inhale every moment

everything has it's inspiring story

Cerita Pendek “Apakah Kau Ingin Memutar Kembali Waktu dan Mengubah Masa Lalumu?”

Apakah Kau Ingin Memutar Kembali Waktu dan Mengubah Masa Lalumu?

Hari itu sama seperti hari-hari sebelumnya. Seperti biasa aku melewati jalan selebar tiga meter itu seorang diri. Jalan yang sempit, berbatu itu terletak disamping kali kecil yang disekitarnya dipenuhi tumbuhan liar seperti pohon pisang, bambu, nangka dan rerumputan.
Tiba-tiba mataku terasa silau. Aku segera mencari tahu benda apa yang berkilau begitu menyilaukan. Aku mempercepat langkahku dan mendekati benda misterius itu. Aku membayangkan akan menemukan sebuah serpihan kaca dari arah cahaya itu. Ternyata benda silau tersebut berasal dari seberang kali kecil itu. Lalu, tanpa ragu sedikitpun aku berlari menuju jembatan di atas kali itu dan melewatinya. Dengan langkah yang semakin cepat aku mendekati benda itu. Aku memegang benda itu dan menghalangi cahaya matahari yang menuju benda itu. Aku takjub saat memandang benda yang kupegang itu. Benda itu adalah bunga lili yang terbuat dari berlian.
Aku langsung memetik bunga itu dan memasukkannya ke dalam ranselku. Hanya terpikir olehku untuk berjalan menuju rumah. Kubuka pintu rumahku kemudian masuk ke kamarku dan mengunci diriku. Kuambil bunga lili berlian itu dari ranselku. Kulihat benda itu baik-baik sambil memikirkan hal apa yang harus kulakukan selanjutnya. Kepalaku tak bisa memikirkan hal yang tepat untuk kulakukan terhadap benda itu. Setelah beberapa saat kuputuskan untuk menyimpannya dalam vas hitam milikku.
Aku segera menyiapkan vas hitam berisi air. Entah mengapa aku teringat akan adikku yang telah tiada. Tiba-tiba bunga lili itu memancarkan sinar yang sangat indah ketika tetesan air mataku jatuh mengenai bunga itu. Lebih mengherankannya lagi, yaitu ketika aku melihat seekor kucing transparan dan berkilau seperti bunga lili yang tadi kupegang.
Aku semakin terkejut saat kucing itu melontarkan pertanyaan padaku, “Apakah Kau ingin memutar kembali waktu dan mengubah masa lalumu? Kalau Kau mau, akan kukabulkan.”
Aku tak tahu harus berbuat apa. Akupun berkata, ”Beri aku waktu.”
“Baiklah kuberi waktu satu malam, ” kata kucing itu sebelum kembali ke wujud semula.
Aku tertegun memikirkan apa yang baru saja terjadi. Melihat semua keanehan yang terjadi, aku merasa kucing itu benar-benar mampu memutar kembali waktu. Ingin cepat-cepat kujawab, “Ya.”
Mataku kemudian melihat potret adikku dalam figura yang kubuat bersama adikku . Dalam benakku aku berkata, ”Adik, kita akan bertemu lagi.”
Tanpa kusadari aku mengingat kembali sosok adik perempuanku itu. Aku ingat kalau hanya dialah yang kupunya di dunia ini sejak orang tua kami meninggalkan kami. Ia adalah sosok yang ceria dan baik hati. Ia mampu menjadikan suasana hatiku baik walaupun kami baru saja dimarahi orang tua angkat kami. Adikkulah yang memberiku semangat ketika dunia serasa runtuh menimpaku. Ia berkata, ”Kakak pasti bisa, karena tak ada sesuatu apapun yang tak bisa Kau lakukan di dunia. Kau adalah seorang kakak yang telah dipercaya oleh Tuhan untuk menjadi seseorang yang akan mengajariku. Kak, ingatlah apapun yang terjadi aku akan selalu ada bersamamu.”
Ketika ia teringat akan ibu dan ayah, ia akan menangis di punggungku. Ia terlihat sangat sedih. Aku berkata bahwa akulah yang akan menjadi ibu baginya, akulah yang akan menjadi ayah baginya dan aku juga yang akan menjadi adik dan kakak baginya. Setelah itu aku akan menceritakan cerita lucu dan mengajaknya berimajinasi seperti bisa terbang ke angkasa atau dapat hidup di dasar laut.
Aku juga mengatakan padanya, “Semua manusia hidup di dunia hanya sementara dan hidup di akhirat itu kekal. Oleh karena itu, Kau tak boleh bersedih karena bila Kau bersabar, Kau akan memperoleh kebahagiaan yang sangat banyak dan bisa menemukan kelurga yang akan menyayangimu di akhirat kelak. Saat itu aku merasa menjadi seorang kakak yang harus mengajari dan melindunginya.
Pada suatu malam di bulan Desember 1989, aku dan adikku belajar bersama di dalam kamar kami. Kami belajar sambil bersenda gurau hingga kami lupa untuk mengendalikan diri kami. Suara hentakkan langkah-langkah kaki terdengar keras dan kami baru sadar kalau kami telah melakukan suatu kesalahan. Kami langsung berhenti bersuara.
“Eh, apakah kalian tahu siapa yang paling berkuasa di rumah ini?” kata Ibu angkat kami. Kami tahu kalau pertanyaan seperti itu tidak memerlukan jawaban dan jika dijawab kami akan lebih tersiksa lagi.
“Jangan main-main atau bergurau. Kalian kan akan ujian, jadi kalian harus belajar yang benar! Jangan menghabiskan uangku dengan menyekolahkan kalian tanpa hasil yang bagus!” katanya sambil menjewer telinga kami.
“Kau! Kau adalah seorang kakak. Jangan beri contoh buruk untuk adikmu!” Ibu berteriak di telingaku.
“Sebagai hukumannya, hari ini kalian tidur di luar rumahku. Sebelum jam sebelas malam, kalian harus terus belajar. Setelah jam sebelas malam baru kalian boleh tidur.” ucap Ibu sambil tersenyum senang.
Kami hanya bisa menghela nafas dan menuruti perintahnya. Kami membawa dua bantal, satu selimut dan buku-buku pelajaran kami ke teras depan rumah. Kami sudah terbiasa dengan amarah ibu serta situasi dihukum seperti itu. Kamipun belajar semampu kami dengan perut kosong dan angin malam yang tidak bersahabat.
Ketika pukul 22.50, adikku menangis. Aku berbisik padanya agar tidak terdengar oleh ibu bila aku berbicara. Aku mengatakan padanya, “Jangan menangis, ini akan segera berakhir.”
Adikku mengangguk. Sepuluh menit kemudian kami bersiap-siap untuk tidur. Kamipun tertidur.
Delapan hari setelah peristiwa itu adalah hari pembagian rapor. Kami berdua merasa tegang setengah mati dan takut bila nilai kami tidak bisa membuatnya puas. Tak kusangka, ibu keluar dari ruang kelas dengan raut wajah yang tak pernah kulihat sebelumnya. Ia tersenyum lembut kemudian ia mulai bercerita, “Wali kelas kalian berkata bahwa aku adalah ibu yang patut diteladani, karena telah berhasil mendidik anak-anak yang sangat pintar. Mereka memujiku seperti aku adalah seseorang yang pantas mereka hormati. Aku tidak pernah merasa begitu bangga akan diriku. Terima kasih anak-anakku.”
Kalimat terakhir yang ia ucapkan tadi membuatku merasa berhasil menaklukkan hati ibu. Ibu yang sering mengenakan baju formal dengan make-up tipis dan raut muka yang serius dan judes itu seperti berubah seketika. Hatinya yang dingin seolah-olah berubah menjadi hangat.
Benar saja perasaanku itu. Ia mengubah sikapnya. Ia tak lagi memarahi kami dengan kekerasan fisik. Liburan waktu itu terasa sempurna tanpa amarah ibu pada kami. Hatiku terasa tenang karena telah melewati suatu rintangan yang begitu berat bagi seorang kakak berusia 11 tahun sepertiku.
Aku terus menjaga adikku dan mencoba dengan sebaik mungkin mengajarinya berbagai hal hingga suatu hari ia menangis. Kubertanya padanya, “Mengapa Kau menangis? Apa ibu memarahimu?”
“Tidak, Kak.” Jawabnya.
“Lalu apa?” kutanya lagi.
“Kepalaku sakit sekali Kak. Kali ini tak bisa kutahan.”
Aku hanya bisa memeluknya, memberinya obat sakit kepala biasa dan menemaninya hingga ia tertidur. Esok harinya, keningnya terasa sangat panas. Aku memberitahu ibu tentang ini. Ibu membawanya ke rumah sakit.
Kukira badai telah berlalu, ternyata yang lebih besar kemudian datang menghampiri. Ternyata Tuhan berkehendak lain. Adikku mengidap penyakit yang sangat parah yaitu kanker otak. Itulah momen yang terasa berat sekali. Untungnya, orang tua angkat kami telah sadar dan berubah sikap kepada kami.
Adikku berbaring di rumah sakit. Ia tak tahu tentang sakit apa yang deritanya. Ibu angkat hanya memberitahuku bahwa kemungkinan untuk terus hidup hanya 0.5%. Aku berjanji pada diriku akan berjuang untuknya. Aku berkata padanya, “Jangan cemas kita akan berjuang bersama. Kita berjuang bersama apapun yang terjadi. Aku bersedia menanggung separuh penderitaanmu atau bahkan lebih. Aku akan selalu bersamamu, merawatmu dan memberimu semangat hingga Kau sembuh. Jangan khawatir, Dik, Kau akan sembuh!”
Ia telah berbaring selama satu bulan dan tidak menampakkan kesembuhan sedikitpun. Kami tetap berjuang bersama menghadapi penyakit adikku. Aku tak tahu apa yang ia rasakan saat itu, apakah ingin terus berjuang atau lelah berjuang. Sepertinya ia sangat lelah menanggung sakitnya itu. Ia terlihat lelah berjuang denganku. Mungkin ia sudah tidak sanggup menahan sakitnya lebih lama lagi.
Aku juga tak tahu harus melakukan apa lagi. Dalam otakku tertanam pertanyaan bagaimana bila adikku menahan sakit hanya karena aku menyuruhnya tetap bertahan? Bagaimana bila ia sangat menderita dan hanya menampakkan muka gembira di depanku saja sedangkan dalam hatinya merasa sangat tersiksa?
Akupun mengadu pada Tuhanku. Mengapa bukan aku saja yang sakit? Mengapa harus adikku yang usianya baru 9 tahun yang menanggung derita seperti ini?
Kuberpikir sejenak. Mungkin bila aku yang sakit, adikku takkan rela dan tak sanggup menerima kenyataan pahit bahwa aku sakit dan ia harus melalui banyak hal tanpa aku. Mungkin ia akan terus menangis hingga tak mau makan dan membuat dirinya sakit.
Aku melupakan sesuatu. Aku lupa kalau Tuhan Maha Tahu. Aku lupa kalau Tuhan tahu kemampuan dan kesanggupan hamba-hambanya. Tuhan takkan memberi cobaan yang tak bisa kita hadapi. Akhirnya doaku hanya satu. Aku berdoa, “Tuhanku Yang Maha Dahsyat pemilik alam semesta, aku memohon pada-Mu agar memberi yang terbaik bagiku dan adikku.”
Suatu hari kuputuskan untuk memberi adikku pilihan. Aku berkata. ”Kalau Kau merasa lelah, Kau boleh istirahat dan menghentikan perjuangan ini. Aku akan selalu menyayangimu.”
Kemudian aku menceritakan cerita lucu dan mengajaknya berimajinasi seperti waktu itu. Ia terlihat bahagia walau mukanya pucat.
Keesokan harinya ia tak lagi bernapas. Tuhan telah memanggilnya. Hatiku sedih. Tetapi aku tahu ini memang yang terbaik untuknya daripada menderita. Itulah akhir dari peranku sebagai kakak. Aku tenang karena telah melakukan semua yang kubisa.
Tanpa terasa aku telah memikirkan adikku hingga satu malam berlalu. Bunga lili itu kembali memancarkan sinar yang indah dan berubah menjadi kucing. Ia kembali bertanya, ”Bagaimana? Sudah Kau putuskan? Apakah Kau ingin memutar kembali waktu dan mengubah masa lalumu?”
Kujawab, “Tidak, aku takkan mengubahnya, aku sadar bahwa Tuhan telah memberiku yang terbaik karena dahulu aku telah berdoa pada Tuhan agar Tuhan memberiku yang terbaik bagiku dan aku telah melakukan semua yang kubisa demi adikku dan hidupku. Aku yakin bahwa Tuhan telah mengabulkan doaku.”

Susan H.K. 2005

Terinspirasi oleh satu kisah nyata dari chicken soup for the teenage soul dan pemilihan puteri Indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on January 19, 2010 by in Uncategorized.
%d bloggers like this: