Cerita Pendek Tentang Cinta 3 “Satu di Hati”

Warning! Kalau membaca harus sampai akhir!

Satu di Hati

Bidadariku telah pergi. Jauh. Tak bisa kujangkau. Tapi aku yakin, aku akan bertemu dengannya lagi.

Senyum tulus itu takkan pernah kulihat lagi. Wajahnya yang menyejukan hatiku, keteduhan yang ia berikan dan sinar lembut yang terpancar dari mata indahnya hanya bisa kunikmati dari kertas berbalut kaca dengan bingkai polos yang kusimpan disamping tempat tidurku. Pembaca ngartos pan! Maksud abdi teh ngan tiasa di tempo dina poto nu dipiguraan. Kuletakan disitu agar aku bisa terus mengenangnya. Sebenarnya, tanpa foto itu pun aku punya gambaran yang lebih detail mengenai bidadari itu disini, di dalam hatiku.

Yang paling sulit kulupakan tentang dia adalah… adalah… mmm… sadayana. Sadayana tentang dia tak bisa kulupakan. Aku terkesan oleh kecantikannya. Outer beauty-nya memang tak seperti Mariana Renata, Dian Sastro atau semacam mereka, tapi inner beauty-nya masya Allah cantik. Penampilan fisiknya tak sanggup membendung indah hatinya. Maksudna teh kieu tah hatena meni geulis jauh ngaleuwihan rupana.

Bidadariku, kau akan selalu hidup dalam hatiku. Tatapan mata penuh cinta milikmu akan selalu ada di dalam jiwaku. Terima kasih telah menitipkan dua pasang mata indah yang sama cantiknya dengan milikmu. Insya Allah, akan kujaga mereka dengan sebaik-baiknya.

Aku, Putra Rahmat Pratama. Maksudna, nami abdi Putra Rahmat Pratama, sanes murangkalihna Rahmat Pratama. Aku, Putra Rahmat Pratama berjanji akan terus berjuang demi cintaku padanya.

Itulah ikrarku yang kutanam dalam hati saat pertama kali jatuh cinta. Barijeung teu terang cinta teh naon. Pada umur 13 tahun, aku mulai menyukai wanita eh, perempuan. Rinanti Annisa Ayu adalah gadis yang menaklukkan hatiku.

Saat itu aku benar-benar mabuk. Mabuk cinta. Mabuk asmara. Mabuk wanita. Aduh, punten ulah ditiru. Kekhilafan masa lampau.

Rinanti. Rinanti. Rinanti. Nama itu selalu terngiang di telingaku sejak pertemuan pertamaku dengannya. Sulit sekali melupakan nama itu. Maksud saya pemilik nama itu. Wajahnya yang kalem dan terkesan damai selalu menghiasi hatiku. Perasaan ini timbul sebelum mengenalnya.

Terpesona ku pada pandangan pertama dan tak kuasa menahan rinduku… Lagu Glenn dan Audy itu kena banget di hatiku. Kelas satu SMP adalah pertama kali aku jatuh cinta.

Seminggu setelah MOS, Masa Orientasi Siswa, aku tak lagi dijemput orang tuaku. Aku harus belajar pulang sendiri menggunakan angkot. Sekolahku cukup jauh yaitu di Jalan Sumatera, sedangkan rumahku di Gunung Batu. Lumayan jauh. Menurutku itu jauh apalagi untukku yang baru masuk SMP dan ketika SD terbiasa menggunakan angkutan antar jemput. Aku naik angkot ST Hall-SD Serang hingga Stasiun Hall. Kemudian mencari angkot yang Gn. Batu yang ngetem.

Tanggal 2 Agustus 2001 adalah pertemuan pertamaku dengan Rinanti. Ketika aku menaiki angkot Gn Batu yang ngetem, baru ada satu penumpang yang menunggu. Kulihat sesosok wanita berambut hitam panjang kusut menutupu wajah yang buruk rupa, bergaun putih, kaki yang samar-samar dan ia sedang tertawa sendirian dengan tawa khas kunti… Wah!! Ngga! Aku bohong, itu bukan Rinanti. Aku juga nggak pernah melihat sosok seperti ini.

Tanggal 2 Agustus 2001 adalah pertemuan pertamaku dengan Rinanti. Aku bertemu dengannya saat menunggu angkot untuk berangkat. Saat itu aku sedang kesal dengan guru-guru yang memberi tugas macam-macam hingga harus mencari data ke kelurahan (untuk tugas mata pelajaran ekonomi), ke perpustakaan (tugas sejarah), dan juga menonton kabater di Rumentang Siang di Jalan Baranang Siang (kata temanku mah Beranak Siang). Kekesalanku hilang. Pikiranku teralihkan oleh Rinanti.

Gadis itu duduk santai, memejamkan matanya agak lama kemudian membuka matanya pelan-pelan sambil bernafas dengan teratur. Sepertinya ia berusaha menenangkan diri dan ia berhasil. Gadis dengan rambut ekor kuda, seragam biasa-biasa tanpa hipster atau ketat, tas besar penuh dengan buku serta wajah yang terlihat tenang itu duduk di hadapanku. Wajah itu sangat tenang teduh, damai, tanpa beban, tanpa rasa sedih ataupun kesal walau keringat tercucur dari keningnya karena panasnya cuaca. Sorot matanya lembut dan bibirnya agak tersenyum tapi tidak bisa dikatakan tersenyum. Ku intip selembar nama yang terjahit di seragamnya, tertulis Rinanti Annisa Ayu.

Ayu dan manis. Kata-kata yang tepat untuk Rinanti. Sikap diamnya ketika menunggu saja bisa mengusir rasa kesalku, apalagi senyumnya, tawanya, ucapannya, tingkah lakunya… mungkin bisa membuatku melayang tinggi di angkasa dan merasa seperti orang paling beruntung di dunia.

Kuintip pula lengan kanan seragamnya. SMP Negeri 5 Bandung. Satu SMP dong! Kulihat kaos kakinya. Di kaos kakinya ada logo SMP 5. Wah satu angkatan juga! Ngobrol jangan… ngobrol jangan…

“SMP 5 juga yah?” akhirnya keluar juga kata-kata dari mulutku.

“Iya,” sungguh jawaban yang singkat sekali dan memang sesuai dengan pertanyaan.

“Rumah kaamu di daerah Gunung Batu juga?”

“Iya”

“Kamu di kelas mana?”

“1H”

“Aku 1A”

Benar-benar singkat, tanpa basa-basi atau bahkan sekedar balik bertanya pun tidak. Terkesan tertutup sekali. Tapi jawaban yang ia berikan bernada ramah. Ia berusaha baik padaku. Aku tahu itu.

Yang paling menyenangkanku adalah ketika turun di Gunung Batu. Rinanti turun terlebih dahulu dan mengucapkan, “Duluan ya!” dan tersenyum padaku. Benar perkiraanku. Senyumnya membuatku senang. Senang sekali. Bahkan kakak perempuanku terheran-heran dengan wajahku yang berbinar-binar. Lebih berbinar-binar daripada ketika mendapat rengking satu waktu SD katanya.

Jarang sekali aku bisa bertemu dengan Rinanti. Kalau tidak dari kejauhan, maka aku melihatnya dari jarak dekat tapi sama sekali tidak melihat ke arahku. Rinanti juga tak kujumpai di angkot. Sepertinya ia mengambil rute lain seperti naik angkot Kalapa-Ledeng atau Antapani Ciroyom. Tapi tetap saja, wajah serta senyumnya selalu dekat denganku. Selalu hadir di benakku.

Naik ke kelas dua, sekolahku mengacak kelas. Maksudku aku tidak akan berada di kelas yang sama ketika aku kelas satu. Kubertanya pada Rinanti yang kebetulan ada di depan kelas baruku, “Kelas 2E juga?”

“Mm.. mm..” Rinanti mengangguk dan langsung mengobrol kembali dengan seorang teman disampingnya. Hatiku berdegup kencang. Aku ditakdirkan sekelas dengan wanita yang kusuka. Siapa yang tidak senang bila menjadi diriku? Langsung aku membayangkan banyak hal. Bagaimana kalau aku duduk di sebelah kiri atau kanannya? Kalau kanan atau kiri bangkunya? Kalau sewaktu-waktu sebangku? Kalau aku sekelompok dengannya untuk tugas tertentu? Membayangkan saja membuat aku senang, apalagi mengalaminya.

“Aduh… itu yang lagi jatuh cinta. Muka penuh harap akan dihujani cinta… nulis apaan sih?” kakakku mulai menganggu dengan mengambil kertas yang sedang aku tulisi.

“Ganggu aja! Kembaliin!”

“Wahai belahan jiwaku.. akankah senyum..”

“Kembaliin!” pintaku sambil berusaha mengambil tapi tak mampu karena dia lebih tinggi dariku.

“Akankah senyum manis itu menghiasi hatiku selamanya?”

“Heh!”

“Iya. Ini aku kembaliin.”

Kakakku, Putri, memang sungguh menyebalkan. Tapi dia yang membuat rumahku jadi bernyawa, hidup. Apalagi sejak ibuku meninggal. Dialah lenteraku. Aku sangat bersyukur Tuhanku memberi kakak seperti dia. Dalam dirinya aku bisa merasakan hangatnya cinta Ibu.

“Jatuh cinta yang pertama kali nih ye!”

“Sshhhtt!”

Tanpa kusadari, Rinanti membawa perubahan pada diriku. Akupun baru tahu kalau aku puitis. Puitis romantis eksotis. Dia jadi inspirasi buatku. Mengingatnya membuatku senang dan tersenyum sendirian. Aku menjadi pujangga, memetik gitar dan mengalunkan lagu indah tentang dia,

Sekelas dengannya berarti aku bisa mengenalnya lebih jauh. Sayang tempat duduk kami jauh. Dari ujung ke ujung! Untungnya, aku berada di barisan yang lebih depan daripada dia, jadi kalau aku menoleh ke belakang aku bisa lihat wajahnya. Kalaupun tidak menoleh ke belakang, aku masih punya cara lain. Aku gunakan pecahan CD sebagai kaca untuk melihat dia dibelakangku. Seperti kaca spion gitu!

Ternyata dia orang yang sering tersenyum tapi tidak sering berbicara. Seperti tipe pendengar setia. Dia orang yang ekspresif dalam mengutarakan isi pikirannya. Tak segan-segan bertanya pada guru ataupun mengungkapkan pendapatnya. Dia juga pintar dalam pelajaran bahasa Sunda, Inggris atau Indonesia. Kalau dia ngomong Sunda, nya meni Sunda pisan, ngomong Inggris kaya presenter News Flash, bahasa Indonesianya kaya pujangga yang jago pidato. Dia juga figur ketua yang baik ketika memimpin kelompoknya. Sepertinya ia orang yang begitu rajin bekerja. Waduh! Aku nggak boleh kalah.

Sudah hampir satu tahun aku menyimpan perasaan ini yang terus bergejolak di dadaku. Ingin sekali rasanya, cinta ini berbalas. Ingin sekali kukatakan padanya. Aku harus memberi tahu Rinanti. Aku berencana menembak dia! Aku tidak tahan menahan rasa yang meledak-ledak ini.

Aku meminta bantuan teman perempuanku Sally untuk mengajaknya keluar kelas agar aku bisa leluasa bicara dengannya. Somehow, entah bagaimana sepertinya ia tahu akan ada hal yang tak biasa yang akan terjadi bila ia keluar dan mengikuti perkataan Sally. Sepertinya teman-teman perempuannya yang lebih dekat dengannya ketimbang Sally sedang memberi aba-aba. Entah apa maksud aba-aba itu, yang jelas Rinanti tak kunjung keluar kelas. Aku tak sabar.

Aku memberanikan diriku. Aku menyuruh teman-temanku keluar kelas. Aku berdiri di pintu dan berkata, “Yang lain bisa keluar dulu ngga?”

Semua orang menuruti perkataanku dan meninggalkan kami berdua di kelas seakan memang tahu apa yang akan kulakukan.

Aku mengawali pembicaraan, “Maaf ya kalau caranya kaya gini.”

“Ya,” Rinanti mengangguk.

“Aku udah satu taun suka sama kamu. Kamu mau ngga jadi cewe aku?”

“Mmm… gimana yah. Tapi aku suka sama cowo lain.”

“Oh gitu yah.. Tapi kita tetep temen kan?”

“Ya.”

Aku keluar kelas dan meninggalkannya. Rasanya lega. Rasanya sakit. Perih. Pedih. Seperti teriris-iris. Sedih. Kecewa. Tidakkah dia memikirkan sedikitpun tentang perasaanku yang menyukainya selama setahun lamanya? Dari raut wajahnya, dia tak peduli. Benar-benar tak peduli. Apa sih yang salah pada diri ini? Apa salahku hingga ditolak seperti ini? Apakah dia tahu bahwa setahun ini yang kupikirkan hanya dia seorang. Hanya dia. Kubuat puisi-puisi untuknya. Tidakkah ia ingin membacanya?  Kubuat lagu cinta untuknya. Tidakkah ia ingin mendengarnya?

Setelah kejadian itu, ada jurang diantara kami. Ia tak berani menyapaku. Aku pun merasa canggung di depannya.

Tak sedikitpun bayangan Rinanti hilang dari benak ini. Malah semakin menjadi. Bila aku bertanya padanya untuk menjadi pacarnya setelah tahu besarnya cintaku padanya, akankah ia menerimaku? Ingin kutunjukkan padanya puisi dan lagu yang tercipta dari rasa cintaku. Mungkin hatinya akan meluruh. Meski jurang diantara kami kian jauh, tapi aku takkan menyerah. Aku akan coba lagi.

Tiga bulan berselang setelah usahaku yang pertama. Aku mencoba lagi dengan mempersembahkannya sebuah lagu tentang dirinya. Aku menghampiri Rinanti di bangkunya yang dikelilingi teman-temannya dan mulai bernyanyi sambil memainkan gitarku. Teman-teman sekelasku bersorak sorai dan bertepuk tangan mengikuti irama indah lagu ciptaanku. Setelah menyanyikan lagu, langsung ku bertanya, “Maukah  engkau menjadi pacarku? Tolong terima cinta tulus ini.”

Teman-temanku bersorak lebih kencang. Ada yang meneriakkan ‘terima’, tetapi ada pula yang berteriak ‘tolak’. Aku tak ingat dan tak peduli siapa yang berteriak apa. Aku hanya butuh suara yang keluar dari mulut Rinanti yang mungil. Aku butuh jawabannya. Dia terlihat menimbang-nimbang.

“Rin, gimana?” tanyaku.

“Mmm… gimana ya?”

“Jawab ya, plis”

“Mmm… kayanya ga bisa deh.”

“Tetep ga bisa ya…”

“Maaf aku ga punya perasaan khusus ke kamu.”

“Mmm.. ya udah.”

Aku beranjak dari kerumunan. Yah… ditolak lagi. Padahalkan aku udah nyanyiin lagu romantis tentang dia. Apa ada yang salah dari aku? Apa fisikku begitu tak serasi dengannya? Apa otakku, atau perilakuku? Penolakan yang kedua ini lebih menyakitkan daripada yang pertama. Akulah pria yang ditolak. Wanita tak menyukai aku. Apa aku begitu buruk. Aku merasa kehilangan semua yang miliki. Aku bukan siapa-siapa. Aku bukan apa-apa. Aku lelaki yang ditolak. Aku kehilangan kepercayaan diriku.

Sejam kemudian. Aku pulang. Di jalan pulang aku melihatnya. Kali ini ia tersenyum padaku lalu meninggalkanku. Aku senang. Aku bahagia. Aku sampai lupa kalau sebenarnya baru saja ditolak olehnya. Kenapa bisa begitu ya? Aneh sekali Apa ada denganku? Dia menyakitiku. Aku sakit. Aku sembuh secepat itu. Dia yang menyebuhkanku. Aneh.

“Kemarin seneng-seneng aja, kok sekarang semerawut gitu ntu muka? Aaa… Lagi atit ati ya… Kacian adikku… Sayang, kenapa ditolak? Cewe tuh ngga cuma satu, banyak tau,” kakakku ingin menghiburku.

“Tapi dia yang aku suka.”

“Tapi dia ga suka sama kamu. Hargain dong perasaannya.”

“Tapi bisa kan jadi suka?”

“Bisa, kalau kamu bisa meluruhkan hatinya dan membuatnya terpesona, euleuh ikutan jadi puitis aku.”

“Ya.. ya.. ya..” Aku mengangguk dan berpikir untuk mencari cara membuatnya suka padaku.

“Memangnya harus cewe itu ya, ngga bisa diganti?”

“Ngga.”

“Tak tergantikan? Sespesial itukah?”

“Ya?”

“Sespesial apa?”

“Ada aja. Nanti kalau aku berhasil mendapatkan hatinya, aku kasi tau kakak, ya, kakakku yang cantik.”

“Okeh deh, adikku yang guanteng. Semangat! Berusaha lagi! Ayo!”

“Pasti!”

Kakakku baik kan? Menemaniku di waktu sedih. Mungkin kalau aku menemani Rinanti di waktu sedih, aku bisa merebut hatinya.

“Ka.. apa yang harus kulakukan?”

“Euleuh meni baku. Gini kaka kasi tau rahasianya, tapi kudu ngamodal euy! Kamu harus ngasi perhatian ekstra sampe dua bulan kedepan. Tiap hari ngga boleh absen sms ato nelpon. Tapi jangan sampe ngeganggu jadwal dia. Kalo sms, isinya perhatian. Misalnya tiga kali sehari kalo lagi libur. Sms pagi isinya: Udah makan? Jaga kondisi badan ya! Sms siang isinya: Udah solat? Kalo belum solat dulu. Sms malem isinya: Met bobo! Udah minum susu? Berdoa dulu sebelum tidur biar mimpi indah! Jangan lupa sertakan tulisan ‘Ga di bales juga gapapa’. Kalo dia sendirian di skul temenin. Kalo mukanya cemberut or BT, pulang sekolah telepon dia n bantu masalahnya. Usahakan kamulah yang bikin dia bahagia lagi. Kalo persoalannya rumit banget, kamu curhat ama orang lain ato buka-buka buku trus cari solusinya buat dia. Kalo udah selesei dua bulan nih kegiatan ini berlangsung, putusin hubungan ama dia. Tunggu ampe dia punya rasa kehilangan kamu. Rindu gitu. Kalo ada tanda-tanda rindu, tembak aja!”

“Oh gitu yah, selamat yah!” aku menanggapi dengan gaya bicara lempeng penyiar radio yang pura-pura mendengar tapi tak begitu niat mendengarkan.

“Edan, budak ieu ngajak gelut. Dibabuk sia ku aing!” kakaku memukuliku.

“Aduh!! Iya atuh teteh. Ampun. Makasih abisss!”

“90% berhasil kalo kamu disiplin n sabar n dia ga lagi jatuh cinta. Ga ada saingan kan lo? Kalopun ada kamu sebenarnya cuma bersaing ama hatinya, bukan ama saingan lo!”

“Sip! Sip!” kataku dengan semangat pejuang ‘45.

Aku bisa pasti bisa. Akan kuraih cintanya. Akan kubuat dia bahagia. Aku akan menjadi sumber kebahagiaanya. Aku dengan cinta sejatiku ini akan membahagiakan Rinanti.

Tapi kenapa aku menyukai Rinanti? Akupun tak mengerti. Yang terpenting adalah rasa cintaku padanya yang membuatku lebih hidup dan aku ingin ia merasa sebahagia aku atau bahkan lebih bahagia.

Aku telah merencanakan semuanya. Rapi dan disiplin. Aku menjadwal semuanya. Aku menyiapkan agenda harian agar tak ada yang terlewat atau meleset. Akupun akan menuliskan reaksi dari Rinanti. Grafik perkembangan hubunganku dengannya pun akan kubuat.

Hari pertama adalah hari Sabtu, maka aku mengirimkan sms berisi perhatian tiga kali sehari (kaya minum obat ya? Moga-moga aku adalah obat yang menyembuhkan rasa sepinya ya!). Begitupun Minggu. Setiap hari sekolah aku pulang setelah ia pulang. Kalau ia menunggu les, aku mengajaknya ngobrol hingga tiba waktunya ia pergi. Ia bertanya mengapa aku tak langsung pulang. Kujawab aku menunggu karena aku tak pegang kunci rumah dan tak ada orang dirumah. Aku harus menunggu kakakku atau ayahku pulang. Saat raut wajahnya terlihat sedih di sekolah, sepulang sekolah aku meneleponnya hingga ia tertawa dan kembali bahagia.

Dua bulan pun berlalu. Aku pun berhenti memberi perhatian selama sepuluh hari berharap dialah yang akan meneleponku atau mengirim sms padaku.

Ternyata tak ada sms ataupun telepon darinya. Aku tak berhenti berharap karena mungkin saja ia malu mengakui perasaanya padaku karena telah menolak cintaku dua kali, atau batinnya tersiksa karena rindu dan memikirkan aku terus-menerus.

Berlalulah sudah sepuluh hari tanpa kontak dengannya. Yang ada malah aku yang rindu! Ya, tinggal menanyakan pertanyaan yang sama untuk ketiga kalinya. Kali ini aku akan memberinya puisi-puisi terindah yang bisa kubuat dengan kata-kata yang seanggun dirinya. Kuberikan padanya kertas-kertas puisi karyaku dan memintanya membacanya.

Keesokkan harinya sepulang sekolah, aku menghampirinya dan bertanya, “Apa Kau merasa ada yang hilang akhir-akhir ini?”

“Mmm…” ia mulai berpikir dan wajahnya agak tegang.

“Apa kau jadi memikirkanku terus menerus?”

“Mmm…” wajahnya mulai memerah. Aku pun tersenyum dan tertawa melihat wajah malunya.

“Apa kau rindu padaku?” tanyaku lagi.

“Mmm…” wajahnya semakin meras. Ia melanjutkan, “Apa harus kujawab?”

“Ga usah, udah keliatan ko dari muka kamu,” jawabku seiring dengan bangganya hatiku yang berhasil menaklukkan hatinya. Langsung kutanya, “Maukah kau menjadi pacarku wahai kau pujaan hatiku?”

Mukanya yang malu-malu berubah menjadi wajah yang kaget. Seluruh tubuhnya menjadi kaku, tak sesantai sebelumnya. Ia pun menjawab, “Maaf. Aku ga akan jadi pacar kamu.”

“Kenapa? Aku tau kamu punya perasaan khusus sama aku. Aku tau kamu suka sama aku. Kenapa ga mau? Kenapa?” tanyaku penasaran.

“Aku ngerasa kamu belum bisa mimpin aku.”

“Ohh.. maksud kamu nilai-nilai aku lebih jelek dari kamu?” aku berkata dengan nada agak tinggi dan memalingkan mukaku.

“Jangan kesel gitu dong! Aku nggak enak nih,”

“Kalo gitu jadi pacar aku!”

“Bertemen aja.”

Aku meninggalkannya sendiri dan berlari menjauh.

“Putra, tunggu! Kenapa sih harus pacaran?”

Aku tak menjawabnya.

“Kamu sih maksa banget! Maksa itu dilarang keras! Kalo cinta kamu memang sejati, kamu ga akan terlalu berharap dia jadi milik kamu, tapi kamu lebih ngutamain kebahagiaannya,” kata kakakku menasehatiku.

Ya, mungkin memang cintaku memang masih level rendah. Aku terlalu ngotot menjadikannya pacarku.

Dua hari setelah kejadian itu adalah hari pembagian rapor. Rinanti mendapat ranking ke-2, sedangkan aku ke-9. Apa sebegitu pentingkah nilai untuknya?

Sejak saat itu aku tak berhubungan dengannya lagi, apalagi ketika kelas 3 SMP aku tidak sekelas dengannya. Bila berpapasan, aku akan menghindar atau pura-pura tak melihat. Begitulah perjuangan cintaku di SMP.

Tak disangka kami, aku dan Rinanti, masuk ke SMA yang sama. Kelas satu SMA sama dengan kelas tiga SMP, tanpa komunikasi sama sekali meski sebenarnya aku masih sering memikirkannya walau ingin hati ini berhenti tapi tak sanggup.

Kelas dua SMA entah apa yang Tuhan rencanakan untuk aku, aku sekelas dengan Rinanti. Dia mengenakan jilbab. Aku jadi ingat perkataannya tanggal 19 Juni 2003. Dia berkata kalau aku belum bisa menjadi pemimpin baginya. Ya… mungkin yang dia butuhkan adalah pemimpin, bukan pacar.

Di dalam hatiku, tetap ada dia. Melihatnya berjilbab, aku jadi berpikir. Mungkin ini memang saatnya aku berubah. Saatnya berbenah diri. Menata diri dengan menambah ilmu agar menjadi manusia yang lebih baik, mengurangi kelemahan yang kumiliki dan menambah kelebihan diriku. Akupun harus terus berjuang dan belajar agar nilai-nilaiku lebih baik dari nilai-nilainya. Akupun kini belajar mencintainya lagi. Mencintai tanpa memiliki.

Aku menjadi sering mengikuti acara mentoring. Aku mengungkapkan masa laluku kepada kakak mentorku dan juga teman-temanku disana. Kakak mentorku berpendapat bahwa aku terobsesi oleh pikiran tentang dia hingga terkadang memikirkan bahkan berperilaku berlebihan sampai-sampai lupa pada Allah yang menciptakanku. Bukan cinta pula membuat wanita yang aku sayang melupakan Allah karena terlalu sering memikirkanku.

“Jadi harus bagaimana? Aku sayang dia.”

“Yakin kamu sayang sama dia? Dia bukan istrimu, ibumu, ataupun saudara sekandungmu.”

“Ya, aku sayang dia tentu di bawah orang-orang yang kakak sebutin tadi. Tapi aku pengen dia jadi istriku.”

“Aduh, masih jauh atuh Putra. Mau jadi suami? Jadi suaminya? Memang kamu ngerasa sanggup jadi pemimpin buat dia?”

“Belum sanggup”

“Ya udah. Bagus, sadar diri. Gini aja atuh. Sekarang mah, terus berjuang, bersemangat menjadi suami yang baik. Berhubungan yang wajar-wajar aja sama dia. Bertemen biasa aja. Patuhi perintah agama. Jangan melanggar.”

“Supaya ga direbut orang, caranya gimana?”

“Tunjukin karisma yang kamu punya?”

“Caranya?”

“Aa juga belum tau caranya.”

“Karisma ya?”

“Gini aja atuh, jaga hubungan pertemanan yang baik. Jadilah lelaki yang berjiwa pemimpin, misalnya di kelas jadi KM yang tanggung jawab, jadi ketua kelompok yang baik, jadi tukang adzan, eh muadzin, yang suaranya merdu. Jadi orang yang paling pinter baca suasana. Kalau suasana kelas rada butek, kamu bisa menjernihkan.”

“Contoh peristiwanya gimana, Kang? Ngga ngerti sayah!”

“Sebenernya saya juga ga tau. Tapi kamu ngerti kan intinya!”

“Iya. Mmm…”

“Naon deuih atuh Putra?”

“Kalo malah membuat banyak akhwat terpesona gimana?”

“Pede banget sih. Emang kamu mau poligami?”

“Ngga Kang, makasih. Lagian belum tentu si dia satuju. Lieur sigana mah. Teu ngarti ah anu kararitu mah.”

“Sama atuh, kita teh masih kurang ilmu. Ya udah atuh, gini aja. Kamu harus agak condong ke dia.”

“Maksudnya… ngasi perhatian lebih gitu?”

“Lebih sedikit. Jangan sampai Allah membenci perbuatan kamu okeh! Kunci mas na teh eta! Seueur seueur ngadua. Sing we dapet jodoh nu pang hadena. Ngartos.”

“Nuhun Aa.”

“Kamu teh manggil abdi meni macem-macem, aya kaka, akang, Aa, konsisten atuh!”

“Pengennya apa atuh?”

“Aa we sae.”

Dasar Aa mentor. Bodor sekali. Tapi pinter. Salut saya.

Aku mengikuti saran kakak mentorku. Aku banyak berdoa kepada yang Maha Memiliki segala sesuatu agar Rinantilah yang menjadi istriku kelak. Tapi aku juga ingat kalau hanya Allahlah yang tahu yang terbaik untuk aku. Jadi, bila Allah tak mengabulkan doaku agar Rinanti menjadi istriku, niscaya itulah yang terbaik untukku dan juga untuknya tentunya setelah aku berusaha mendapatkan posisi itu. Aku masih kelas 2 SMA, mengapa berpikir sejauh itu ya? Mengapa begitu yakin dia bisa menjadi istri yang baik untukku ya?

Aku tidak begitu dekat dengan Rinanti. Hanya ngobrol sedikit jika betul-betul ada urusan. Sikapku sewajarnya teman lelaki biasa. Kadang ada lelaki yang begitu dekat dengannya. Aku memang agak iri. Aku hanya berdoa pada Allah dan berharap masih ada sisa-sisa perasaannya padaku di hatinya.

Suatu hari aku melihat haru di wajahnya. Ia sendiri tanpa teman. Ia menangis. Tak ada yang memperhatikan atau menemaninya karena ia cepat-cepat menghapus air matanya agar tak ada yang tahu. Aku tahu. Bahkan ia mencoba tersenyum agar ia bahagia kembali dan melupakan kesedihannya. Ingin sekali aku menjadi sandaran baginya. Hari itu aku membawa gitar untuk audisi. Mungkin aku bisa menghiburnya dengan sebuah lagu.

Sepulang sekolah, aku memperhatikannya. Setelah teman-temannya berpamitan dengannya, ia diam sejenak dan memasukkan semua buku dan alat tulisnya dengan slow motion. Seperti sedang berpikir keras. Aku mendekatinya dan membuka  pembicaraan, “Rinanti memang hebat menyembunyikan kesedihan di depan temen-temen yang lain, tapi tidak dari aku. Aku mau audisi nih. Dengerin lagu ini ya.

Kalau kau pernah takut mati, sama.

Kalau kau pernah patah hati, aku juga iya.

Dan seringkali, sial datang dan pergi tanpa permisi kepadamu..

Suasana hati… Mmmm… tak peduli…

Kalau kau kejar mimpimu, salut!

Kalau kau kau ingin berhenti ingat tuk mulai lagi

Tetap semangat dan teguhkan hati di setiap hari

Sampai nanti…

Kadang memang cinta yang terbagi…

Seringkali mimpi tak terpenuhi, seringkali…

Tetap semangat dan teguhkan hati di setiap hari

Sampai nanti…

Tetap melangkah dan keraskan hati di setiap hari

Sampai nanti…

Sampai mati..

Gimana? Lagunya bagus? Ini lagunya Letto.”

Ia tersenyum. Sepertinya aku berhasil mengusir sedihnya, duh bangganya!

“Thanks ya, Putra. You’re like a sunshine after the rain,” katanya.

“Well then, kamu sudah ceria jadi aku bisa pergi. Doain aku lolos ya. Assalamualaikum,” aku mengucapkan salam perpisahan dan keluar kelas.

Aku jarang bersama dengan Rinanti. Aku pulang dengan kendaraan bermotor dan Ardi selalu ikut denganku (nebeng coy!). Mungkin hanya momen aku bernyanyi untuknyalah momen terdekat dengannya.

Pengumuman SPMB pun tiba. Aku masuk arsitektur ITB, sedangkan Rinanti ke Bahasa Inggris UPI. Aku tahu, hari ini mungkin hari terakhir pertemuanku dengan Rinanti di sekolah (mungkin!). Aku berpapasan dengannya, “Gimana berhasil?”

“Alhamdulillah, iya. Kamu sendiri?”

“Alhamdulillah iya. Kayaknya nanti kita bakal jarang ketemu ya?”

“Iya.. Kita berdoa semoga Allah memberi yang terbaik,” ucapnya.

“Amin. Semoga Allah memberi yang terbaik untuk kita berdua.”

“Aku harus pergi. Jaga diri baik-baik ya! Senang sekali bisa kenal sama Putra!”

“Aku juga senang kenal Rinanti,” ucapku.

“Assalamualaikum.”

“Waalaikumsalam,” balasku sambil melihatnya tersenyum.

Rinanti pergi. Dari ucapannya barusan sepertinya ia masih berharap padaku. Mudah-mudahan saja. Aku terus berdoa pada Allah agar menjaga cintaku dan cintanya dengan harapan kelak bisa berjodoh. Doaku pada tuhanku semakin sering terucap. Aku tetap berharap dialah jodohku.

Aku bersabar tak bertemu dengannya walau sebenarnya aku ingin sekali. Kadang aku kirim sms dan menanyakan tentang kuliahnya. Akupun mengajukan diri menjadi teman curhatnya bila dia tertimpa masalah pelik. Ternyata dia membalas mengajukan diri menjadi teman curhatku bila aku punya masalah. Dia tidak mengajukan masalah apapun padaku. Aku hanya meminta tolong tentang kado apa yang pantas untuk kakakku. Dia akan mengajakku ke toko buku atau toko busana muslim. Tentu ia bersama teman perempuannya.

Kira-kira begitulah empat tahun kuliah. Berbeda universitas membuat kami hanya bertemu lima kali setahun, tanggal ulang tahunku, ulang tahunnya, sebelum ulang tahun kakakku, setelah idul fitri dan juga suatu hari di jalan.

Setelah kuliah, tentu mencari pekerjaan. Aku, alhamdulillah, mendapat pekerjaan di perusahaan yang cukup ternama. Aku mendesain pusat pertokoan baru, apartemen atau runah susun dan juga perkantoran. Spesialis gedung tinggi gitu. Aku berteman dekat lagi dengan Ardi teman SMAku dulu, yang menjadi ahli sipil. Dialah yang menjadikan rancang bangunanku menjadi mungkin untuk menjadi nyata. Dia terkadang protes dengan rancanganku yang agak rumit.

Rinanti. Dia menjadi dosen di UPI. Dosen muda ya? Gimana engga IPK 3,78. Nilai tertinggi pula, apa sih namanya kum laude gitu? Ga tau aku cara nulisnya! Sebelumnya dia jadi asdos dulu lah… Hebat kan!

Suatu hari aku bertemu dengannya yang sedang berjalan bersama Lola, teman SMA yang sering menemani aku dan Rinanti berbelanja kado. Aku mengendarai mobilku dengan Ardi disampingku. Aku menepi dan mengajak mereka naik. Mereka pun naik. Maka, terjadilah reuni kecil-kecilan. Ardi yang memang suka bercanda alias ngebanyol atawa ngabojeg, membuat suasana jadi hidup. Semua orang tertawa di mobilku. Tiba-tiba Ardi melontarkan pertanyaan yang entah dari mana asalnya, ceuk bahasa Sunda mah teu gugur teu angin, “Rin, kalo kamu dilamar orang, pengen pake cara yang kaya gimana?”

“Yang gini nih: Cowo itu bikin pengumuman di billboard yang ada di Pasteur yang isinya ‘Will you marry me’ trus ada foto aku gitu…. Ya ngga lah masa ada orang yang mau ngelamar aku pake cara itu,” tutur Rinanti memberi jawaban sedapatnya.

Kami semua pun tertawa.

Aku sudah bekerja. Mungkin sudah saatnya aku berumah tangga. Aku masih ingin Rinanti yang menjadi istriku. Apa Allah ingin aku berumah tangga dengannya? Apa akulah yang terbaik untuknya? Apa dia yang terbaik untukku? Aku bertanya pada Tuhanku melalui shalat istiqoroh. Aku bermimpi melakukan ijab kabul dengan dia disampingku.

Bagaimana melamarnya ya? Aku jadi teringat candanya ketika ingin dilamar melalui billboard atau papan reklame yang berukuran besar berbentuk persegi panjang yang terpampang di atas jalan besar. Kebetulan pamanku adalah pengurus billboard, di Pasteur deuih, jadi bisa diskon. Aku juga mengajukan diri ke tim Katakan Cinta, jadi biayanya bisa ditekan, soalnya mahal banget masang gituan. Belum lagi nunggu iklan sebelumnya abis kontrak. Merealisasikan billboard membutuhkan waktu yang cukup lama, jadi aku bisa sambil pdkt ama ortunya.

Bagaimana caraku mengungkapkan cintaku padanya? Maksudku bagaimana caraku membuatnya yakin kalau akulah orang yang tepat untuknya? Akupun meniru apa yang kakak iparku lakukan dulu.

Aku datang kerumahnya dengan berbagai alasan. Misalnya mengembalikan buku semasa SMA yang tak sempat dikembalikan, atau apalah. Aku datang membawa makanan sebagai oleh-oleh untuk keluarganya. Sebenarnya, aku datang ke rumahnya bukan untuk bertemu Rinanti, tapi iya juga sih. Aku ingin ngobrol sama camer. Aku datang ke rumahnya sebelum Rinanti pulang, jadi aku bisa ngobrol dengan ibu atau bapaknya sambil menunggu. Tentu aku ngobrol dengan cara yang penuh kehati-hatian dan karisma agar mereka mau menerimaku sebagai menantu mereka.

Setelah beberapa kali bertemu dan pendekatan dengan orangtua Rinanti, akupun mengutarakan maksudku untuk berumah tangga dengan Rinanti. Ibu dan bapaknya mengizinkan bila Rinanti bisa bahagia denganku dan juga bila aku bisa menjadi kepala rumah tangga yang baik.

Sebenarnya aku melamar keluarganya sebelum melamar Rinanti sendiri (Kacau ya?! Aku kan PD abis kalau Rinanti mau aku nikahin). Rinanti hanya tahu aku datang ke rumahnya hanya untuk mengembalikan peninggalan-peninggalan masa lalu. Mungkin ibunya memberitahu bahwa aku sering sekali ngobrol ibu dan bapaknya.

Akhirnya tanggal 8 Januari 2013, jadi juga billboard itu. Uang yang kukeluarkan sebesar satu juta rupiah. Ngemodal banget ga tuh? Isinya adalah foto dia di sudut kanan atas (foto paling cantik dong!). Ada label nama disampingya ‘Rinanti Annisa Ayu’. Di bagian bawah fotonya, ada fotoku sedang berlutut menyodorkan cincin padanya. Tentu ada label namaku ‘Putra Rahmat Pratama’. Aku difoto dengan kostum pangeran. Di sebelah kiri, aku simpan tulisan ‘Will you marry me?’ dengan ukuran besar hingga bisa terbaca dari jarak 600 meter. Aku menggunakan font khas tulisan yang digunakan oleh kerajaan-kerajaan zaman dahulu kala. Di bawah tulisan itu, aku tuliskan ‘Menikahlah denganku, wahai permaisuri hatiku. Jadikan aku rajamu.’ dan di bawahnya lagi ada tulisan ‘Aku akan datang untukmu Sabtu, 16 Januari 2013. Info lebih lanjut hubungi Putra di 0856 222 3535’. Tulisan itu seakan merupakan isi surat pada lembaran surat kuno yang biasa digulung. Romantis abis ga tuh?

Aku meminta Lola untuk menunjukkan billboard itu padanya tanggal 9 Januari. Rinanti meneleponku, “Putra!!! Kamu ngapain?!!”

“Bukannya kamu pengen kaya gitu?”

“Hhhkk… Hhkkk…”

“Rin, kamu gapapa?”

“Cuma terharu.”

“Rinanti Annisa Ayu, Will you marry me? Menikahlah denganku wahai kau permaisuri hatiku. Jadikan aku raja bagimu, dalam istana hatimu…” aku sedikit bernyanyi untuknya.

“Hhhkk… Hhkk…”

“Will you?”

“Aku mau jawab besok boleh kan?”

“Take your time,” jawabku yang artinya aku memberinya waktu untuknya mempertimbangkan atau bertanya pada Allah SWT.

“Thanks ya, Putra,” dia menangis.

“You are welcome.”

“Assalamualaikum.”

“Walaaikumsalam”

Wah… aku membuatnya menangis. Untung tangis bahagia.

Hari berikutnya aku ke rumahnya. Kukatakan lagi padanya, “Menikahlah denganku.”

Aku mengeluarkan cincin dari sakuku dan bertanya, “Please marry me, will you?”

Rinanti terlihat begitu tertegun. Seperti ingin mengeluarkan kata-kata tapi tak kuasa untuk berucap. Akhirnya, sebuah kalimat keluar dari mulutnya, “Oh, I’d love to.”

Aku meninggalkannya setelah berkata, “Tanggal 16 aku mau bawa orang tuaku kemari. Berunding sama orang tuamu ya! Kita calling-callingan okeh! Assalamualaikum!”

Kamipun mengucapkan ikrar kami untuk berumah tangga. Alhamdulillah! Ya Allah! Gusti nu agung tararengkyu! Subhanallah! Allahu Akbar! Terimakasih mengizinkan dan meridhoi pernikahanku dengan Rinanti yang sudah dari umur 13 sampai sekarang 23 tahun menjadi ratu dalam hatiku. Terimakasih ya Allah. Segala puji untukMu! Hatiku riang gembira! Semoga keluargaku dan keluarganya juga senang dan bahagia! Aku merasakan kegembiraan yang tiada tara berupa cinta yang Allah limpahkan kepadaku karena mengabulkan keinginanku menjadi suami dari Rinanti. Ya Allah terimakasih! Aku seperti melayang di udara! Aku merasa ringan sekali! Sepertinya aku memang orang terberuntung di dunia! Terimakasih ya Allah! Kau memang Maha Pengasih dan Maha Penyayang! Aku gembira… Senang… Bahagia…

Malam pertama setelah ijab kabul, Rinanti bercerita banyak tentang masa lalu kami. Ketika SMP di menyayangkan sikapku yang keukeuh ingin pacaran. Sebenarnya,  dia tak keberatan dengan nilai-nilaiku, karena kualitas seseorang yang sebenar-benarnya hanya Allah yang tahu. Dia juga memberi tahu kalau aku memang berhasil mendapatkan hatinya hingga dia berdoa agar aku dan dia dipertemukan. Persis dengan doaku kan? Ya.. begitulah, kalau tak tahu apa yang harus diperbuat, lebih baik berdoa.

“Aku dan Lola lagi naik angkot waktu itu. Lola nunjukin billboard itu ke aku. Aku kaget banget. Ga kerasa aku ngeluarin suara yang bikin orang-orang seangkot ngeliatin aku, terus ikut ngeliat ke billboard juga. Ada yang berkata, ‘Wah.. romantis banget!’. Ada juga yang bilang, ‘Selamat ya! De, Rinanti!’. Lola juga bilang, “Kamu beruntung Rin, Putra memang pinter ngambil hati kamu! Selamat ya! Kalian berdua emang cocok. Hubungin dia Rin,” papar Rinanti menceritakan tentang billboard itu dengan gembiranya.

Aku bertanya padanya, “ Kenapa Rinanti mau nikah sama Putra?”

Mukanya memerah, “Karena Putra sangat terampil membuat Rin bahagia dan Rin yakin Putra bisa jadi pemimpin yang baik buat Rin karena Putra adalah laki-laki yang rajin memperbaiki diri.”

“Rin, seneng?”

“Seneng banget!”

“Mau punya anak berapa?”

“Keluarga Bencana, astagfirullah lidahku ngelipet! Keluarga Berencana mau?”

Empat puluh delapan tahun pun berselang. Allah mengambilnya lebih dulu sebelum memanggilku ke rahmatullah. Ya.. yang namanya usia siapa yang tahu. Kami memang sudah tua. Alhamdulillah sempat naik haji, mendirikan pondok pesantren untuk anak jalanan dan yatim piatu serta mesjid di sebelah rumah kami. Alhamdulillah rumah tangga kami penuh berkah.

Rinanti adalah bidadariku. Selalu menjadi bidadari dari ketika umurku yang ketigabelas hingga ujung usiaku. Bidadariku telah pergi lebih dulu dariku. Bidadariku adalah wanita satu-satunya di hatiku sejak umurku tiga belas tahun. Hanya dia seorang di hatiku. Satu di hati.

Aku bersyukur aku jatuh cinta pada orang yang tepat. Wanita yang menjadi sandaran hatiku. Wanita tempatku berlabuh. Wanita yang keberadaannya membawa kedamaian dan ketiadaanya membawa kenangan terindah.

Bidadariku telah pergi. Jauh. Tak bisa kujangkau. Tapi aku yakin, aku akan bertemu denganmu lagi. Bidadariku, kau akan selalu hidup dalam hatiku. Tatapan mata penuh cinta milikmu akan selalu ada di dalam jiwaku. Terima kasih telah menitipkan dua pasang mata indah yang sama cantiknya dengan milikmu. Aku masih bisa melihat mata indahmu pada kedua anak kita. Salah satu cucumu pun yang baru lahir memiliki matamu. Tidakkah kau ingin melihatnya bidadariku?

Semoga pembaca mendapat hikmah dari apa yang sudah dibaca

Amin

Susan 2007

Minta saran dan kritiknya ya…

11 thoughts on “Cerita Pendek Tentang Cinta 3 “Satu di Hati”

  1. Alhamdulillah…sangat bersyukur bisa membaca karya ini…walau skitar 2007 silam..tp tetap keren tuk dibaca…I like it..smoga terus berkarya dan sukses untuk anda mbak/teh Susan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s