi beliau bukanlah dirinya, melainkan orang lain bahkan makhluk lain. Yang menjadi penting adalah bagaimana memaksimalkan diri untuk memberi bagi orang lain. Yang penting bukanlah memenuhi kebutuhan diri sendiri. Dan saya rasa, beliau bisa menikmati semua itu. Beliau bahagia.

Sedangkan saya? Saya merasa hidup saya biasa saja bahkan kurang. Tak ada rasa syukur karena malah merasa tidak puas dengan apa yang saya miliki sekarang. Lihatlah apa yang saya pentingkan dalam hidup saya. Penampilan. Perkataan orang. Pandangan orang. Mana rasa syukur saya?

Saya dibuat lebih terkejut lagi oleh sebuah desa di ‘pelosok’ Indonesia yang terbelakang dalam hal pendidikan. Desa itupun bercita-cita untuk mencetak sarjana dari desa mereka sendiri. Mereka bergotong royong dan mengumpulkan uang untuk merencanakan sebuah beasiswa. Seorang siswa SMA yang berniat dan memang ingin kuliah dibiayai oleh seluruh warga desa untuk menimba ilmu.

Sedangkan saya? I take it for granted. Saya bisa kuliah dengan mudah dan saya tidak serius menjalaninya. Saya terkadang bermalas-malasan dan dikuasai oleh perasaan saya dan mempersalahkan suasana yang tidak mendukung ataupun bahwa saya merasa bahwa ini bukan bidang saya. Saya berkutat dan terbelenggu oleh hal-hal yang bersifat kesesuaiaan dengan keinginan atau tidak. Mana rasa syukur saya?

Saya juga tergerak oleh Mochammad Thoha yang tidak berpendidikan tinggi namun berhasil menciptakan prototip pesawat mata-mata dari gabus seperti yang amerika miliki sekarang dan juga sebuah trikopter. Beliau belajar dengan cara mencari informasi di internet dan trial error dengan barang elektronik yang ada. Rumah beliau sempit dengan sebuah lab kecil seadanya, namun selalu didatangi banyak orang dari latar belakang yang bervariasi untuk belajar kepadanya.

Sedangkan saya? Saya sudah berada dalam posisi yang nyaman untuk mendapatkan apapun yang saya inginkan. Tapi saya tidak memanfaatkan itu semua dengan maksimal. Bilapun saya memanfaatkan itu semua, akankah saya bersedia berbagi dengan orang lain?

Akhir-akhir ini saya mencari apakah sebenarnya hal yang penting bagi saya? Apakah hal-hal yang paling membuat saya bahagia? Saya suka menulis untuk mencatat hal-hal yang telah saya pelajari agar saya tak lupa. Saya suka bernyanyi keras-keras (bahkan musik rock sekalipun) untuk menyalurkan gelora dan semangat dalam diri saya. Saya juga suka berolahraga untuk mengeluarkan tenaga saya yang serasa ingin keluar dari diri. Saya suka jalan-jalan untuk melihat hal-hal baru atau yang jarang saya lihat hanya untuk mengatasi kebosanan. Semua itu memang membuat saya bahagia untuk sesaat. Namun, semua itu tak benar-benar membuat saya bahagia. Saya rasa ada yang salah.

Saya sangat terpaku pada diri saya sendiri dan saya tak pernah mendapatkan jawaban yang pasti mengenai siapa diri saya, apa yang penting bagi saya atau apa yang benar-benar bisa membuat saya bahagia. Saya mulai berkata pada diri sendiri, “Mungkin saya tak harus memulai menjawab pertanyaan saya ini dengan berorientasi pada diri sendiri. Saya tak yakin saya bisa membuat diri saya benar-benar bahagia, tapi saya selalu bisa berusaha membuat orang lain bahagia. Dan itu lebih terasa ketika dia yang kubuat bahagia tersenyum.”

Saya terganggu dengan diri saya yang merasa kurang cantik. Saya merasa kurang percaya diri jika penampilan saya tidak maksimal secara fisik, tidak seperti dia-dia yang ada di televisi. Saya sangat tidak nyaman dengan ini dan saya tahu bahwa ada yang salah dengan cara berpikir saya. Saya tahu bahwa ada bagian kehidupan lain yang belum saya sadari keberadaannya. Dan saya rasa saya menemukannya, rasa berterima kasih atas apapun yang saya punya. Ini yang hilang.

Saya lupa bahwa Tuhan menciptakan sesuatu takkan pernah main-main. Semua orang punya perannya masing-masing. Saya tak harus berperan sebagai orang cantik karena bukan itu tugas saya. Saya yang menyukai menulis tak harus berperan sebagai orang yang mendalami matematika. Sudah ada orang lain yang digariskan Tuhan memiliki hasrat untuk bergelut dengan rumus-rumus tersebut. Tuhan sudah memikirkan segalanya. Tugas saya hanyalah menjadi diri sendiri. Memaksimalkan potensi yang saya punya dan berfokus pada itu. Dan ketika itu terjadi, saya telah menjalankan peran saya yang memang sudah Tuhan plot kan dari awal.

Terkadang kudengar dalam sebuah kajian keagamaan bahwa sabar adalah setengah agama. Apakah yang setengahnya lagi? Setengahnya lagi adalah syukur. Manakah yang lebih sulit? Syukur.

Sebuah buku mengatakan bahwa kita sebenarnya sudah memiliki apapun itu yang kita perlukan. Kita sudah memiliki semua perangkat untuk memenuhi kebutuhan kita. Semua solusi dari masalah yang ada di Negara kita ada di Negara kita sendiri, perbaikan itu ada dalam diri kita sendiri. Drs. H. Subrata, M.H, seorang pemerhati budaya Cirebon pun merasa bahwa, “Solusi dari semua permasalahan bangsa dan negara ini adalah kembali kepada identitas nasional, integritas nasional, dan kredibilitas nasional.”

Sebuah liputan mengenai energy terbarukan, Modern Marvel,  pun mengatakan bahwa sumber energy ada di sekitar kita dan bersifat local. Bila tak banyak angin untuk PLT Angin, maka pasti ada sumber lain yang memang melimpah di daerah spesifik tersebut. Begitupun arsitektur. Bahan-bahan bangunan yang ada disekitar, sudah cukup untuk membuat sebuah rumah, seperti es melimpah dikutub untuk igloo, pasir melimpah  di arab untuk membuat rumah kotak dan juga batu karang yang melimpah untuk membuat pura di Bali.

Indonesiaku. Kau kaya potensi. Namun, tak banyak yang percaya bahwa kau sebenarnya kuat. Bahwa kau sebenarnya indah. Kau sebenarnya bisa. Itu hanya mereka yang melihatmu sebagai beban dan bukan harapan. Mereka yang mengeluh dan berkata-kata tak kan pernah bisa melihat kilaumu sedikitpun. Mereka enggan berusaha menghapuskan debu dan kotoran yang menutupi keindahanmu. Maafkan aku yang seringkali berpihak pada mereka.

Kuyakin bahwa keyakinan bahwa Indonesia sudah memiliki semua yang diperlukan, dimulai dari diri yang juga berkeyakinan bahwa ia sudah memiliki apa yang diperlukan.

 

 

One comment on “Kalah Telak

  1. montesqiew
    March 25, 2011

    saluuutt… keepon writing!!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on January 8, 2011 by in Uncategorized.
%d bloggers like this: