inhale every moment

everything has it's inspiring story

Cerita Pendek Tentang Cinta 2 “Aku dan Arjuna”

Aku dan Arjuna

WAAAAWWW! Astagfirullah! Allahu Akbar! Masya Allah! Edan! Ya Allah! Gusti! Ampun ya Allah! Ck.. ck.. ck..! Tak pernah aku melihat manusia yang seperti itu. Masya Allah!!!! Tak kukira ada jelema jiga eta! Astagfirullah bahasa naon eta!

Euhh… Saya Liana. Saya baru masuk kuliah jurusan Akuntansi. Umur Saya 18 tahun (sudah cukup umur bukan??). Saya wanita. Hobi saya meneliti perangai orang. Saya selalu memikirkan mengapa orang melakukan suatu hal. Misal: saya mencoba mencari tahu apa sebabnya teman saya suka banget main yoyo. Enough about me! Let’s go back to where we left off…

Saya dan Mira sedang duduk-duduk di tangga kampus baru kami. Pemandangannya lumayan. Lumayan standar, banyak mahasiswa baru maupun lama (bari jeung teu nyaho mana anu anyar atawa henteu. Aduh eta bahasa kaluar deuih! Eh, deuih-na make h atawa henteu?). Terlihat banyak motor dan mobil yang datang dan pergi dari hadapanku. Ya benar. Saya dan Mira ada di dekat tempat parkir. Kami menunggu jam 10.00 untuk pelajaran Mikro Ekonomi.

Brrmmm, brummm. Suara motor biasa lewat di hadapan kami berdua. Yah benar-benar motor yang biasa. Motor Astrea Grand sepertinya. Orang yang mengendarainya juga terlihat biasa-biasa saja. Helm putih agak kekuning-kuningan, jaket hitam agak kusam tapi terlihat bersih dan juga celana jeans. Ya, benar-benar biasa. Tapi entah mengapa aku benar-benar tertarik untuk melihat lelaki pengendara motor itu. Mungkin karena paling sederhana, mungkin karena ada beberapa motor yang tampaknya mengikuti motor itu, atau mungkin karena banyak orang yang melihatnya dengan tatapan penasaran atau juga karena ada beberapa perempuan yang terlihat tersipu dan bersembunyi di balik semak-semak. HaaaHH! Itu artinya bukan BIASA. Kenapa semakin banyak orang terlihat berkumpul mengerumini orang bermotor, berpakaian, dan berhelm biasa itu. Ada Apa sih??

Astagfirullah.. Masya Allah.. Setelah sang pengendara motor sederhana itu melepas helm, terlihat sesosok lelaki yang.. Masya Allah.. sangat menarik. Orang itu cakep, ganteng, lucu, putih bersih, bersinar, dan terlihat sangat bahagia. Masya Allah. Tak pernah kulihat lelaki seindah itu.

Wanita-wanita di sekitar mulai mendekat padanya. Wanita-wanita itu tersenyum padanya, bahkan ada yang teriak.. Buset kaya bintang film aja tuh cowo. Ada seseorang diantara wanita-wanita itu berkata dengan keras, “Kenalan dong!”

Lelaki itu menjulurkan tangannya dan sepertinya mengucapkan namanya. Ia pun bersalaman dengan wanita yang tadi menanyakan namanya. Wanita-wanita lain pun ikut berjabat tangan dengannya. Ia terlihat mengucapkan kata-kata yang sama pada setiap wanita yang ia jabat tangannya. Sekarang yang kulihat adalah pemandangan yang mirip dengan open house di istana merdeka. Anda tahu? Satu orang menjabat tangan seribu orang. Seribu orang wanita. Wah.. maaf terlalu hiperbola. Mungkin di hadapanku Cuma seratus orang. Tapi tetap saja. Ini pemandangan abnormal.

Kemudian. Lelaki yang terus tersenyum sejak tadi mengucapkan beberapa patah kata (Broken words ceuk basa ingguris mah). Saya tak bisa mendengar apa yang ia ucapkan, tapi setelah ia bicara, ia pergi menjauh dari kerumunan itu. Anehnya, kerumunan itu tidak mengikuti lelaki itu.

Hati ini berdebar-debar sepertinya lelaki itu berjalan ke arahku. Ia memang menuju tempatku duduk. Ya ampun jantung ini berdebar-debar. Lelaki itu berjalan tepat di sebelah kiriku.

“Li, li.. Li! Kamu kenapa? Kamu mangap tuh.. Tutup dulu tuh mulut. Ga enak liatnya!” Mira membuyarkan isi kepalaku.

“Perasaan, dulu kamu pernah bilang, kalau menatap cowo ga boleh lama-lama. Kalau udah kedip sekali ga boleh ngeliatin lagi. Jadi cuma boleh selama jarak antar dua kedip aja kan?”

“Iya Mir, khilaf aku.”

Masya Allah. Aku tidak sadar. Aku memperhatikan lelaki itu hingga separah itu. Astagfirullah. Aku langsung menuju masjid. Mau ngapain coba? Mau tobat.

Aku ke masjid, sedangkan Mira ke WC. Setelah aku solat, aku langsung ke WC tempat Mira biasa menungguku. Mira tidak ada di tempat itu. Aku menunggu sebentar ingin melihat Mira yang keluar dari WC itu. Ternyata, bukan dia. Aku ingin menunggunya, tapi sebelumnya aku harus melihat jam terlebih dahulu. Benar saja. Sekarang jam 10.09. Pasti Mira sudah ke kelasnya. Dan akupun harus ke kelasku.

Aku berlari sekuat tenaga. Aku melakukan perlambatan (fisika kaluar! Maklum penulis barusan ngerjain pr kinematika!) di daerah sekitar pintu ruang kelas Mikro Ekonomi. Aku mengintip dan melihat tak ada dosen. Aku masuk dan ternyata, semua bangku penuh. Entah mengapa pengurus ruangan ini menyediakan tempat sesuai dengan jumlah muridnya (tapi memang harusnya begitu bukan?).

Aku tak melihat ada kursi yang kosong. Di barisan kedua dari papan tulis, ada satu kursi yang tak berpenghuni. Maksudku tak ada orang tapi ada sebuah tas. Aku lihat orang di samping kursi itu tidak bersama tasnya, jadi aku memberanikan diri untuk bertanya pada orang yang sedang sibuk membaca buku itu apakah kursi yang kuincar itu kosong atau tidak. Aku mendekati lelaki yang mukanya tertutup buku itu. Judul buku itu Antara Amarah dan Sabar. Aku langsung memikirkan seperti apa orang itu. Mungkin orang yang cepat marah. Aku berada dihadapan lelaki itu. “Permisi, apa kursi ini kosong? Permisi. Permisi apa kursi ini kosong?”

Lelaki itu menutup bukunya, berdiri, mengambil tas dari kursi di sebelah kiri kursinya, dan berkata dengan sungguh-sungguh, “Maaf. Maaf banget. Keasyikan nih. Maaf ya. Saya Arjuna. Silakan duduk. Maaf.”

Aku tertegun sejenak. Ternyata dia si pengendara motor yang berpakaian biasa itu.

“Saya dimaafin kan?”

“Iya. Ga apa-apa ko.”

Jantungku mulai tidak terkontrol lagi. Aku mengingat Allah. Aku ingat tadi aku solat tobat. Debaran jantungku kini sudah normal. Aduh! Perasaan tadi dia mengucapkan namanya alias memperkenalkan diri, tapi aku belum bilang namaku. Ya.. sudahlah. Sepertinya dia tidak memikirkan hal itu karena dia kembali merenungi bacaannnya.

Dosen datang. Bapak dosen menerangkan tentang titik equilibrium pada kurva. Kurva penawaran dan kurva permintaan ia jelaskan. Bagian teori tak ia jelaskan dan menyuruh mahasiswanya membuat makalah setebal 50 halaman. Syaratnya harus berisi informasi mengenai pasar oligopoly, monopoli, monopsoni dan lain-lain dari minimal lima sumber buku. Untungnya berkelompok walau cuma dua orang. Tempat dudukku di paling kiri. Aku tak punya orang untuk aku ajak berkelompok selain orang yang sudah memperkenalkan dirinya padaku, karena tampaknya mahasiswa di barisan depan sudah membentuk kelompoknya sendiri.

Arjuna sedang asyik mencatat. “Eeuh, Arjuna udah punya kelompok?”

“Belum. Aku sekelompok sama kamu ya,” jawabnya sambil mencatat pelajaran tanpa melihat ke arahku.

“Ya.. Sepertinya itu saja untuk hari ini. Karena masih ada dua puluh menit lagi, silakan mengerjakan latihan ini. Dikumpulkan hari ini juga. Simpan di meja saya oleh orang yang paling terakhir selesai mengerjakan. Selamat tinggal. Selamat mengerjakan. Assalamualaikum,” Dosen itu mengakhiri kuliahnya.

Ya ampun. Susah sekali soal yang dosen itu berikan. Aku tak mengerti sama sekali. Aku sama sekali tak menggerakkan pulpenku untuk menulis apapun selain identitas diri di kertasku. Mahasiswa lainnya terlihat asyik mengerjakan, Arjuna juga.

“Kenapa belum nulis? Nanti kamu yang ngumpulin ke dosen. Apa ada yang susah?” Tanya Arjuna.

“Iya. Aku ngga ngerti apa guna e=0.9 ini,” jawabku.

Arjuna menjelaskan semuanya untukku, hingga kami berdua yang terakhir berada di kelas. Kumpulan kertas mahasiswa lainnya bertumpuk di atas meja kami. Akhirnya selesai juga. Aku merasa bersalah. Aku yang menyebabkan ia tinggal di kelas untuk menjelaskan banyak hal untukku. Arjuna bahkan mengantarku ke meja dosen itu. Untung tak ada pemilik meja itu untuk mengomentari aku sebagai yang paling lama mengerjakan latihan.

Setelah mengantarku, ia berpamitan dan mengucapkan salam. Sudah hampir masuk waktu solat dhuzur, maka aku mengambil wudhu. Di tempat wudhu, aku mengantri. Adzan pun berkumandang. Setelah adzan selesai, ada seorang laki-laki yang keluar dari ruangan untuk mengumandangkan adzan yang letaknya sangat dekat dengan tempatku mengantri. Lelaki itu adalah Arjuna. Dia tersenyum padaku dan pada akhwat lainnya di sekitarku yang juga tersenyum padanya. Tak kukira. Ia seorang ahli ibadah.

Aku sudah solat dan akan segera pulang setelah berjumpa dengan angkot kosong jurusan Cicaheum Ciroyom yang kosong. Sebuah motor sederhana berhenti dihadapanku. Arjuna membuka helmnya.

“Assalamualaikum. Rumah kamu dimana?”

“Waalaikumsalam. Di Siliwangi.”

“Aku lewat situ juga, mau bareng?”

Aku berpikir sejenak dan ingat pada adikku yang belum bayar iuran bulan ini. Semoga ongkos yang seharusnya kupakai ini bisa berguna untuk adikku. Aku pun menjawab, “Ya. Terima kasih.”

“Sama-sama. Aku belum tau nama kamu.”

“Oh iya, maaf. Aku Liana. Panggil aja Lia. Kok aku kaya pernah liat kamu sebelumnnya ya?”

“Ah, masa?” Jawabnya sambil menjalankan mesin motornya setelah menyodorkan helm batok miliknya. Aku melihat sesosok wajah dalam majalah yang dijual oleh penjual Koran dan majalah di pinggir jalan. Sekali lagi, cover majalah itu memuat wajah Arjuna. Masya Allah, manusia macam apa Arjuna.

Arjuna, Arjuna, Arjuna. Aku mulai melakukan hobbiku. Meneliti mengapa Arjuna terlihat begitu keren. Fisiknya menarik, pintar, ahli ibadah, dermawan, ramah dan coverboy. Buset… hebat sekali orang ini.

Aku terus bersama dengannya, sebagai teman tentunya. Ia selalu di kerumuni gadis-gadis yang terkadang membuatku gelisah. Mungkin aku jatuh cinta. Tapi tentu cinta yang tak lebih dari cintaku pada Allah dan keluargaku. Aku tak berani mencintai seorang lelaki begitu dalam sebelum dia menjadi suamiku. Aduhh.. Apa sih yang aku pikirin? Dia ga mungkin suka ama aku. Gadis-gadis di sekelilingnya tampak jauh lebih menarik daripada aku. Aaiihhhh… apa lagi ini isi otakku?

“Arjuna, kenapa kamu begitu hebat?” Aku bertanya padanya ketika mengerjakan tugas tentang pasar.

“Maksud kamu apa?”

“Kamu pintar, baik, dermawan, cakep, ahli ibadah, sederhana, tidak sombong, ramah, coverboy. Apa aja yang orangtua kamu kasi?

“Mereka cuma ngasi aku kepercayaan. Sebelum peristiwa itu, ayah bilang kalo ayah percaya kalo aku pasti, akan, dan harus jadi orang sukses dunia akhirat.”

“Peristiwa…” Arjuna memotong perkataanku.

“Mereka dipanggil Allah pas lagi di Mekkah.”

“Wah, maaf Arjuna. Kamu jadi inget lagi ama ayah ibu kamu. Tapi alhamdulillah ya, meninggal di Mekkah.” Arjuna hanya mengagguk dan sedikit tersenyum.

Masya Allah. Allah menunjukkanku hal yang lebih bagus lagi tentang Arjuna. Arjuna sangat hebat di mataku.

Aku bersamanya selama 4 tahun dalam menyelesaikan gelar S-1 kami dalam bidang akuntansi. Aku menjadi tempat curhatnya yang ketiga setelah Allah dan kakaknya. Arjuna juga menjadi tempat curhatku yang ketiga pula setelah Allah dan ibuku. Aku banyak bertanya tentang bagaimana menjadi kakak yang baik. Dia kemudian menceritakan bagaimana kakaknya memberi teladan padanya. Dia juga mengajari banyak hal yang berbau makro dan mikro ekonomi. Aku mengajarinya sedikit mengenai bahasa Inggris. Buset! Hubungan kami benar-benar indah, bagus, banyak manfaat.

Setahun berlalu setelah wisuda. Aku dan Arjuna sudah lama tak berjumpa. Kabarnya dia sudah bekerja sebagai penasehat keuangan di sebuah bank terkenal. Dia memang pintar. Dia pantas mendapatkan pekerjaan itu.

Pekerjaanku sama sekali tak berhubungan dengan akuntansi. Aku dipercaya sebagai pekerja bagian humas dan marketing. Menurut atasanku, aku akan lebih bermanfaat jika ditempatkan di bagian-bagian itu untuk mengurusi klien dari luar Indonesia. Maklum, perusahaan tempat aku bekerja tidak terlalu besar, sampai aku bisa merangkap jabatan. Perusahaan itu adalah perusahaan batik. Alhamdulillah perusahaan itu terus berkembang.

Keluargaku tak lagi kesulitan ekonomi. Adikku sampai ke bangku universitas. Universitas yang bagus tentunya. Alhamdulillah. Aku merasa sudah bisa melaksanakan kewajiban menjadi seorang anak dan kakak walau cuma sedikit. Semoga aku bisa lebih baik lagi. Amin.

Masya Allah. Arjuna mengetuk pintu rumahku. Aku kaget. Aku cuma bisa menyediakan tempat seadanya di rumahku yang sempit ini.

Kami mengobrol ditemani dengan adikku yang sedang mengerjakan pr di ruang tamu. Kami asyik berbicara tentang pekerjaan kami masing-masing, hingga ia mengajukan pertanyaan, “Lia mau ngga berumah tangga sama saya?”

Tentu aku tertegun. Dia pun melanjutkan, “Lia tanya dulu sama ibu sama adik. Besok aku datang lagi kesini. Mmm.. udah jam empat. Aku mau ke studio foto dulu. Salam buat ibumu. Dadah Ade! Lia, Assalamualaikum.”

Hatiku berbunga-bunga. Adik laki-lakiku juga mengucapkan, “Wah, Ka, Ade setuju sekali, eh sejuta kali.”

Masya Allah. Allahu Akbar. Karunia yang super besar. Alhamdulillah. Aku membayangkan betapa bahagianya hidupku kelak, bisa berumah tangga dengan suami yang sangat hebat. Suami yang bisa mengantarkanku pada tempat tertinggi, yaitu menjadi orang yang penuh manfaat dan meraih surga. Wahai Tuhanku, Engkau Zat yang Maha Dahsyat telah mengabulkan doaku.

Setelah ibuku pulang dari tempat kerjanya, yaitu sekolah, Aku memberinya kabar gembira ini. Ibuku senang melihat aku senang. Ibuku senang karena calon menantunya adalah lelaki yang sangat baik. Ibuku percaya padaku atas keputusanku menikah dengannya.

Hari berganti hari. Meski kemarin terasa sangat panjang karena aku tak sabar menunggu hari ini. Aku tak sabar menunggu pangeran hatiku.

Tok, tok. Suara pintu terketuk. Aku menuju pintu sesegera mungkin. Hatiku tak sabar melihat Arjuna di hadapanku. Kubuka pintu setelah menggeser selotnya. Aku tak melihat Arjuna. Seorang wanita berkerudung berdiri di pintu. “Assalamualaikum,” ucapnya.

“Apa Anda Liana?” wanita itu bertanya.

“Ya, silakan duduk,” Jawabku.

“Terima kasih. Saya Sri kakaknya Arjuna. Liana mungkin akan kaget denger ini. Arjuna ga bisa tepatin janji mau berumah tangga sama Liana. Barusan Arjuna kecelakaan. Arjuna dipanggil sama Allah,” isaknya.

Air mata menetes dari matanya yang memang sudah bengkak. Aku tak tahu harus memikirkan apa. Air mata tak bisa kutahan, “Inna lillahi wa inna illahi rojiun,” ucapku.

Hatiku sedih. Hatiku hancur. Hatiku remuk. Hatiku tersayat-sayat. Hatiku pilu. Luka, perih, pedi kurasa. Aku tak kuasa menghadapi kenyataan ini. Mimpiku hilang. Allah memanggil Arjuna. Aku tak merasa sanggup. Aku kehilangan separuh jiwaku. Aku terus menitikkan air mata.

Adzan maghrib berkumandang. Aku mengajak Kak Sri solat bersamaku. Begitu aku berwudhu. Hatiku lebih tenang. Allah memang pemilik segalanya. Mungkin ini memang yang terbaik untuk Arjuna dan aku. Bukan mungkin, tapi memang yang terbaik untuk semua orang. Wahai Tuhanku, Allah yang Maha Mengetahui, tabahkanlah hatiku. Tabahkanlah orang-orang yang ditinggalkannya. Berilah tempat terbaik bagi Arjuna di sisi-Mu wahai Engkau yang Maha Adil.

Dua puluh enam tahun berlalu sejak kejadian itu. Aku kini berumah tangga dengan seorang lelaki yang ahli ibadah. Ia menerimaku apa adanya. Ia tak mempersoalkan hubunganku dengan almarhum Arjuna. Suamiku lelaki yang baik, berjiwa pemimpin walau tidak semenarik Arjuna dan juga tak seterkenal Arjuna. Tapi dia pintar. Dia tahu cara merebut hatiku. Dia membuatku sangat bahagia. Dia membuatku sering tertawa.

Aku kini memiliki dua orang anak. Anak pertamaku laki-laki dan yang kedua perempuan. Anak laki-lakiku sudah menikah. Aku ingat apa yang diucapkan menantuku sebelum hari pernikahannya, “Tante, Arjuna itu  pintar, baik, cakep, dermawan, ahli ibadah, sederhana, tidak sombong, ramah, coverboy lagi. Lina penasaran, tante ngajarin apa aja sama Arjuna?”

Abis euy pembaca. Cerita ini berakhir. The end ceuk bahasa inggris mah.

Susan H.K. 2006

Saran Kritik please! thx!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on January 11, 2010 by in Uncategorized and tagged , , .
%d bloggers like this: