inhale every moment

everything has it's inspiring story

Allah’s everyday gift for me – 210610

Hari ini aku agak aneh. Aku tak punya kegiatan selain kegiatan yang kubuat sendiri. Kegiatan yang awalnya tak terjadwalkan tapi tiba-tiba diadakan hari ini. Aku bangun sedikit terlambat dan merasa hariku akan segera berakhir dan waktu yang kupilih untuk ini dan itu amatlah mendesak. Kegiatan yang kupilih adalah mencari dosen untuk menyetujui rencanaku, menemui temanku yang kumintai tolong untuk membawakan mukena dari laundry dan teman yang harus kuberi tahu informasi tentang bendahara –tepatnya strategi dapat uang dan mengelolanya, setahuku saja tentunya-. Karena semua janji diatas tak sesuai yang kukira, kuputuskan untuk mencari buku untuk menghadiahkan temanku yang kemarin menghadiahkanku buku pula. Adzan berkumandang dan aku tahu bahwa aku takkan bisa ke tempat penjual buku karena toko yang ‘baik’ di daerah Salman ITB akan tutup sementara.

Aku menghela nafas dan menelepon ibuku untuk menanyakan kapankah waktu terbaik untuk pulang karena ibuku sedang dalam fase sibuk dalam mengurus murid-muridnya. Beliau membolehkanku pulang agak sore dan aku memutuskan untuk tetap di daerah ITB, walau itu berarti menunggu. Menunggu sendirian. Aku sendirian dengan agendaku yang memang memaksaku untuk sendirian dan juga aku tak suka jika mengajak orang lalu ditolak, lebih baik aku tak mengajak dari awal. Yah, begitulah aku. Sendirian. Perempuan yang sendirian melakukan hal yang ia inginkan. Sebenarnya aku kadang tidak diperbolehkan Ayah kemana-mana sendiri, seperti ke Gua Sunyaragi sendirian, dan ada temanku, Tri Prasetya Adi Putra, yang merasa kasihan melihatku berjalan menuju tujuan sendirian. Kenapa dia kasihan? Padahal aku merasa biasa saja. Yasudahlah, aku memang terkadang suka sendirian, walau kadang terasa biasa saja dan terkadang merasa amat sepi. Kau mau menemaniku? Boleh? (Loh??)

Kumenunggu sambil memakan satu cireng yang harus kubeli dengan sebuah negosiasi dengan penjualnya yang menetapkan harga 2 cireng 2500. Kubeli dengan harga 1400 satu buah, karena hanya 2 200 rupiah receh yang kumiliki dan tak terpikir untuk meminta kembalian. Aku membeli cireng selain untuk mengisi waktu, karena makan cireng bagiku yang ber’bracing’ di gigi, akan memakan waktu lama. Yah, cocok untuk mengisi waktu. Selain itu, aku juga memilih penjual cireng karena dia menggunakan kertas instead of plastic. Jadi, kubisa Tanya dia beli dimana. Dia membeli di Balubur. Kertas lebih murah dari plastic katanya dan bagian kertas yang terdapat tintanya adalah bagian luar dan bagian dalamnya adalah muka kertas yang bersih.

Kumenunggu sambil memakan satu cireng di kawasan yang tersebutlah sebagai kubus. Kududuk di salah satu pinggiran berbayang yang terbuat dari besi tabung yang sama sekali tidak nyaman namun kupaksa diri untuk merasa nyaman hingga kumerasa biasa-biasa saja duduk ditempat itu. Kulahap cireng yang sebenarnya sulit dicerna sambil memandang Taman Ganesha yang terhampar. Kutengok ke kanan dan kulihat seorang ibu yang sedang sibuk mengelompokkan sampah. Sampah yang terbuat dari tetrapack dia kumpulkan bersama dengan teman-temanya. Sampah yang terbuat dari kardus pun demikian. Dipertemukan sesamanya dan diikat dengan rapia.

Ibu itu terlihat sibuk. Ibu itu terlihat menyedihkan dengan pakaian dan fisiknya yang seperti itu. Rambutnya terikat seperti sanggul kecil atau ‘cepol’ dan tak sedikit yang terlepas hingga terlihat berantakan berselang-seling menjuntai menutup wajahnya yang kusam dan agak lelah. Baju yang ia kenakan pendek, sehingga bagian belakang punggung, pinggang dan sedikit bokong dapat terlihat yang menunjukkan usianya. Usianya yang cukup renta yang tercermin dari kulitnya yang kendor dan juga kusam. Punggungnya bungkuk. Celana pendeknya kotor. Baju hijaunya yang terbuat dari bahan rajut memiliki lubang di sana sini. Kakaku dan teman baikku Aldi (maaf Al) juga terkadang suka memakai baju yang bolong, namun perbedaan yang jelas adalah bahwa kalian memiliki pilihan baju lain dan for some reason you guys chose to use those ripped clothes rather than all the good ones you have. Kalau ibuku melihat kakaku memakai baju bolong, beliau akan meminta kakaku melepasnya karena orang lain akan merasa bahwa ibuku tak merawat anaknya dengan baik.

Aku mendekat padanya untuk mengobrol dan berpikir untuk memberikan sebagian yang kupunya, karena itu yang sering ayah dan ibuku contohkan padaku. Aku mulai membuka percakapan. Aku lupa kalimat pertama yang kuucapkan apa, tapi beliau menjelaskan tentang sampah-sampah yang berserakan  dihadapannya. Aku yang mendekat mulai merasakan bau. Bau yang ditimbulkan oleh gundukan sampah ini. “Sampah disini untung, masih ada, ga ada yang ambil, jadi saya masih bisa kumpulin, tuturnya (kira-kira) seperti itu.” Saya kemarin sakit jadi ga sempet ngasih sampahnya ke teman saya. Saya jualnya ke teman saya. “

Ia terus bercerita dengan nada yang lirih, aksen khas orang etnis Cina dan mata tertunduk sambil tetap melanjutkan pekerjaannya menumpuk kardus-kardus yang sobek dan basah. Lama kelamaan aku tak benar-benar dapat mendengarkan suaranya. Enggan untuk memintanya mengeraskan suara, saya hanya tersenyum dan menunduk. Beberapa kalimat yang berhasil kudengar adalah bahwa ia lebih suka melakukan ini dibandingkan dengan mengemis dan terkadang beruntung ada yang berbaik hati memberinya sesuatu.

Saya menanyakan apa saja  yang ia kumpulkan. Sang ibu menjawab ini dan itu lengkap dengan harganya per kilogram. Kutanya apa ia memiliki anak, dan ia berkata punya dan tidak bekerja. Ia mengalihkan pembicaraan dan memberikan nasihat tentang pentingnya berteman dengan anak yang pintar agar terbawa pintar.

Aku rasa aku memang lebih suka memberi pada orang yang tidak meminta tapi dirasa memerlukan. Aku lebih suka memberi pada seorang yang berusaha melakukan sesuatu untuk dirinya dan menghargai dirinya bahwa ia bisa berjuang dan tak bergantung pada belas kasih orang lain. Aku pun memutuskan untuk memberikan selembar, ya sekedarnya saja, uang ungu padanya setelah sebelumya kutawari dia untuk makan lontong kari yang pedaganganya tak jauh dari kami. Ia memilih untuk menerima uang saja dariku.

Kuberikan uang itu dan ia berterimakasi, memberi doa, dan mulai memberiku banyak sekali nasehat. Doanya adalah agar aku cepat lulus, jadi anak pintar dan disayang Tuhan. Nasihat utama adalah agar aku belajar dengan sungguh-sungguh, berteman dengan orang yang pintar, berada di barisan terdepan saat kuliah, jangan duduk dibelakang karena teman-teman yang dibelakang akan mengajak ngobrol. Hal lainnya adalah untuk tidak pacaran, karena pacar suka mengajak pergi saat seharusnya belajar untuk ujian. Berteman saja dan ketika waktu kosong baru bisa bersenang-senang dengan teman.

Tiba-tiba ada seorang ibu berjilbab dengan pakaian cukup rapi mendekat dan menginterupsi kami dan berkesan agar saya cepat-cepat pergi. “Neng lagi apa, disitu mah bau.” Aku tak mengerti situasi apa yang sebenarnya kuhadapi karena ibu ini mencurigakan dan tampak ingin aku menyudahi pembicaraan dan menjauh dari ibu pengumpul sampah. Aku curiga ia ingin sesuatu dariku juga. Hatiku mulai tak tenang.

Rentetan nasihat dari ibu pengumpul sampah kuputuskan untuk kuhentikan meski tak mudah. Ibu yang tadi mengintervensi kemudian mengajakku berbicara. “Ibu itu sebenarnya punya keluarga. Sampah-sampah itu ga dijual, Cuma digituin aja ga diapa-apain. Dia mah orang Cina neng.”

Aku pun bergegas pergi. Aku pergi dengan banyak pertanyaan diotakku. Kupertanyakan efektifitas memberikan uang kepada ibu tadi. Apakah ia hanya berpura-pura dan sebenarnya punya keluarga yang menjaganya? Dari kalimatnya yang lebih memilih mendapatkan uang ketimbang makan lontong memang mencurigakan, tapi dari penampilannya yang seperti itu kutahu dia bukanlah orang berada dan memang tidak berniat meminta apa-apa karena akulah yang mendekatinya. Tetapi ibu yang tiba-tiba datang itu berkata bahwa ibu itu tak mengumpulkan sampah untuk dijual. Kupikir lagi siapa yang salah disini dan merasa cukup bimbang apakah aku telah melakukan langkah yang tepat dengan memberikan uang kepada ibu itu atau tidak.

Aku terus memikirkannya hingga aku sampai ke barisan toko buku yang tadinya tutup. Ada beberapa kios disana dan aku bingung untuk berhenti di kios yang mana. Aku memutuskan untuk mengunjungi kios yang penjualnya mengajak aku untuk singgah di kiosnya. Aku memilih toko/kios dengan penjual yang melakukan usaha lebih untuk menarik pelanggan. Aku menanyakan buku yang tepat untuk ikhwan. Bapak penjual itu menunjukkan itu dan itu yang berharga cukup mahal. Aku pun menunjuk satu buku, kubuka isinya, kubaca isinya dan kurasa cocok sebagai kado yang kucari. Aku menawar dan akhirnya sang Bapak menetapkan harga dan kusetujui saja karena aku bukan orang yang pandai atau ingin menawar.

Sang Bapak menawarkanku apa ingin buku yang kubeli diberi sampul atau tidak. Kubilang ya. Sambil membungkus buku dengan sampul, Bapak ini bertanya apa aku kuliah atau sudah kerja. Kubilang kuliah. Bapak ini melanjutan bertanya tentang tempat aku kuliah, jurusan, dan angkatan. Mendengar aku angkatan 2007, Sang Bapak lantas menceritakan tentang anaknya yang sebaya denganku dan tidak berhasil masuk ke ITB.

Sama  seperti tadi, bapak ini dengan mudahnya bercerita. Menceritakan padaku sesuatu tentang ia dan anaknya. Sejujurnya aku tak begitu menyimak perkataannya karena terkadang terdengar sayup terlindas oleh suara kendaraan yang melintas. Sesekali kumengangguk sebagai pertanda mendengarkan. Aku merasa bahagia bahwa aku dianggap sebagai orang yang bisa diceritakan mengenai sesuatu tentang dirinya. Aku merasa bahagia karena berusaha mendengarkan. Kukira ia memang butuh seorang pendengar. Dan ternyata aku orangnya. Ya, begitulah. Terkadang orang mendominasi aku dalam pembicaraan hingga aku menjadi pendengar, dan terkadang orang diam sama sekali dan akulah yang berusaha berbicara dengan memancing pertanyaan dan sedikit berbicara. Hanya sedikit bercerita. Mungkin itulah mengapa aku tak pandai bercerita, apalagi secara lisan.

Haha.. aku aneh.. Tak apa lah yah? Jarang2 ada orang aneh.. Lho?!

2 comments on “Allah’s everyday gift for me – 210610

  1. Baiquni Abdillah
    December 21, 2010

    Saya Suka baca ini. .

    Thanks^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on July 7, 2010 by in Uncategorized.
%d bloggers like this: