inhale every moment

everything has it's inspiring story

Cerita Pendek Tentang Cinta 1 “Apalah arti sebuah nama? Besar artinya, tau!”

Peninggalan Susan 3-4 tahun yang lalu…

Apalah arti sebuah nama? Besar artinya, tau!

Perkenalkan, namaku M. Rionaldo Al Hafizh, tapi panggil aku Aldo. Aku tak begitu peduli dengan namaku -terutama bagian Muhammad- yang penting bagiku adalah semua orang memanggilku Aldo. Namaku memang terdengar kolot, maksudku namaku tak seperti nama-nama bintang Hollywood. Tapi aku senang. Aku berterimakasih pada orang tuaku karena ada ‘Rionaldo’ dalam namaku. Nama itu membuatku merasa sangat hidup. Kuulagi sangat hidup!

Aldo, itu aku. Aku Aldo. Aku bisa mengulang kalimat itu hingga aku tertawa keras ketika aku memikirkan diriku sendiri. Menurut teman-temanku serta cermin yang kulihat setiap hari, aku adalah lelaki yang nyaris sempurna. Mengapa teman-temanku dan aku menganggap diriku begitu? Lihat saja testimony teman-temanku yang ada di dalam cerpen ini. Semoga aku takkan seperti Narcissus yang dikutuk mencintai diri sendiri hingga mati karena hanya diam melihat bayangan wajahnya sendiri tanpa henti karena menolak cinta seorang dewi kemudian dikutuknya.

Suatu hari, aku sedang berdiskusi dengan sahabatku Roni. Aku punya rencana untuk menembak seorang gadis. Gadis yang kusukai saat ini adalah Amira. Amira adalah cewek favoritku. Setiap kali ia berjalan, banyak sekali lelaki yang memandanginya. Rambut lurusnya yang tipis menutupi setengah punggungnya, bergoyang. Kulit kuning langsat miliknya memancarkan keindahan. Lesung di pipinya membuatnya terlihat manis. Wajahnya lonjong, hidungnya mancung, pipinya seperti buah delima. Ia langsing. Tingginya sekitar 160 cm. Amira selalu menggunakan tas dan jaket yang indah sesuai dengan dirinya, karena ia termasuk kalangan orang berduit. Kaki kurusnya terlihat sangat menarik perhatian lelaki. Untungnya, tak semua siswa mengincarnya. Yang tidak berani menyukainya hanyalah orang yang merasa tak sepadan dengannya atau yang imannya kuat.

Tadi kubilang aku akan menembak Amira. Ya, itu benar. Roni bilang padaku kalau Amira baru saja putus dengan dengan pacarnya (yang anak kuliahan gituh!) seminggu yang lalu. Tiba-tiba rasa takut timbul. Aku takut Amira menolakku. Aku tak tahu lelaki selera Amira. Roni memberiku semangat, “Do, jangan takut, semua cewe di sekolah ini tau kalo loe tuh cowo paling keren di sekolah. Kamu tinggi, putih, cakep, kayak bule, ramah ama jago maen Baseball bawa Tiger lagi. Amira rugi berat kalo nolak loe!”

Perkataan Roni benar-benar membuatku bersemangat. Efeknya langsung terasa dalam tubuhku. Adrenalinku mulai bekerja. Langsung aku menghampiri Amira yang duduk di bangku kantin paling kiri. Kebetulan tempat duduk sebelah Amira kosong. Ia sedang ngobrol dengan teman-temannya di bangku panjang itu. Amira sedang menyedot minuman jeruknya dengan perlahan seperti memikirkan sesuatu.

Aku sempat ragu. Tapi aku adalah Aldo. Aldo yang dikagumi oleh banyak wanita dan dihormati banyak orang. Aku pasti bisa. Kaki-kaki gemetar ini kulangkahkan menuju Amira. Si Cantik Amira. Aku macho. Aku bisa. Aku duduk di sebelahnya dan mengucapkan, “Hai!”

Amira memberiku senyum yang sangat aku sukai. Aku tak suka basa-basi. Kutatap mata indahnya yang coklat dan bertanya, “Boleh nanya sesuatu?”

Teman-temannya terdiam dan aku merasa semua perhatian mereka tertuju padaku seakan tahu apa yang selanjutnya akan kulakukan. Amira menjawab, “Silakan.”

“Kamu mau kan jadi pacarku?”

Kalimat itu kutanyakan dengan tatapan yang kureka sebisaku agar ia menjawab jawaban yang kuinginkan. Teman-temannya kemudian bersorak, “Terima! Terima!”

Amira terlihat berpikir sejenak tetapi beberapa saat kemudian ia tersenyum, “Ya, aku mau jadi pacar kamu.”

Isi kepalaku berkata, “YESSS! YESSS! Aldo gtu loh! Gue ga pernah ditolak seumur hidup gue. Alhamdulillah!”

Aku mengajak Amira berjalan-jalan ke taman di depan masjid SMAN 2 Bandung yang membanggakan banyak pihak itu. Busett! Aku bahagia sekali. Kaya dapet apa gitu. Mungkin perasaan paling senang yang pernah aku alami sepanjang tahun 2006 ini.

Enam minggu kemudian, kisahku dengan Amira kandas. Tak kupercaya sebenarnya ia masih berhubungan dengan mantan kekasihnya itu. Kini mereka bersama lagi. Hatiku hancur tapi tak sehancur ketika aku pertama kali aku dikhianati perempuan. Aku sudah cukup pengalaman dalam hal seperti ini. Dari sepuluh wanita yang pernah kupacari, dia wanita kedua yang berani mengkhianati. Aku kesal padanya tapi memang bukan sepenuhnya salahnya, karena pada kenyataanya memang aku yang ingin menjadi pacarnya. Ternyata wanita yang awalnya kupuja selama 4 bulan terakhir ini, akhirnya kumaki dan kubenci. Ya, kurang lebih sama dengan cerita-cerita cintaku sebelumnya. Hatiku seperti sangat mudah dibolak-balik. Dulu cinta sekarang benci. Baru sekarang aku sadar kalau hatiku seplin-plan itu. Aku bosan aku ingin mengakhiri permainan tembak putus buatanku ini.

Delapan bulan telah berlalu sejak aku meminta Amira menjadi pacarku. Aku masih memegang teguh ikrarku yang isinya menyatakan bahwa aku akan mengakhiri permainan tembak putus. Mengapa kusebut tembak putus? Karena seringkali aku yang menembak dan aku pula yang mengumumkan kata putus. Mau tau ringkasan kisah cintaku dengan wanita-wanita itu? Aku mengelompokkannya menjadi tiga.

Kelompok satu: wanita egois yang bilang sangat cinta padaku. Kelompok ini terdiri atas enam orang: Lenny, Rizka, Madelin, Cindy, Lisa dan Fina. Mereka sangat perhatian padaku. Handphone-ku berdering minimal empat kali sehari dan sms yang berdatangan tak kurang dari enam buah setiap harinya (membuatku sulit bernafas lega). Kata-kata yang ingin mereka dengar dariku hanyalah ‘Aku Suka Kamu’ atau yang agak lebih berat ‘Aku Cinta Kamu’. Mereka akan selalu berusaha muncul dihadapanku dan tampil paling mencolok diantara perempuan lainnya. Sering cemburu (tambah membuatku sulit bernafas lega). Mereka bangga menjadi pacarku hingga memegang tanganku erat-erat bahkan memelukku (seneng sih! Tapi kan malu diliat orang).

Kelompok dua: perempuan yang mengkhianatiku.

Mantan pacarku yang termasuk kelompok ini adalah Susana dan Amira. Aku tak usah menjelaskan tentang yang ini. Ceritaku dengan Susana (bukan yang Suzanna yang suka main film horror loh ya!) tak jauh beda dengan cerita cintaku dengan Amira.

Kelompok tiga: perempuan yang memutuskan aku.

Tina memutuskan aku karena ia berpikir bahwa pacaran mengganggu konsentrasinya dalam belajar. Hweewaaa! -slogannya Eci, teman penulis- Aku tak menyesal putus, Tina lebih tertarik pada buku yang ada dihadapannya ketimbang diriku. Yang kedua adalah Ninis. Ia hanya gadis polos. Banyak perempuan yang dekat denganku sehingga Ninis sering menangis menahan sakit hatinya melihat aku bercanda dengan perempuan lain. Begitu perkataanya padaku pada akhir masa kami bersama. Ninis sangat baik hati dan lugu serta pemalu. Namun ia tak bisa melihatku ramah dengan perempuan lain. Ia lebih baik putus daripada merasa dipanas-panasi olehku.

Aahhh… aku jadi mengingat-ingat masa laluku yang buruk… Enyah Kau dari ingatanku wahai masa-masa kelam!

Pagi ini kepalaku terasa pusing. Karena begadang dengan ayahku. Kami menonton film bokep (boong ding!), film perang yang aku lupa judulnya dan juga film Superman. Aku jarang bersama dengan ayahku. Beliau hanya pulang akhir pekan, jadi aku harus memanfaatkan waktu singkat itu dengan ayahku (jika aku sedang punya pacar aku punya waktu lebih sedikit waktu dengan ayahku).

Hari ini hari Senin. Kepalaku pusing. Senin plus pusing, sungguh menyebalkan. Tapi aku tidak menyesal begadang menemani ayahku (atau ayahku yang menemaniku?). Aku agak bersemangat mengikuti pelajaran hari ini, hingga pusingku bertambah berat. Saat aku pulang dengan tiger merah, cast wheel ,150 cc, berpolet awesome favoritku, aku terjatuh. Itu karena kepalaku yang pusing dan ada anak perempuan yang menyebrang tiba-tiba. Aku membanting setangku ke kiri dan menabrak trotoar. Aku terpelanting ke taman pinggir jalan itu hingga mematahkan tangan kiriku. Motorku? Kendali koplingnya bengkok, stangnya agak miring, lampunya  tergores, tutup aki lepas, step bingkeng, dan body-nya tergores.

Untungnya ada orang yang menolongku saat itu. Seorang lelaki yang umurnya kira-kira 38 tahun menolongku. Ia memanggilkan ambulance. Ia juga menelpon polisi yang mengambil motorku dan ‘mengamankannya’ di kantor polisi. Lelaki itu menawarkanku untuk memberitahu orang tuaku sendiri atau ia yang memberitahu orang tuaku. Aku bilang kalau aku yang akan memberitahu orangtuaku.

Aku menelepon ibuku ketiak, eh, ketika aku berada di rumah sakit. Aku memikirkan betul-betul kata-kata yang akan kukatakan pada ibuku. Akhirnya aku mendapatkan  kata-kata ini:

Aku: Assalamualaikum, Bu!

Ibu: Waalaikumsalam. Aa ada dimana?

Aku: Disini aja, Bu. Apa kabar Ibu?

Ibu: Baik?!! Kunaon kamu teh?

Aku: Aa juga baik-baik aja, Bu. Tapi tangan kiri Aa patah. Aa di Hasan Sadikin ruang Anggrek no 3A. Tadi Aa jatoh dari motor.

Ibu: Heemmm.. Si Aa mah! Tungguan ibu atuhnya.

Dua puluh menit kemudian Ibuku tercinta datang. Langsung diusapan mastaka abdi teh ku pun biang (dalam bahasa Indonesia: langsung dielus kepalaku olehnya). Alhamdulillah, Ibuku tak mengeluarkan air mata ngan geleng-geleng kepala sakedik. Ibuku tak memberitahu ayahku di Jakarta. Baru ketika ayahku pulang di akhir pekan ibuku memberitahu beliau.

Aku belum bisa mengendarai motor ke sekolah. Naik angkot deh! Padahal si tiger udah keluar bengkel kemaren. Itu gara-gara patah tulang tangan. Dua-duanya pula, radius dan ulna. Tahukah kamu? Aku benar-benar rindu pada motorku. Jauh melebihi kekasih-kekasihku yang dulu. Kalau begitu kekasih-kekasihku itu tidak bisa disebut kekasih karena aku cinta motorku. Aku sebut apa dong? Cocooan (mainan) kitu? Jahat teuing urang teh! Pacar aja lah!

Naik angkot euy! Tangan kiri di gips deuih!–Ti tadi nganggo basa Sunda wae, punten nya! Atosan da ayeuna!– Aku berjalan melewati gang samping sekolahku (lewat kosannya Mike (maap.. temennya penulis!), melalui SMP Pasundan 8 dan menuju jalan Bapa Husein. Kemudian aku menyebrang ke tempat ngetem angkot Kalapa-Ledeng (pembaca sadar ngga kalo Abd. Muis disamain sama Kalapa?).

Di tempat itu aku melihat seorang pelajar SMA, sepertinya satu sekolah denganku, memakai kerudung yang panjangnya menutup dadanya dan seragamnya cukup longgar. Sepertinya aku kenal orang itu. Perempuan itu juga menunggu angkot. Ia memalingkan wajahnya ke arahku.

“Mida!” sapaku (ternyata itu Rosmida teman SMP-ku yang juga se-SMA denganku.

“Hai,” tersenyum sedikit (terkesan pelit dan tak ingin diganggu, atau malu sama aku?).

“Lagi nunggu angkot?”

“Hmm,” sambil mengangguk.

“Angkot jurusan apa?”

“Ledeng”

“Bareng dong kalo gitu!”

Pikiran itu sempat muncul. Pikiran untuk memulai tembak-putus itu. Tapi, tidak! Takkan ku ulangi. Mida memang cantik. Kalaupun aku akan melakukan itu aku yakin 80% ditolak (aku tak ingin punya catatan hidup sebagai pria yang ditolak! No Way!).

Angkot jurusan Ledeng itu datang, tetapi cukup penuh dan penumpang yang menunggu di tempat ini juga banyak. Mida terlihat malas berebut dengan penumpang atau calon penumpang lainnya.

Sepuluh menit kemudian angkot yang agak sepi penumpang datang. Kami berdua naik angkot itu. Posisi duduku berhadapan dengannya.

“Mau turun dimana?”

“Di Gerlong Hilir,” Mida menjawab pertanyaanku.

“Kamu?”

“Di Panorama.”

“Oh…”

Hening sejenak. Aku melanjutkan penbicaraan kami, “Mid, dulu kamu kan ga pake kerudung pas SMP. Kenapa sekarang pake?”

Tanpa kusadari aku membuat semua penumpang di angkot itu mengarahkan pandangan mereka pada Mida. “Agamaku Islam. Aneh kalau ada orang yang ngaku islam tapi ga ngejalanin apa yang islam suruh,” jawab Mida.

“Memangnya wajib pake kerudung?”

“Maksud kamu jilbab? Iya, pake jilbab itu wajib.”

“Kalo ngga pake dosa dong! Waktu SMP kamu kan ga pake. Gmana tuh?”

“Iya, aku dosa. Mudah-mudahan Allah mengampuniku,” Mida terlihat menyesal dengan masa lalunya.

“Kalo aku liat aurat perempuan yang ga pake jilbab gimana?”

“Yang belum pake jilbab?”

“Mmh, iya. Tapi kapan tea? Kalo dapet hidayah? Hidayah kan bukan dapet ato turun, tapi dicari dengan usaha. Iya kan?”

“Em..em..” menggangguk, kemudian melanjutkan kata-katanya.

“Wues.. Aldo calon ustad nih..”

Buset! Kata-katanya dalem. Kapan aku jadi ustad? Aku kan cuma suka solat doang. Aku bergumam di dalam kepalaku.

Mida bertanya, “Namamu Muhammad kan? Berat banget dong punya nama itu?”

Buset! Kata-katanya makin dalem. Aku belum pernah memikirkan hal itu sebelumnya. Tak pernah terlintas dibenakku. Bahkan menganggapnya nama kolot, mengesampingkannya dan menganggap kata Rionaldo-lah yang terbaik dalam namaku. Astagfirullah! Jangan-jangan Mida balas dendam padaku karena aku mengingatkan dia kalau dia belum memakai jilbab ketika SMP? Kuharap Mida tidak begitu.

“Oh iya, tadi aku belum jawab pertanyaan kamu. Laki-laki kalau liat perempuan tidak akan berdosa jika tidak disertai hawa nafsu, tapi lebih bagus kalau laki-laki itu memalingkan mukanya,” Mida selintas seperti menceramahiku.

“Do, udah nyampe Gerlong Hilir nih. Duluan yah. Assalamualaikum!”

“Waalaikumsalam,” jawabku sambil mengingat-ingat kapan terakhir kali salah satu temanku mengucapkan salam islami itu padaku.

Mida turun dari angkot, membayar ongkos kemudian tersenyum padaku. Senyumnya memang manis, tapi jadi terasa asin karena ia meninggalkanku sendiri dengan perasaan gendok di kepalaku. Tapi bagus! Mida mengingatkan aku.

Aku mulai mengangkat kepalaku dan melihat sekitarku, melihat pemandangan di hadapanku yang terus berganti seiring dengan melajunya angkot yang kutumpangi serta melihat penumpang-penumpang yang ada. Ada beberapa perempuan yang sedang berpikir. Perempuan-perempuan yang auratnya masih bisa kulihat. Sepertinya mereka senasib denganku, gendok dengan perkataan Mida.

Angkot ini telah membawaku hingga Panorama. Aku turun dong! Aku sudah tak memikirkan perkataan Mida tentang nama nabi Muhammad dalam namaku. Tapi aku juga tak pernah tanya pada orang tuaku mengapa memberi nama seberat itu atau apa arti Al Hafizh. Akan kutanyakan pada Ibu.

Malam hari aku benar-benar bertanya pada Ibuku. “Bu, kenapa Ibu ngasih Aa nama Muhammad Rionaldo Al Hafizh?”

“Waktu dulu Ibu udah jawab pertanyaan kayak gitu.”

“Masa, Bu?!”

“Iya, kamu lupa?”

“Aldo lupa, Bu.”

“Nama Muhammad, ya udah jelas dari manusia paling hebat yang pernah ada di dunia, Nabi Muhammad s.a.w.”

“Ibu tau kan, berat punya nama itu!”

“Kamu ngerasa berat?”

“iya atuh Ibu. Memang Ibu pengen Aa jadi kayak Nabi Muhammad ya, Bu?”

“Betul, tapi Kamu ga harus sehebat Nabi Muhammad, cuman usaha Kamu jadi orang paling bermanfaat harus kayak nabi Muhammad.”

“Asa sami wae, Bu.”

Ibuku tertawa. “Kalo Rionaldo, Ibu ketemu Ayah waktu naik angkot yang dibelakangnya ada tulisan itu. Dipampang gede di kaca belakangna teh, ‘Rionaldo’. Gitu Kasep!”

“Waihh…, Ibu mah euweuh gawe!”

Ibuku tertawa makin keras. Beliau hampir meneteskan air mata. Punten atuhnya. Lamun teu gara-gara si angkot Rionaldo tea, meureun Aa moal aya.”

“Ai Al Hafizh naon, Bu?”

“Yang Maha Pemelihara. Salah satu dari 99 nama Allah.”

Mida berhasil membuatku mencari hidayah. Aku menyesali perbuatanku memacari sepuluh gadis. Keesokan harinya, aku bertemu Mida lagi. Aku ingin sekali bertanya lebih banyak padanya. Aku bertanya ketika kami menunggu angkot, “Gimana ceritanya kamu bisa pake kerudung?”

“Waktu SMP kelas 3, aku bandel banget. Aku ga suka solat. Aku juga pacaran satu kali. Anto namanya. Anto bilang dia anak SMA 2. Anto baik sekali sama Mida. Anto sama Mida memang ikrar pacaran, tapi Anto ga mau megang tangan Mida atau mandang Mida lama-lama. Dia suka ngajak Mida jalan-jalan sama jajan di mall. Mida seneng banget waktu itu. Mida anggep Anto memang laki-laki macho yang bener-bener ngehormatin Mida. Anto banyak ngajarin Mida jadi orang baik, ngasih nasehat dan ngasih solusi buat Mida. Waktu Mida diceramahin pertama kali, Mida kesel tapi dia bilang,‘Mida, lakukan itu buat aku yah, plis’. Jadi, aku nurut aja. Dia yang nyuruh aku solat ampe nyuruh aku pake kerudung. Walaupun Mida ngerjain itu cuma buat nyenengin Anto, tapi dia bilang tujuan Mida bakal berubah sendiri. Mida bakal ngerjain ibadah karena Allah.

Mida cinta banget sama Anto waktu itu. Pas hari pertama Mida pake kerudung, Anto bilang Mida cantik banget pake kerudung. Trus dia ngasih Mida fotonya. Besoknya Anto ga datang lagi ke sekolah. Nomor telepon hp-nya ga aktif. Nelpon ke rumahnya malah diangkat nenek-nenek yang bilang Anto udah meninggal 16 taun yang lalu. Pasti bukan Anto kan? Anto kemarin aja masih ngobrol sama Mida. Mida sedih.

Besoknya lagi, Mida kira Mida ilang dompet. Pas nanya ke Mama di rumah, dompet Mida ada di kamar Mida. Pulang sekolah, Mama keliatan aneh. Mama ternyata ngebuka dompet Mida dan ngeliat foto Anto. Mama bilang itu foto itu foto ayah kandung Mida waktu SMA. Ayah Mida meninggal 16 tahun lalu. Namanya Adrianto. Nama panggilannya Anto. Ibu ngeluarin foto yang persis kaya yang aku dapet dari Anto. Aku jadi tau dua hal. Pertama, Papa bukan ayah kandung Mida. Kedua, Anto itu ayahku. Mida bingung bulan-bulanan denger pengakuan Ibu. Bisa aja Anto itu ayah Mida yang ga mau Mida masuk neraka.”

“Wah… sulit dipercaya,” kataku.

Mida tertawa kecil. “Aku boong.”

“Ngga nyangka Mida bisa boong ampe kita ketinggalan angkot!”

“Aku cuma boong yang bagian aku diajak jajan di mall ama Anto.”

“Aneh banget dong.”

“Mmm,” Mida mengangguk.

“Mungkin itu almarhum ayah kamu yang pengen ketemu kamu.”

Aku pulang bersama dengan Mida selama dua minggu. Karena gips di tanganku sudah dibuka, aku kembali menggunakan motor. Pada hari pertamaku memakai motor, aku mengajak Mida pulang bersama. Mida menolak meski aku memohon padanya untuk kuantar pulang. Akhirnya, aku mengeluarkan pertanyaan yang berat padanya, “Maukah kamu menunggu aku sampai waktu kita tepat?”

Mida berkata, “Insya Allah, akan aku usahakan.”

Setelah saat itu kami semakin jarang bertemu. Aku semakin sering berdoa kepada Allah agar berjodoh dengannya. Aku semakin giat memperbaiki sikap-sikapku. Aku berusaha keras agar aku pantas berada di samping Mida sebagai seorang laki-laki, tentu yang kumaksud sebagai suaminya kelak. Aku tahu dia juga melakukan hal yang sama, berdoa kepada Allah dan terus menjadi manusia yang lebih baik. Sungguh, hubungan seperti ini yang kuharapkan. Terasa sekali membuatku bahagia, tenang dan tentram. Terimakasih pada Allah Yang Maha Dahsyat yang telah mempertemukan aku dengan Mida saat itu. Allahhu Akbar!

Mida, tunggu lamaranku sekitar tujuh tahun lagi! Pembaca, doakan aku dan Mida bersama sebagai sebuah keluarga ya! Semoga Allah memberi yang terbaik untuk kita semua!

Susan H.K. 2006

PLEASE COMMENT ON THIS MY FRIEND…

memang ga ku edit… krn ingin lebih asli peninggalan susan masa lalu.. hehe..

Msh perlu belajar cara ngeblog…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on January 11, 2010 by in Uncategorized.

Navigation

%d bloggers like this: