inhale every moment

everything has it's inspiring story

finding my passion – 03102010

Semua berlalu demikian cepat. Ada kegiatan ini lalu ada yang berikutnya. Kegiatan ini dan itu. Ternyata sakit kepala ini hadir dan memaksaku berhenti. Berhenti untuk beristirahat. Berhenti untuk kemudian berpikir. Berhenti untuk meresapi. Berhenti untuk memaknai. Berhenti untuk memahami.

Dan inilah hasil pemaknaanku belajar darimu. Darimu kawanku,kawanku dari komunitas di Bandung, kawanku di ITB. Tepatnya, darimu Tuhanku.

Aleut, komunitas yang dengan sukarela memberikan pengetahuan mengenai sejarah kota Bandung. Sukarela? Kenapa? Cape amat? Ga dapet duit. Yang ada dapet cape! Ya. Pelajaran inilah yang kudapat dari berbagai komunitas di Bandung, seperti Sahabat Kota dan Yayasan Pengembangan Biosains dan Bioteknologi, dan Aleut.

Yang dicari bukanlah uang. Yang dicari adalah kekayaan hati, kekayaan jiwa. Inilah jalan yang mereka rengkuh dengan hati. Inilah panggilan jiwa mereka. Inilah hal yang membahagiakan mereka. Bagiku itulah sebenar-benarnya hidup. Sebenar-benarnya hidup. Memenuhi panggilan jiwanya. Kuyakin bahwa sebuah panggilan jiwa yang hakiki bukanlah yang berpikir terbatas pada diri sendiri. Kuyakin bahwa panggilan jiwa adalah sesuatu yang membuat seseorang memiliki manfaat yang luar biasa bagi orang lain.

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.” (al Hadits)

“Ketika kau memikirkan orang lain, Tuhan akan mencukupkan kehidupanmu. Ketika kau memikirkan masyarakat, Tuhan akan mencukupkan keluargamu. Ketika kau memikirkan negaramu, Tuhan akan mencukupkan kotamu.” (pembelajaran dari M. Firaldi Akbar)

“Green is about not only thinking about you and not only talking about now.”

Dan akupun berdoa, “Ya Tuhanku, percepatlah pertemuanku dengan panggilan jiwaku.” Pekerjaan yang kucintai yang sesuai dengan kesukaanku dan kapasitasku. Pekerjaan yang kucintai dan dicintaiNya. Kuyakin cinta yang membahagiakan adalah memberi. Maka tentulah pekerjaan yang dicintai itu adalah yang bermanfaat bagi banyak orang dan sesuai dengan minat dan bakat. Jadi akan memberi manfaat dengan lebih dahsyat lagi. Bukankah itu inti dari ‘proficio’? (pembelajaran dari Achmad Faris Saffan)

Passion. Find it. Make it your profession. (pembelajaran dari 3 idiots)

Ketika itu menjadi sebuah panggilan jiwa dan berasal tulus dari hati, maka ia akan menjadi sesuatu yang membara. Membara memberikan manfaat bagi orang lain.

“Seniman itu cenderung menggunakan material local, amat menghormati budaya local, dan mengikuti hati nurani masyarakat  tanpa memberi cap pada diri mereka bahwa mereka ‘Go Green’. Berbeda dengan arsitek yang menggembar gemborkan seharusnya begini seharusnya begitu namun pada kenyataannya merka tak melakukannya.” (Tri Yuwono)

Yah. Seniman adalah orang yang menjiwai pekerjaannya. Itulah hasratnya yang sesuai dengan hati nuraninya. Dengan passion itu mereka memiliki kepekaan hati yang tinggi dan pada akhirnya mereka tak hanya memikirkan diri sendiri.

Komunitas ini menjalankan passionnya dan memberi pengetahuan pada masyarakat mengenai sejarah Bandung. Mereka tak digaji. Namun memiliki kau sebagai salah satu dari orang yang mendengarkan cerita mereka adalah ‘gaji’ yang mereka inginkan. Ngaleut dengan komunitas aleut adalah pembelajaran arsitektur yang paling menyenangkan bagi saya. Yang saya suka adalah formatnya. Berjalan-jalan dan melihat dengan nyata bendanya, diberi penjelasan filosofi dan sejarah beserta fotonya dimasa lalu, dan yang paling untuk adalah bagian diskusi dan refleksinya. Sebenarnya, konten arsitekturalnya tidak terlalu banyak karena pembimbing perjalanannya bukanlah arsitek, namun lebih seperti sejarawan yang berkisah yang berkisar antara sejarah dan mengapa bangunan ini dan itu dibuat.

Kita sudah sering belajar arsitektur lewat apa yang dosen sajikan. Terkadang membosankan hingga tertidur walau dosen sebenarnya sudah bersusah payah menyajikannya dengan baik melalui slide show yang penuh dengan gambar. Kita pun kadang-kadang belajar lewat buku ataupun internet, namun yang kita cari hanyalah gambarnya dan tak menggubris tulisannya. Ekskursi dengan format seperti ekskursi Bali penjelasannya sedikit dan kita hanya bisa mendeteksi maksud arsitek dari bentuk fisik dan suasana yang hanya kita tangkap pada suatu saat saja. Ada yang hilang. Kita tak benar-benar tahu maksud seorang arsitek merancang ini dan itu. Sedangkan penjelasan dari sebuah gambar atau bentuk fisik yang dikatakan bisa mewakili seribu kata-kata, tetap tak mampu menyampaikan semuanya. Tetap ada hal-hal yang tak bisa dikomunikasikan melalui visualisasi. Sedihnya lagi, terkadang hal-hal pentinglah yang tidak bisa dijelaskan melalui gambar, hal-hal seperti nilai dan filosofi yang melatar belakangi sebuah arsitektur tercipta.

“Language is the core of making, using and understanding building”

“Architecture is building, image and words”

“Arsitek memiliki tanggung jawab kepada public untuk menjelaskan maksud dari apa yang ia buat.” (pembelajaran dari Imelda Akmal)

Komunitas Aleut membungkus semua dengan cara yang berbeda. Mereka mengemas sejarah dari bentuk-bentuk fisik ini melalui sebuah historical walk seperti tour guide yang menjelaskan keadaan masa lampau hingga masa kini. Namun yang paling berkesan bagi saya adalah bagian diskusi dan refleksi atau yang sering disebut muhasabah, renungan atau apalah itu namanya. Apa yang baru dijelaskan melalui historical walk berupa informasi yang banyak itu kemudian dihayati dan kemudian diolah di dalam otak kemudian digabungkan dengan perasaan lalu melahirkan sebuah pemikiran yang tercermin dari sikap kita selanjutnya. Digesting a better vision of what and who we are that gives us the right conclusion of what we should be doing in the future. That’s what I call learning. In this case, it means learning from the past.

Jujur saya tak suka bangunan Belanda seperti diagung-agungkan. Mengapa kita harus memelihara sesuatu yang sebenarnya dibuat oleh penjajah? Hingga saya melihat atau lebih tepatnya diperlihatkan, sisi yang lain.

Belanda, pemerintah kolonialnya, memiliki impian yang amat besar pada Bandung. Mereka merencakan Bandung dengan amat rapi, terstruktur, indah, dengan penghijauan yang cukup dan lain sebagainya. Mereka bahkan membuat taman dengan sungai buatan yaitu dengan membelah sungai. Mereka awalnya membuat berbagai bangunan art deco, hingga menjadi kota dengan bangunan art deco terbanyak ke 9 dengan Paris di posisi ke 10, lalu tiba saatnya mereka menyadari bahwa Bandung terlihat sama dengan kota-kota lain di Eropa. Harus ada sesuatu yang berbeda dong? Lalu mereka memasukkan unsur-unsur local kedalam bangunan-bangunan yang selanjutnya mereka buat. Entah itu sekedar menempel seperti sosok Batara Kalla pada New Majestic atau dengan metode canonic seperti pada aula Barat dan Timur ITB. Ruang terbuka, penghijauan, penataan kota dan infrastruktur yang mereka rancang dan mereka coba bangun adalah karya yang hebat. Yes, these so called ‘penjajah’ melakukan hal yang amat baik pada kota ini. What about us? Kalau Bandung memiliki pilihan untuk memilih siapa yang merawatnya, bisa jadi bandung lebih memilih untuk dirawat oleh kompeni.

Makna. Itulah yang hilang. Kita tak tahu maka tak saying. Kita tak tahu seberapa dahsyat impian pemerintah colonial Belanda pada Bandung, maka kita tak saying. Kita tak punya mimpi sebesar itu. Mungkin ada yang bermimpi. Tapi mungkin ia hanya menguburnya dan tak memperjuangkannya.

(not an end yet, hopefully)

One comment on “finding my passion – 03102010

  1. komunitasaleut
    October 4, 2010

    Yup2, semoga temen2 Aleut merasakan adanya manfaat dari ngaleut, untuk kemudian memposisikan diri dalam perjuangan perbaikan Bandung, dan untuk kemudian bisa menyebarkan pesan-pesan ke massa yang lebih luas lagi..

    thx tulisannya keren! mantap!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on October 3, 2010 by in Uncategorized.
%d bloggers like this: