inhale every moment

everything has it's inspiring story

Cerita pendek tentang cinta 5 “Putus”

Sakit. Sakit sekali. Ditinggal dia yang kucinta adalah perasaan yang menyakitkan. Bagiku ini sangat sakit. Sangat sakit. Aku disakiti. Aku ditinggalkan. Dia jahat. Aku membencinya. Aku benci! Aku benci! Aku tetap sering mengingatnya. Mengingatnya lalu ingat pada rasa sakit dan rasa benci. Aku adalah korbannya.

Aku sangat ingat perkataannya bahwa ia yang takkan pernah meninggalkanku, akan selalu ada disampingku dan ingin menyongsong masa depan bersamaku. Aku sangat ingat dan selalu ingat kata-kata itu. Aku menggaris bawahi kata-kata itu dalam benakku dan menganggapnya sebagai kata-kata sakti. Kata-kata itulah yang membuatku terus bersamanya. Kata-kata itu yang membuatku berharap. Berharap dengan sangat tinggi. Terbang tinggi. Namun, mereka hanyalah kumpulan kata. Yang ketika  kutanyakan padanya yang mngucapkan kata-kata itu, ia tak merasa mengatakannya. Ia tak ingat mengatakannya. Apa? Ya memang begitu. Kata-kata indah yang kuanggap tumpuan dan janji ternyata hanyalah omongan, bualan, yang menguap hingga ia tak mengingatnya sama sekali. Tapi bagiku itu kata-kata yang sangat ‘suci’.

Aku dan dia baru saja memasuki bangku kuliah yang merupakan pengalaman yang baru bagi kami. Dunia baru yang tak kami kenal. Dan kurasa dunia baru ini mempesonanya. Mempesonanya hingga dimatanya dunia baru ini jauh lebih menarik ketimbang diriku. Dunia itu adalah dunia music tradisional. Kejadian yang jelas adalah ketika aku mengundangnya dalam sebuah acara keluarga dirumahku dan dia tak memilih untuk datang ke rumahku. Ia memilih untuk mengikuti acara di dunia barunya itu. Yah, aku memang tersingkir. Dan berakhirlah aku dan dia.

Aku sakit. Sakit karena dia meninggalkanku. Aku adalah orang yang ditinggalkan. Dibuang. Aku merasa sedemikian gagal dan merasa tak berharga. Aku tak berarti apapun baginya dan itulah alasannya mengapa aku dibuang. Aku bukan apa-apa. Aku tak berarti. Aku gagal. Aku disepelekan. Aku dikalahkan oleh sesuatu yang lain yang hadir dalam hatinya. Aku disingkirkan. Disingkirkan oleh dunia barunya.

Aku tak pernah merasa sesakit hati ini. Aku menangis di kamarku. Aku tak keluar kamar berjam-jam dan orang tuaku menyadari hal itu. Ayahku datang ke kamar dan aku tak bisa menyembunyikan apa-apa. Aku menangis di pelukan ayahku. Aku mengatakan padanya, “Kukira ia serius denganku, ternyata tidak.” Hanya kata-kata itu yang keluar dari mulutku tanpa penjelasan apapun lebih lanjut. Ayahku berkata, “Perempuan yang baik hanya untuk laki-laki yang baik. Yakinlah akan hal itu, karena itu perkataan Tuhan.” Aku hanya meneruskan tangisanku hingga aku lelah menangis.

Aku sakit. Sangat sakit. Tapi aku berusaha mengendalikan diriku. Aku tak bisa memaafkannya. Aku tak bisa meski sudah kucoba. Lalu, kuputuskan untuk mencoba memaafkannya dengan berpura-pura memaafkannya. Aku berpura-pura memaafkan, namun tak berhasil. Aku menyingkirkan semua barang yang kudapat darinya atau apapun yang berhubungan dengannya. Aku menghapus nomor kontaknya pada handphone-ku –walau sebenarnya sia-sia karena nomor itu ada dalam otakku-.

Beberapa bulan berselang. Suatu hari aku diundangnya untuk datang dalam konser musiknya. Dia datang sendiri ke rumahku untuk mengantar undangannya. Entah mengapa aku bersedia untuk datang. Aku pun datang. Datang sebagai tamu dengan temanku yang lain. Kau tahu apa yang terjadi? Aku menangis disana. Aku tak tahan. Aku tak bisa membendungnya. Aku menangis diantara kerumunan. Aku menangis karena mengingat rasa sakit itu. Aku pun menangis karena aku merindukannya. Aku pun menangis karena aku membencinya. Aku menangis. Lebih tepatnya hatiku yang menangis, karena otakku tak benar-benar tahu apa sebenarnya yang membuatku sedih. Dan menangis tanpa tahu apa sebabnya adalah hal yang menjengkelkan.

Beberapa bulan berselang. Aku masih sakit hati. Ketika aku mulai sibuk dengan hal lain, dan tiba-tiba mendengar jenis musik yang sama dengan yang dibawakan olehnya –aku benar-benar tak bisa menghindar karena kelompok pemusik jenis ini selalu berlatih dekat dengan tempat aku kuliah-, aku akan merasa sesak. Hatiku akan sakit lagi. Sangat sakit. Aku akan berjalan cepat dan menutup telingaku. Bila kakakku memutar lagu jenis ini pun, aku akan memintanya mematikannya. Aku bisa memimpikannya dalam malam-malamku. Kuingat pernah hingga satu minggu penuh malam-malamku dipenuhi olehnya. Ini sudah lama berlalu, tetapi mengapa masih menyakitkan? Aku pun tak tahu.

Aku sakit sendirian. Aku membenci dan bersedih hingga tanpa sadar aku mengubah diriku sendiri. Aku menjadi pemurung. Aku tak mudah percaya pada orang lain dan tak berani terbuka. Aku tak mudah berbahagia. Pada suatu kesempatan, aku berada dalam sebuah forum “Sekolah Pranikah” –aku iseng sekali mengikuti forum itu, dengan alasan mungkin aku akan sibuk tahun-tahun selanjutnya, dan tahun adalah saat yang tepat untuk mengikutinya karena aku tak begitu sibuk-. Disana sang pembicara berkata, “Siapa yang disini mempunyai rasa sakit hati dengan seseorang, tapi masih terus teringat-ingat?” Saat itu, aku ingin mengangkat tangan, tapi tak jadi kulakukan. Seseorang gadis telah mengangkat tangan. Sang pembicara menyuruhnya berdiri, dan menyuruhnya memaafkan orang yang membuatnya sakit hati. “Bilang pada hati Anda, ‘Ya Allah, aku memaafkannya.’,” kata sang pemateri pada gadis yang mengaku belum memaafkan itu.

“Sekarang, katakan dengan lantang,” perintah sang pemateri. Gadis itu pun mulai menangis lalu mengatakannya dengan perlahan, ‘Ya Allah, aku memaafkannya.’

“Ulangi lagi tiga kali!”perintah selanjutnya meluncur. Terdengar suara gadis yang terganggu oleh tangisannya sendiri. “Ya Allah, aku memaafkannya. Ya Allah, aku memaafkannya. Ya Allah, aku memaafkannya.’’

“Ucapkan sekali lagi dengan keras dan ucapkan namanya,” tegas sang pemateri untuk terakhir kalinya. Sang gadis pun berteriak dengan mata yang berlinang, “Ya Allah, aku memaafkannya. Aku memaafkan Listi.”

Aku tak berani mencobanya. Aku hanya menuliskan kalimat itu dalam diariku. Aku hanya mencurahkan isi hatiku pada kertas-kertas bergaris ini. Tulisanku sangat mencerminkan keadaan hatiku. Aku menuliskan “Farel aku memaafkanmu” berulang ulang hingga aku lelah. Pertama-tama menulis dengan tulisan besar-besar dengan tarikan yang keras dan tajam dengan kekuatan yang berlebihan akibat rasa kesal hingga tulisan kecil-kecil rapi yang terkontrol karena lama-kelamaan aku bisa lebih tenang. Kurasa ini menjadi terapi yang baik. Tapi hanya untuk sesaat saja ternyata.

Dua tahun berselang dan aku sudah mulai melupakannya tapi hanya sedikit. Tapi kurasa aku belum memaafkannya. Aku menonton sebuah tayangan televisi tentang keluarga yang terancam bercerai namun ditengahi oleh para psikolog berjudul “Masihkah Kau Mencintaiku?” Sang psikolog menjelaskan tentang proses manusia saat menghadapi sebuah masalah dalam hidupnya yang tak bisa dielakkan. Kurang lebih, beginilah prosesnya. Ketika seseorang tertimpa sebuah musibah, orang itu akan cenderung melakukan ‘denial’ atau penyangkalan atas apa yang terjadi. Kemudian lahirlah ‘anger’ atau kemarahan. Lalu ia akan depresi jika tak sanggup menahannya. Namun, jika orang itu kuat, matang atau memiliki spiritualitas tinggi, ia akan menerima apa yang terjadi padanya.

Tahun ini banyak sekali hal yang memudahkanku menyembuhkan lukaku sedikit demi sedikit. Di kesempatan lain aku membaca sebuah kisah di buku Life Lessons. Kisahnya adalah sebuah kejadian nyata tentang orang yang dioperasi namun tak merasa keadaannya membaik. Ia bolak balik ke rumah sakit dan pihak rumah sakit merasa tak ada yang salah dengan dirinya. Akhirnya ia mengunjungi rumah sakit lain lalu mengetahui bahwa sebenarnya dokter meninggalkan peralatan operasi di tubuhnya. Awalnya ia marah dan kesal. Ia bisa saja mengguggat dokter dan rumah sakit itu, tapi ia memilih untuk memaafkan. Ia memaafkan dokter yang tak sengaja meninggalkan peralatan operasi di dalam tubuhnya dengan cara memaafkan dirinya sendiri dan berpikir bahwa ia tetap beruntung karena dokter itu tetap berhasil menyelamatkan nyawanya. Ia berkata bahwa sebenarnya ia memaafkan dirinya baru kemudian bisa memaafkan orang lain. Poin itu yang ingin kulakukan juga. Aku belum memaafkan diriku yang gagal. Gagal menjadi perempuan yang berharga. Gagal menjadi perempuan yang pantas dimiliki.

Aku sangat terbantu dengan kedua peristiwa ini. Aku tahu bahwa ini adalah sebuah proses. Proses menerima kenyataan. Proses menerima apa yang terjadi pada diriku. Proses menerima kegagalanku. Aku kini tahu bahwa bila aku kuat dan matang, aku akan bisa menerima dan tak ada lagi kesedihan. Aku melihat ke cermin dan mengatakan pada diriku bahwa aku memaafkan diriku. Aku boleh mengalami kegagalan dalam hidupku. Aku bukan seseorang yang sempurna yang tak mungkin gagal. Aku adalah orang yang sedang dalam tahap belajar dan memang akan selalu belajar. Aku adalah perempuan biasa yang juga mengalami hal yang lumrah orang lain alami pula. Jatuh cinta dan patah hati itu memang selalu ada kan? Tak hanya di era modern kan? Zaman nabi Adam pun demikian kan? dengan peristiwa pembunuhan pertama dimuka bumi?

Aku melupakan fakta bahwa aku sebenarnya sedang sangat tidak menghargai diriku sendiri. Aku membiarkan diriku dalam kesakithatian padahal aku bisa saja mengambil hak diri ini untuk berbahagia. Aku lupa bahwa aku memiliki pilihan ini. Aku pun lupa bahwa hidup bukanlah tentang masa lalu atau apalah itu yang sudah terjadi. Aku harus melihat kedepan dan mengisi hari-hariku. Aku memang terbentuk oleh segala hal yang ada di masa laluku dan memang tak semua yang kupelajari yang membentuk diriku seperti sekarang ini adalah dari hal-hal mudah yang menyenangkan, tapi dari hal-hal sulit yang menyebalkan dan menyesakkan. Aku juga lupa bahwa ketika seorang pria baru akan datang didalam hidupku, dia hanya akan menghabiskan waktu bersama dengan masa depanku dan bukan masa laluku.

Selain aku tak memilih untuk berbahagia, akupun baru sadar bahwa aku memfokuskan diri pada hal-hal yang buruk saja. Padahal masih amat banyak sisi-sisi positif yang tak kulirik sedikitpun. Aku juga memfokuskan pada hal yang tak kumiliki daripada hal yang telah kumiliki. Aku seharusnya berbahagia dengan semua pemberian Tuhan dan bahwa ketidakberdayaan adalah nikmat. Aku akan merasakan betapa indahnya ketika ada seseorang yang muncul untuk mengisi ketidakbedayaan itu. Namun, aku harus mengizinkan orang lain untuk mengisinya terlebih dahulu.

Aku punya teman yang baru benar-benar kukenal satu tahun ini dan aku menemukan sebuah boneka babi pink ‘piglet’ lucu yang tergantung di mobilnya. Boneka itu dari mantan pacarnya –kalau ku tak salah-. Dan hebatnya dia masih menyimpannya. Dan tak ada rasa penyesalan dari temanku itu meskipun setiap hari selalu ada disana yang sekali-kali bisa mengingatkannya pada mantan kekasihnya. Aku mencoba cara itu. Aku mulai mencoba membuka diri, dimulai dengan menggantungkan sebuah gantungan kecil bundar, hitam putih, yang Farel berikan, pada handphoneku. Dan kali ini, aku berhasil. Aku tak merasa terganggu sedikitpun oleh benda yang mengingatkanku padanya.

Aku ingin menguji diriku lebih jauh lagi. Aku datang dalam konser musicnya tahun ini. Aku bertemu dengannya dan merasa semua benar-benar baik-baik saja. Aku tidak menangis. Akupun tidak khawatir sedikitpun. Aku memang mengingat masa menyedihkan itu, tapi kutahu bahwa itu hanya sebuah peristiwa yang telah kualami di masa lalu. Menyakitkan memang, tapi sudah kulalui. Aku sudah memaafkan diriku sendiri. Aku melaluinya dengan tiga tahun berproses. Tak mudah bagiku. Tapi aku berhasil melaluinya. Dan aku senang telah berhasil melaluinya walau butuh waktu yang sangat lama.

Aku kini mengerti diriku lebih baik. Sebenarnya aku sudah diingatkan sebelumnya mengenai sifatku ini ketika aku SMP. Ketika itu, guru Bimbingan Kounselingku menulis bahwa aku harus berhati-hati dengan keinginan dan ekspektasiku yang tinggi. Aku akan terjatuh dan sakit sangat dalam jika aku tak berhasil meraih ekspektasiku itu. Sebenarnya aku merasa sang guru seharusnya mengatakan juga padaku agar tidak terlalu perfeksionis dan kaku yang menganggap semua hal bisa berjalan sesuai kehendakku dan juga tidak terlalu mengandalkan diri sendiri bahwa aku kuat hanya dengan mengandalkan diriku sendiri. Itu semua juga karena memang pada apa yang telah kulakukan, aku bisa meraihnya dengan usahaku sendiri dan jarang sekali gagal. Paling hanya sedikit meleset. Bahkan, aku pernah mengatakan bahwa mungkin suatu hari nanti aku akan menjadi orang tua tunggal saja dan tidak memerlukan laki-laki untuk mengurus keluargaku –parah banget lah!-. Aku sangat mengandalkan kemampuanku sendiri yang tanpa kusadari itu berarti juga tidak percaya pada orang lain dan bahwa mereka bisa membantuku. Ada satu lagi yang agak mistis. Bibinya Farel berkata bahwa aku adalah orang yang baik namun bila sakit hati aku takkan mudah memaafkan.

Aku yang sekarang adalah aku yang amat berbeda. Aku menyadari kesalahanku waktu itu. Aku menyimpan masalahku pada diriku sendiri dan tak percaya pada orang lain. Itu karena kurasa ini adalah aib yang amat besar karena selama ini orang-orang selalu menganggap aku adalah orang yang selalu berhasil dan tak mungkin melakukan sebuah kesalahan. Aku takut akan image-ku yang hancur. Aku belum menyadari bahwa sebenarnya aku boleh melakukan kesalahan. Aku boleh tampil sebagaimana adanya diriku yang memang manusiawi yang bisa melakukan kesalahan.

Aku kini mulai sering mencurahkan isi hatiku. Aku akan mengatakan perasaanku dengan lebih gamblang. Kisah ini pun baru kuceritakan setelah 2,5 tahun berlalu –bukti bahwa aku sangat tertutup-. Ketika seorang lelaki baru mengambil hatiku, aku akan menceritakannya pada orang lain dan tidak mengandalkan diriku sendiri dalam menghadapi suatu masalah –dan kutahu bahwa yang seharusnya aku ‘curhati’ terlebih dahulu adalah Tuhan kemudian orang tua-. Aku juga lebih sering meminta pertolongan orang lain. Aku lebih sering tersenyum dan membuka pembicaraan pada seseorang yang belum kukenal sekalipun. Aku merasa memiliki hati yang lebih ringan dengan aku yang mulai terbuka dan bersedia menerima kebaikan yang berasal dari luar pada diriku.

Aku kini menerima diriku apa adanya. Aku memang tak berarti dimata seseorang, namun tak berarti begitupun dimata setiap orang. Aku percaya bahwa suatu saat Tuhan akan mengirimkan orang yang sempurna untukku. Sempurna dalam arti semua kelebihan dan kekurangannya bisa kuterima dan begitu juga sebaliknya, orang itu bisa menerima kelebihan dan kekuranganku. Bersyukur atas kelebihan dan bersedia memaklumi kekurangan dan bersabar dan memberi kesempatan bagi orang itu untuk menjadi lebih baik. Semua tentang keberterimaan dan membuka kesempatan bagi diri atau orang lain untuk berubah menjadi lebih baik.

Hal lain adalah memakai kacamata orang lain. Aku sudah mengerti cara melihat dari sudut pandang orang lain, tapi aku tak mempercayainya. Aku yang sekarang baru sadar, bahwa seharusnya aku mempercayai sudut pandang baik orang lain dan berpikir positif. Aku dahulu tak menerima bahwa alasan sebenarnya Farel meninggalkanku adalah bahwa aku belumlah pantas untuknya.

Aku belum bisa dia miliki karena memang belum waktunya.

Dia belum mapan untuk mengambilku sebagai sebuah tanggung jawab.

Dia tak mau menikmati sesuatu yang belum halal untuknya.

Dan itu artinya ia sangat menghormatiku.

Sejujurnya aku tak benar-benar tahu alasannya yang sesungguhnya. Tapi alasan-alasan ini yang ingin kupercayai. Aku sekarang telah bergerak mengyongsong masa depanku sendiri. I’ve moved on and getting ready to pursue my own dreams.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on December 29, 2010 by in Uncategorized.
%d bloggers like this: