inhale every moment

everything has it's inspiring story

Seseorang Yang Tak Kau Kenal – 18102010

She is not me.

Sore yang dingin namun layak disebut adem di bandung amat memikatnya. Ia kemudian duduk sendiri menikmati udara. Ia sendirian. Ia duduk dan menghirup udara yang disukainya sambil melihat apapun yang tersuguh di depan matanya, yaitu apapun di depan selasar Arsitektur.

Ia sendiri. Bingung apakah ia harus mengajak seseorang untuk duduk bersamanya atau tidak. Tapi, ia tidak akan suka bila ia sampai ditolak karena gagal mengajak orang lain. Begitulah. Maka, ditelannya sendiri sikapnya itu. Sendiri.

Ia tak suka bergantung atau menggantungkan kebahagiaan pada orang lain. Namun ia lupa bahwa ia takkan pernah bisa hidup sendirian.

Ia penuh. Pikirannya penuh. Penuh oleh pemikirannya tentang apapun yang menurutnya terlalu cepat atau terlalu mentah dalam detik hidupnya. Ia memikirkannya dalam-dalam. Bahkan terlalu dalam. Saking dalamnya ia tak bisa mengeluarkannya dan mengungkapkannya pada orang lain. Bagaimana bisa? Mengeluarkan isi otaknya menjadi kata-kata pun hal yang sulit.

Ia penuh. Ia tenggelam dalam otaknya. Tenggelam dalam pikirannya dan terasing dari dunia nyata. Mungkin Andreas yang lain. Namun, itupun Andreas yang ia definisikan sendiri. (ampun dre… -_-)

Ia harus pulang. Begitu katanya. Sudah sore dan bagaimanapun harus pulang. Baru sembuh dan dorongan amat kuat menyuruhnya pulang. Hujan dinginkan udara yang sebelumnya sudah dingin. Ia tetap melangkah pulang. Ia melangkah seakan hujan tak pernah turun padahal nyata tetes-tetes air membasahinya. ia memang begitu. Sesuatu yang nyata bisa ia telan hingga menghilang. tapi hanya menghilang di dunianya.

Ia tetap berpikir. Ia tetap tenggelam. Ia tak merasa perlu hidup. Ia tetap terasing dalam dirinya bagaimanapun dunia luar. Ia ingat sesuatu. Ia ingat hal yang paling membuatnya berguna adalah ketika ia duduk di tempat bernama panggilan selasar arsi, seekor kucing duduk dipangkuannya. Ia merasa kucing itu membutuhkannya. Ia merasa dibutuhkan. Itulah alasan yang dia anggap tepat untuknya tetap merasa perlu hidup. Hidup diluar otaknya sendiri. Hidup dan membuka kehidupannya dan membiarkan orang lain menyapa dan mewarnai hidupnya, hidupnya dalam otaknya.

Ia kemudian bertanya. Apakah ini wajar? Apa seharusnya manusia pada umumnya tak berpikir sepertinya? Apakah menjadi dirinya sudah cukup?

She is me.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on October 18, 2010 by in Uncategorized.
%d bloggers like this: