inhale every moment

everything has it's inspiring story

Hari-hari Penuh Manfaat… And I’d Love to Share It With You!

My Beautiful Days

My diary entry

Saya merasa tak ada yang Tuhan berikan yang merupakan suatu kesia-siaan. Dia memberikan sangat banyak pada saya setiap hari. Ingin saya adalah mempelajarinya dengan baik dan tak melupakannya ketika esok tiba. Ingin sekali saya menuliskan apa yang saya pelajari hari ini, karena saya sangat yakin padaNya Tuhan yang sangat bijaksana selalu memberi saya ilmu setiap hari. Saya merasa perlu menuliskannya untuk saya di masa depan atau siapapun yang sekiranya membutuhkannya, mungkin cucu saya nanti atau seseorang yang ingin tahu bagaimana rasanya menjadi seorang mahasiswa ITB. Sudah sejak lama saya suka memberikan sesuatu untuk Susan di masa depan. And I feel very happy of what she had done in the past. Probably you might wanna try.. read through it in the next five years. You’ll be proud.

Selain itu, tulisan ini juga berupa sedikit bentuk pertanggung jawaban atas kesempatan yang telah diberikan kepada saya dari IMA G dan dari Allah SWT.

Diary 180210

Part One: Seminar ‘Tantangan Indonesia dalam Menghadapi MDG’s 2015 di Bidang Lingkungan dan Sanitasi

Hari ini, saya mengikuti seminar bertema tentang lingkungan. Penyelenggara seminar ini adalah HMTL. Saya berhasil masuk dengan membawa surat undangan yang sebenarnya ditujukan untuk Robbi, kahim saya. Saya sangat awam mengenai apa yang menjadi tema di seminar ini. Something to do with the environment especially water and sanitation. Saya sangat tak familiar dengan ini, tapi saya coba dengarkan. Awal seminar dimulai dengan berita bahwa sang keynote speaker berhalangan hadir, which was Siti Fadila Supari, mantan MenKes. Kemudian, seminar diisi oleh seorang pengganti pembicara –tambah tak ingin saya berada di tempat ini-. Pembicara ini berasal dari Dirjen Cipta Karya dan tak menyediakan slide untuk mengalihkan perhatian saya. Beliau hanya berdiri dan memberikan materi dengan tak menyenangkan, tanpa sesuatu yang menarik untuk saya perhatikan. Saya mulai kesal, tak hanya karena saya sendirian, tapi karena situasi yang saya kira akan membuat saya puas tak terjadi. Kala itu, saya dihadapkan pada pilihan apakah saya akan bersabar dan mencoba mendengarkan, ataukah menutup hati dan pikiran dan meneruskan keluhan yang berlari-lari di otak ini. Saya berlindung dan berdoa padaNya yang Maha memiliki ilmu.

Saya berusaha mendengarkan dan mulai mencatat dengan catatan kecil yang termasuk dalam seminar kit. Brownies, lemper dan risoles berbungkus plastic (padahal kalo di YPBB, lembaga yang sangat peduli lingkungan, konsumsi yang diberikan disiasati dengan bungkusan daun instead of plastic). But, they were nice!

So, what exactly did I learn in this seminar? –First of all I want to underline that this is from my point of view-

From the first speaker:

-Saya menjadi tahu apa itu MDG. Millenium Development Goal yang jatuh tahun 2015 yang misalnya menyoroti tentang Kebijakan Penyelenggaraan dan Pelayanan Air Minum dan Sanitasi.

Ternyata Dirjen Cipta Karya tidak memiliki data hujan di Bandung yang terbaru sehingga tak tahu kondisi klimatologi saat ini, tidak tahu banyak mengenai apa yang harus dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan –kemungkinan yang buruk dari hujan.

Kementrian penyehatan lingkungan (I don’t exactly know who this guy really is), ingin mengadakan semacam Jambore Nasional untuk menghimpunkan generasi muda atau siapapun yang peduli dengan isu-isu lingkungan di Indonesia. Beliau juga ingin dan sedang mengusahakan adanya Juma’t Bersih di sekolah-sekolah. Selain itu beliau berencana membuat konferensi sanitasi nasional. Beliau juga membentuk Aliansi Kota Peduli Sanitasi dan juga Indonesia menjadi ‘pelopor’ dalam East Asian Sanitation Conference yang akan diadakan di Bali. From my point of view, orang ini ingin membuat suatu gerakan yang massive agar tujuan tercapai.

Beliau juga menyinggung tentang Eco Drain, mirip bio pori, sebuah water catchment. Menurutnya harus ada sekecil apapun di rumah-rumah, dan hal ini harus disosialisasikan atau dijadikan aturan dalam membangun bangunan.

Indonesia kalah dengan Negara lain dalam hal manajemen sungai. Mari tengok sungai-sungai di negara-negara yang berhasil membersihkan sungai seperti Rhein, Thames (duh,,), di China, Malaysia. (jadi inget guru SMA saya bilang, Malaysia dulu belajar dari Indonesia, di UPI dulu, orang Malaysia yang kuliah disini itu kucel dan kere; lalu ada pejabat Malaysia yang bilang, kalau di Indonesia tak ada korupsi, Indonesia sudah pasti punya 10 gedung seperti Petronas Tower, karena minyak kita sepuluh kali lipat mereka. Atau Gedung-gedung di Indonesia bias semuanya terbuat dari emas jika saja tak ada yang korupsi… enough of that).

Alhamdullillah, good news after all, Pa Presiden menganggarkan 4 kali lipat semula yaitu 14 milyar untuk kementrian penyehatan lingkungan. Jadi kalo HMTL mau mengadakan sesuatu bias berkolaborasi dengan lembaga ini.

Visi dari dirjen cipta karya adalah terwujudnya permukiman perkotaan dan perdesaan yang layak, produktif, berdaya saing dan berkelanjutan.

Tahukah kamu? Karawaci dan Nusa Dua adalah eco kampoeng? Desa deng biar afdol. Sebenarnya saya ga tau afdol itu apa. Dua tempat ini memiliki waste and water treatment dan mendaur ulang. Dulu nusa dua adalah kawasan kering dan tandus, dibuatlah oxidation pond untuk mensuplai air. Berubahlah Nusa Duda eh Dua dari Gunung Batu menjadi Taman.

Jangan berpikir secara deret hitung, berpikirlah deret ukur. Buat strategi yang bias membuat apa yang kita lakukan bias bermultiply. Mungkin bapak ini ingin menyampaikan bahwa ‘keburukan yang terorganisir akan mengalahkan kebaikan yang tidak terorganisir’ dan gerakan tersebut haruslah massive. Berjamaah.

Desa Ubud pun menerima penghargaan sebagai desa wisata ekologis terbaik, dan bapak ini ikut serta dalam proyek sanitasi (mun teu salah mah). Beliau belum menyelesaikannya tapi sudah dapat penghargaan. Beliau jadi bingung dan agak takut bila apa yang dilakukannya tidak berhasil.

Hal yang membuat saya ingat kembali akan sesuatu adalah ketika beliau mengeluarkan kata CLTS, Community Lead to Total Sanitation. I’ve known this long ago, but only remember a small part. Itu adalah pengembangan masyarakat. Yang baik dari situ dan menjadi perhatian saya adalah metodenya. Membuat orang tahu kesalahan, mendorong untuk mengetahui masalahnya, membimbing agar merasa harus menyelesaikan masalahnya sendiri.

http://dr-arbai.blogspot.com/2008/11/dari-clts-jamban-ke-pemicuan.html

the link above might help you to find a definition or little facts about CLTS.

Banyak hal yang saya catat namun mungkin yang bias saya sarikan dan yang saya anggap menarik hanya ini. Saya pun keluar dari forum ini sebelum selesai karena bosan dan mengganggap bahwa dengan saya berada di tempat yang lebih tepat, saya akan lebih produktif.

Saya berada di tempat ini dengan nama IMA G. Maafkan saya IMA G karena tak berhasil menyerap lebih banyak! And this writing is a symbol of responsibility for being a representative, dapat makan, dan dapat sertifikat.

Part 2: Screening “Age of Stupid”

First of all, I want to say thank you to Ronaldiaz for presenting this and I want to apologize too for being not to helpful on this.

Frankly, saya tidak begitu mengikuti film ini dengan baik karena merasa agak bertanggung jawab atas penyelenggaraan film ini dan mulai melakukan ini dan itu ketika film diputar.

Tujuan diadakannya screening film ini adalah memberikan pengetahuan syukur-syukur awareness atau bahkan action atas apa yang sebenarnya dilakukan oleh spesies yang bernama Homo sapiens alias manusia pada bumi ini.

(I hope Aldi, or somebody who watches seriously, bias menuliskan sesuatu disini untuk memberikan gambaran dan esensi dari film ini) (1)

Yang saya dapat dari film ini, -dari segelintir yang saya nonton-, adalah Saya adalah orang yang beruntung, dari segi materi, kesempatan mendapat pendidikan, kesempatan hidup dengan layak, kesempatan bersenang-senang dan melakukan semua hal yang ingin saya lakukan. Tapi yang saya lakukan itu sebenarnya memiliki dampak yang sangat tak sedikit, tak hanya bagi lingkungan biologis, namun juga social. Semua hal yang dilakukan oleh manusia dimanapun dan kapanpun memiliki efek yang nyata, mungkin tak untuk sekarang, tapi untuk masa depan. Saya juga menyesal karena ada orang yang tak memiliki kesempatan seperti saya harus berusaha sangat keras untuk memiliki yang saya punya, sedangkan saya disini menyia-nyiakannya begitu saja.

(mungkin ada yang ingin menambahkan) (2)

At that moment, I felt happy. Why? Karena ada tamu dari luar massa G. Dari U Green, HMTL, KMKL, Ganesha Hijau, DP, IMDI, Waseda University, dan HIMAFI. Ini berkat peran media dan koneksi. Makasi Media! Kiwik! Jumlah penonton 46 orang..

Pengennya orang yang belum nonton bias nyusul nonton dengan meng-copy atau screening ulang?

Screening ini ditutup oleh Aldi dan juga dengan sedikit refleksi. Lanang mengutarakan perasaannya mengenai film ini dan merasa bahwa film ini menyisakan Tanya di pikirannya, “Then what should I do? Stop using motorcycle? Or what?” Iqrar pun demikian, merasa bahwa ternyata apapun yang dilakukan manusia jika itu terakumulasi, akan dahsyat akibatnya. Bila itu keburukan, maka akan menjadi keburukan yang dahsyat pula. Tatsuiuura Makoto yang sedang belajar di U Green juga dipersilakan untuk maju ke depan untuk mengucapkan one or two broken words. He was indeed very nervous. Kasian banget Al. Nice to have him here.

Part 3: Pameran Hindia Beku di Galeri Soemardja

No words can explain. These drawings are marvelous. Tapi sedih, karena mereka mendjadjah negeri kita tertjinta. Lukisannya amat detail. Rebek karena peer banget. Tapi subhanallah keren. Better check out yourself!

(mungkin ada yang ingin menambahkan) (3)

Diary 190210

Part 1: Seminar Eco Lifestyle

Moderator seminar ini adalah Manik dari La Luna. She’s cute wearing striped (warning: not stripped) colourful outfit, and pregnant. Dia membawakannya dengan santai dan juga banyak canda dan tawa. Pembicara dalam seminar ini ada tiga, yang pertama adalah Dik Doank, M. Bijaksana Junerosano dan Putri Pariwisata, Andara Something (saya lupa namanya).

Saya menyesal karena tak banyak menulis untuk mencatat hal2 yang saya anggap penting. Hmm… ya sudah, jadi yang saya anggap penting adalah ketika Dik Doank berbicara.

Berpuisi, itulah yang terlintas di pikiran saya ketika memperhatikan pembawaannya di kala pertama ia berbicara. Dengan outfit safari, kacamata yang casual dan topi gepeng bundar dari bundar, ia mulai berkata-kata yang dimulai dengan berdoa kepada Tuhan agar dimudahkan dalam menyampaikan materi. Nada bicaranya pelan dan dengan nada rendah dan teratur seperti cara berbicara seorang ustad. Dia memulai pembicaraanya, yang seharusnya membicarakan definisi eco lifestyle, dengan rangkaian kata-kata rapi penuh makna. Hujan. Dia memulai dengan bercerita tentang hujan.

Kira-kira yang saya dapat darinya adalah sebagai berikut:

Hujan. Turun dari langit ke tanah. Bagi orang TiongHoa, ketika hujan turun, dewa-dewa turun bersamanya. Menurut orang Islam, 7 malaikat turun bersamanya. Ia membuat tanah subur dan membuat tumbuhan tumbuh. Tapi manusia, sekarang, ketika hujan turun, ia berkata sialan! Anjing!

Hujan yang juga air mengadu pada Allah. Allah, saya turun ke bumi untuk menunaikan tugas saya, memberikan manfaat bagi manusia, tapi saya dikatakan sialan! Saya dikatakan anjing!

Allah berkata, “Bukan, manusia bukan mengatakan sialan, anjing, padamu wahai air. Manusia mengatakannya kepadaKu. Nanti akan kukirim mereka air yang lebih banyak. (Banjir dan bandang)

Jadi, kita seharusnya berpikir terlebih dahulu sebelum melakukan sesuatu. Memikirkan efek yang akan timbul karenanya.

Andara berkata bahwa eco lifestyle seharusnya bias menjadi trend. Tapi Sano berkata bahwa sesuatu seperti ini, kepedulian terhadap alam dan lingkungan, adalah sebuah filosofi hidup. Seharusnya bersatu dengan diri dan menjadi prinsip hidup, sebagai darah dan saraf ketika melakukan sesuatu, jika ingin melakukan sesuatu yang bertentangan maka akan mengurungkan diri, bila tahu bagaimana sustu keadaan seharusnya, maka akan bertarung sekuat tenaga untuk mengubahnya.

Bagaimana bentuk2 penerapan eco lifestyle? Tidak pake hairspray yang ber-cfc (kata Andara); membeli produk langsung berukuran besar agar hemat kemasan yang akhirnya menjadi sampah; bila memakan buah, maka bijinya ditanam (it’s one very precious moment, ketika melihat sesuatu yang tumbuh yang awalnya terlihat seperti ketiadaan);

Bilapun pemerintah tidak concern terlalu banyak pada lingkungan, maka masukkanlah isu lingkungan kedalam bidang2 yang ada dalam pemerintahan. Contohnya adalah mengembangkan wisata yang ke arah “Back to Nature”. Begitulah tutur Andara, yang merupakan alumni Planologi ITB.

Step-step yang perlu dilalui untuk menerapkan eco lifestyle adalah: Tahu – Mengerti – Bisa – Kebiasaan – Jati Diri. One beautiful poem that I got from a friend:

Taburkanlah suatu pikiran

Maka kamu akan menuai perbuatan

Taburkanlah suatu perbuatan

Maka kamu akan menuai kebiasaan

Taburkanlah suatu kebiasaan

Maka kamu akan menuai karakter

Taburkanlah suatu karakter

Maka kamu akan menuai takdir..

Yang membuat suatu gerakan peduli lingkungan berhasil ada beberapa factor: aturan – lembaga yang menindak – pembiayaan – teknologi – masyarakat (Sano) But, in my opinion, factor aturan bukanlah factor yang  mendalam (filosofis) untuk membuat orang berubah kebiasaan. Tapi ini kondisi memaksa (TAPI paling AMPUH! Buat orang Indonesia,, ih sedih.. )dan tingkat kepedulian paling rendah. Jika itu sebuah trend, maka akan ada factor keinginan, sedikit lebih tinggi dari sekedar menaati aturan. Alangkah indahnya jika itu merupakan kehendak hati.

Dik doank kemudian menampilkan hal yang lain. Menurutnya, Indonesia sangat menyedihkan dalam sisi pendidikannya. Anak-anak ketika kecil disodorkan dan dicekoki oleh materi seperti membaca, menulis dan berhitung, yang pada akhirnya ketika mereka besar jika dimintai tolong oleh masyarakat mereka akan menghitung-hitung untung rugi yang tentunya mengedepankan diri sendiri.

Yang seharusnya dilatih adalah rasa. Dengan rasa seseorang akan bertindak berdasarkan hatinya, nuraninya dan memiliki kepekaan. Seni adalah hal yang baik untuk mengolah hal ini. Menggambar adalah awal dari Cipta. Menggambarkan masa depan, menvisualisasilak sesuatu yang belum pernah ada menjadi ada. Sedangkan sekarang, yang bias mereka gambar adalah dua buah gunung, matahari dan sawah. Bangsa kita hanya bias menjiplak.

Indonesia amat kaya dengan 500 bahasa dan 300 bangsa. Tanpa ecolifestyle pun, bila kita kembali dengan mengambil kearifan local yang dianut oleh leluhur-leluhur yang baik dan ramah lingkungan, kita bias memperbaiki lingkungan kita. Begitulah tutur seorang peserta.

More about dik doank and his school or community. www.kandankjurank.com

Jangan takut menegakkan kebenaran! Kalau itu kebenaran dan tidak memberanikan diri untuk melakukannya, maka kita tidak percaya bahwa itu adalah kebenaran. Manik menjelaskan pengalamannya ketika naik angkot. Ada seseorang yang membuang gelas plastic sisanya minum ke jalan. Manik marah dan berkata bumi yang kau lempari sampah itu bukan hanya milik kamu, tapi milik semua orang, tidak boleh seenaknya memperlakukan bumi.

Satu ide baik adalah dengan menggunakan gelas minum di himpunan dan penyediaan refill air gallon.

Dik doank menutup acara ini dengan sebuah lagu ciptaanya dengan lampu dimatikan dan dia membelakangi penonton. “Melihat wajah saya tidaklah penting,” tuturnya, “tapi dengarkanlah”.

(yang ikutan seminar ini bersamaku boleh menambahkan) (3)

Part 2: Kuliah Terbuka oleh Sarah Ginting

Mungkin anak Duta G yang bertanggung jawab dengan senang hati akan lebih baik jika menyampaikan notulensinya.

Bandung identik dengan konsumerisme.

Kiosk dan kehidupan pasar Indonesia sama sekali tak seperti yang ada di Neufert. And She thought that, it’s okay, no one is really bothered by that.

Indonesia memiliki paradox. Ada pasar tradisional, tapi ada juga pasar-pasar waralaba dari luar negeri. Mengapa sampai ada yang seperti McD di Indonesia. Semua karena untuk Jati Diri. Jati Diri yang semu didapat dari mengikuti apa yang ada di luar negeri.

Diary 200210

Part 1: Seminar Entrepreneurship ‘Out of The Box’

Yang menarik dari seminar ini adalah kata-kata sambutan yang cukup singkat karena dijadikan video dan sambil sang MC membuka acara. Sehingga mempersingkat waktu dan di akhir acara sang ketua acara ingin kordiv-kordiv acaranya untuk maju ke depan untuk diberi penghargaan berupa tepuk tangan dari para peserta.

Pembicara pertama adalah Wawan Hernawan, Kadin Koperasi dan UKM Jawa Barat. Beliau tak duduk dalam talkshow, tapi seperti berceramah dalam kuliah umum. Beliau menyampaikan poin-poin sebagai berikut:

Nothings for free. Tak ada yang gratis, semua perlu usaha.

Indonesia memiliki garis pantai terpanjang kedua sedunia (kalo ga salah denger). Harusnya bias jadi potensi sebagai apapun, bias tambak, konservasi alam, pariwisata, perikanan, apapun… Sedihnya nelayan hanya bias mencetak nelayan lagi.. Pembatik hanya bias mencetak pembatik, seharusnya mencetak sarjana. Pengusaha yang baik bukan hanya bias mempekerjakan orang lain bahkan bias sampai mencetak entrepreneur.

Sekarang, Indonesia menghadapi Asean China Free Trade. Hal ini sudah ditandatangani sejak tahun 1992. Namun sekarang media dan pihak2 terkait berteriak tak siap menghadapi hal ini. Media pun demikian menakuti UKM. Seharusnya UKM tidak diperlakukan seperti itu. Harusnya mereka didukung. Karena mereka memiliki kualitas. Mereka punya karakter. Coba saja ke cibaduyut, minta diperlihatkan produk China dan produk local. Yang local lebih baik mutunya.

Indonesia juga memiliki masalah dalam membeli atau membuat hak cipta. Sambal bajak sudah dipatenkan oleh Belanda dan pabriknya kini ada di Melbourne. Hah?

Next is the talkshow session. A curriculum vitae is read. Pendiri Business Development Centre, bendahara di sini, bendahara di sana dan dijabatnya sekarang, beliau adalah Ida Hindarsah. Banyak sekali yang beliau capai dan ternyata ibunya cantik. Suka bingung saya kalau ada orang yang hebat dan juga cantik atau ganteng… (ga nyambung, just seems like a complete person, padahal ga tau apa2 saya). Bu Ida adalah moderator dalam talkshow kali ini. Beliau memulai dengan gaya bahasa yang lembut dan keibuan dan menerangkan bahwa setiap tahun terdapat 2.874.000 fresh graduate di Indonesia, sedangkan lowongan kerja yang tersedia hanyalah 75.000. bias kita bayangkan kemanakah 2.799.000 lagi dikemanakan. Minimal jumlah entrepreneur dalam suatu Negara adalah 2 %. Sekarang yang ada hanya 0,18%. Meskipun semua lulusan ITB menjadi entrepreneur, takkan mampu untuk mencukupi kebutuhan itu. Ada sebuah hadist yang berbunyi, dari 10 pintu rizki, 9 diantaranya berasal dari perdagangan.

Bu Ida pun mempersilahkan pembicara pertama untuk presentasi. Pembicara ini adalah alumni Teknik Sipil ITB, mantan kahim, lulus tahun 2007, telah mendirikan dan menjadi direktur utama sebuah konsultan bernama GWS, dia adalah Ghozulfan Basarah.

Entah mengapa, di ITB sekarang ini, yang menjadi parameter keberhasilan bagi alumninya adalah berapa gaji pertama yang diterima oleh lulusannya. Hal ini menunjukkan bahwa lulusan ITB dimaksudkan untuk bekerja pada orang lain atau dengan kata lain menjadi karyawan. Padahal, mahasiswa seharusnya menjadi solusi bangsa dan menjadi penghasil lapangan kerja.

Di MIT, pendidikan entrepreneurship diajarkan dengan bobot 18 sks, fresh graduatenya bias menghasilkan 2 kali GDP sebuah Negara di Afrika (maaf saya kurang konsen, saya duduk kedua terdepan, entah mengapa orang ini melihatku terus, jadi bingung, haha…). Yang menjadi parameternya adalah berapa entrepreneur yang bias dihasilkan.

Ketika pembicara memulai bisnisnya, dia tak dapat uang selama 6 bulan. Memang begitulah merintis karir dari bawah kalau tak punya orang tua kaya atau punya kekasih orang kaya. Namanya merintis, dari yang kecil menuju besar.

Yang paling penting menurutnya adalah masalah mental, bukan uang atau yang lainnya. Why proud to work for other people in other nation have a quite big income but still smaller than a native but more stupid worker? Mengapa bangga untuk bekerja di luar negeri untuk dapat gaji yang cukup besar tapi tetap lebih kecil dari pekerja asli sana yang lebih bodoh? Lebih baik bias berdiri di atas kaki sendiri. Opening a Soto shop, Bakmi Langgara, Sushi Boon, café, restaurants is better even if it’s melenceng dari bidang keilmuan sebelumnya. Jangan malu! Karena itu hal baik memberi kesempatan bekerja untuk orang lain.

Menjadi entrepreneur juga berarti menghadapi berbagai kondisi. Baik dan buruk. Terkadang berada dalam posisi untuk memilih antara uang dan idealism. Semuanya pilihan. Sekali melakukan kesalahan, akan di cap sebagai itu.

Next is Budi Raharjo, technopreneur dan dosen teknik elektro ITB. Bapak yang terlihat santai dengan baju casualnya, rambut keriting putih, dan rambut di muka yang menutupi pipi bawah dan janggutnya. Belian Nampak tenang dan berwibawa. Semuanya pudar ketika beliau mulai berbicara dan menunjukkan slide shownya.

Entrepreneur adalah tentang Juggling Time.

Being one takes a lot of time.

Yang penting adalah….

Must enjoy what you are doing!

Bapak ini dinilai sebagai serial entrepreneur. Suatu ketika dalam satu tahun, tahun 2007, membuat sepuluh perusahaan dan mati tujuh.

Being an entrepreneur is getting paid of doing what you love.

Seperti inul yang membuat inul vista karena suka menyanyi dan bukannya perusahaan pengeboran. Seperti dirinya yang membuat studio music karena menyukai music. Karena dengan menyukai sesuatu, kita akan terus maju dan melakukannya tanpa mau atau rela untuk menyerah. It’s the thing that keeps you going.

But, money isn’t everything. It’s about you, your love.

Know your priority

If you don’t you’ll be like a zombie. Beliau suka menyuruh mahasiswa untuk bermain..

Must learn how to manage time, because there’s only 24 hours per day. There’s only two option,

Less sleep or

Do things effectively

Bapak ini mengambil pilihan yang pertama,, but he’s fine with it because he enjoys everytime in his life. Bapak ini pernah menjual kacang hanya untuk membuktikan diri agar dia tahu bahwa di bukanlah orang yang malu untuk berdagang meski itu kacang.

Done 80% on time

is better than trying to get 100%

memberitahukan/memperlihatkan progress pada waktu kesepakatan meski belum selesai akan lebih dipercaya oleh siapapun.

The key: everything is based on FUN

Kemudian sesi Tanya jawab pun dimulai. Ada yang bertanya bagaimana cara mendapatkan uang, jawab dari kedua orang pembicara adalah,,, uang itu mudah, akan ada jalannya, yang terpenting adalah karakter kita. Ada yang bertanya bagaimana memulai, jawab: mulailah sekarang dari satu langkah. Find partners yang sesuai dengan kita. Missal kita butuh orang yang hebat administrasinya, orang yang jago birokrasi.

The Thing is Find your PASSION!! You can make business out of it!

Just do it! Do it now!

Tahukah anda bahwa 60% kopi starbucks come from Sumatera? Jadi yang salah apa?

Menjadi entrepreneur adalah menjadi seorang super person!

Bagaimana memulai bisnis dengan semua izin2nya? Mulai dengan NPWP yang ribet, tapi jangan menyerah disana, SIUP, Akte, mungkin bias dengan pinjam bendera perusahaan orang lain. Dan karakter yang penting adalah menjaga amanah.

Bagaimana jika bisnis tak kunjung menunjukan perubahan? Hati-hati lah,, jangan stagnan. Have to have a BIG VISION! Khawatirlah jika berada dalam kondisi nyaman.

Semua bukan tentang uang. Tapi tentang passion.

Bagaimana berkomunikasi ketika jatuh? Keep talking,, komunikasikan keadaan yang ada.

Bagaimana jika bisnis itu sesuatu yang baru? Missal peternakan lele? Find someone atau hire yang sudah pernah. Make sure he is reliable.

Buatlah Inovasi, being first than our competitors. Break the rules boleh, tapi jelas.

Make friends with the same vision; do things willingly. Same filosofi. Make good branding. Jaga kepercayaan. Hold tight your idealism.

Budi Raharjo mengundang karyawan beserta keluarga mereka pada suatu acara yang menyenangkan, dan acara seperti ini sering dilakukan, yang penting membuat bersemangat. Dan dia pun bias melihat dan merasakan… saya bertanggung jawab atas perut-perut orang-orang yang hadir dalam acara ini, saya berhasil “membiayai hidup” mereka.

Kesimpulan dari moderator:

Being an entrepreneur:

Mimpi harus ada

Keahlian harus ada

Punya Tutor

Networking

End of session I.

Sesi kedua dibuka oleh Dodo dan Bona, dari d cinnamons. Ternyata Dodo sang vokalis ini sangat periang, interaktif, sok ngabodor, dan lucu… It’s a pity I was alone… I hope I was with you!

M. Bijaksana Junerosano- Greeneration Indonesia

(to be continued… hopefully)

6 comments on “Hari-hari Penuh Manfaat… And I’d Love to Share It With You!

  1. catatanmimpisaya
    February 25, 2010

    Makasih, san, buat sharingnya!😀
    Mau nambahin aja,

    (1) Intinya, kita semua terhubung dalam benang2 transparan. Gaya hidup yang ga bertanggung jawab di Jakarta bisa mengakibatkan kemiskinan di Afrika dan peperangan di Irak serta (yang paling buruk) kehancuran umat manusia. Intinya dari inti, satu Bumi ga cukup untuk menyokong kehidupan bermiliar-miliar manusia tidak bertanggung jawab.

    Ada yang mau nambahin lagi? (1′)

    Yang tentang entrepreneurship menarik. Jadi ingat kata2nya pak Ciputra,
    “Sepuluh kali kalah, sebelas kali bangkit!”

  2. susan
    February 26, 2010

    thanks andreas… do you really read all? hebat… saya mah kelenger bacanya,,,
    A.S.I.K ga sih kalo kita bisa tau semua kegiatan yang bermanfaat di ITB? di G sendiri juga banyak…
    and by the end of the year,, we could show people, THIS IS WHAT WE DID THIS WHOLE YEAR!

    but, this requires a very enournous effort!!

  3. nadra
    February 26, 2010

    hehehe.. bagian yang ak tunggu blum muncul san…

    • susan
      February 26, 2010

      iya nad… hehe… semoga bisa cepet dikelarin… doakan… loh?! nunggu mood…

  4. nurul
    February 27, 2010

    I ♥ your writings..
    I used to pour out my thoughts, but it’s not a habit anymore..
    I guess I should write more..

    keep writing, n share.. 🙂

  5. elsa
    April 8, 2010

    Wah kak susan, bagus banget…
    Makasi sharingnyaaa^^

    Suka deh kalimat ini,
    “Mengapa bangga untuk bekerja di luar negeri untuk dapat gaji yang cukup besar tapi tetap lebih kecil dari pekerja asli sana yang lebih bodoh?”

    Hehe, inspiratif…

    Terus jadi ketawa sama “ternak lele”
    Soalnya si papa lagi nyoba ternakin lele.hahaha

    Tetep menulis ya kak^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on February 25, 2010 by in Uncategorized.
%d bloggers like this: